Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."

Senin, 06 Juli 2009

Tiga Misteri

Entah apa yang ada dalam pikiran saya malam ini. Setelah sadar tidak merasa ngantuk lantaran tidak bisa tidur hingga dini hari, saya ingin menggambar saja. Namun karena sedang tidak ada pensil, saya putuskan untuk menyalakan komputer, lalu menulis. Ya, menulis apa saja, meskipun hingga saat mengetikkan kata-kata ini saya belum tahu topik apa yang ingin saya bahas.

Well, topik yang akan saya angkat kali ini tidak terlalu berat dan serius seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya. Saya akan bercerita mengenai tiga misteri yang selama ini memenuhi benak pikiran saya.

Jika ada orang yang bertanya kepada saya tentang hal-hal yang paling menjadi misteri hidup manusia, saya akan menjawab misteri yang pertama
itu adalah ”Tuhan”.

Mengapa "Tuhan"?


Di saat banyak orang lain memuja dan meminta perlindungan kepada Tuhannya ─terlepas dari agama atau sekte apapun─, saya justru dibingungkan oleh keabsahan zat yang diberi nama "Tuhan" itu sendiri. Barangkali agak terdengar angkuh, tetapi inilah saya. Paling tidak, saya masih termasuk dalam golongan manusia ”Pe
mercaya Tuhan”.

Sedari kecil, seringkali saya bertanya kepada orang tua dan guru agama saya, ”Apa tujuan Tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini? Toh, bila Tuhan tidak menciptakan ini semua, Ia tidak akan merugi ataupun mendapat keuntungan yang berarti. Mengapa Ia menciptakan semua ini dalam waktu tujuh
hari? Bukankah akan lebih menakjubkan apabila Ia dapat menyelesaikan proyek-Nya hanya dalam waktu tiga hari atau bahkan satu hari saja?”

Bisa jadi orang-orang dewasa pada saat itu menganggap saya sebagai anak usia 6 tahun yang aneh, cerewet, dan keras kepala. Terlebih, dari sekian banyak siswa-siswi di sekolah saya pada waktu itu, hanya saya yang menanyakan hal-ha
l tadi yang umumnya tidak terlintas dalam pikiran anak kecil pada umumnya.

Lalu orang-orang dewasa tersebut hanya menjawab, ”Itu semua adalah rahasia Tuhan. Sesungguh-Nya Ia lebih mengetahui dari apa yang
kita (manusia) ketahui.”

Ketika itu sebagai anak berusia 6 tahun, tentu saya tidak merasa puas dengan jawaban tadi. Bahkan, hingga saat ini pun, di usia saya yang telah menginjak 17 tahun, jawaban yang saya dengar dari semua orang masih tetap sama dengan jawaban yang saya dengar ketika dulu berusia 6 tahun. Saya tidak mengerti, sepertinya semua orang merasa takut untuk sekedar mereka-reka jalan pikiran Tuhan. Seolah-olah akal pikiran mereka dimatikan oleh doktrin-doktrin agama tentang kerahasiaan Tuhan yang begitu mandarah daging. Seolah-olah mereka enggan menggunakan logika dan nalar berpikirnya untuk minimal mengetahui asal usul jagad raya ini. Paling tidak, bagi mereka yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan selalu memandang seg
ala sesuatunya secara empiris.

Perlu saudara ketahui, meskipun hal tentang Tuhan tadi masih menjadi misteri paling besar dalam hidup saya sekarang ini ─dan barangkali hingga saya mati kelak─, saya akan tetap memercayai keberadaan Tuhan.

Saya lanj
utkan pada misteri yang ke-2, yaitu ”cinta”.


Bagi yang sudah membaca postingan saya di entri sebelumnya berjudul ”Cinta dalam Opini” tertanggal 24 Juni 2009, mungkin sudah sedikit tahu tentang pencitraan cinta di mata saya. Bagi yang belum membaca, karena saya tidak mau lagi capek-capek menulis panjang lebar mengenai definisi cinta, saudara bisa membaca entri ”Cinta dalam Opini” tersebut. Harap maklum, saya agak ─bahkan mungkin sangat─ pemalas. (-_-)"

Baiklah, saya akan membahas misteri ke-3, yakni mengenai makhluk luar angkasa, atau yang pada umumnya disebut alien.

Sebagian orang mungkin menganggap hal ini lucu; seorang (calon) mahasiswa berusia 17 tahun sangat penasaran memikirkan hal-hal seperti alien, UFO, dan sebagainya. Tapi tak apalah, toh ini tulisan saya, dunia pemikiran saya... peduli
setan orang lain mau berkomentar apa.

Waktu SMP saya pernah membaca buku berjudul ”Misteri UFO”. Saya mendapatkan buku itu dari sebuah kios buku loakan. Tak ada alasan khusus, mengapa saat itu saya amat tertarik untuk membelinya... yang jelas, saya membeli buku itu karena harganya relatif murah, kalau tidak salah hanya Rp 10.000,00.


Buku loakan setebal 300-an halaman itu berisi tentang berbagai kisah penampakan UFO dan pengalaman-pengalaman orang yang pernah berinteraksi dengan alien, seperti Reka Ulang Ro
swell, Area 51, dan penampakan UFO di tengah pasukan udara Nazi Jerman saat Perang Dunia II. Entah, itu kisah nyata atau sekedar sensasi yang dibuat-buat. Jujur, hingga saat ini pun saya masih setengah percaya dengan kisah-kisah alien itu. Kalau memang itu hanya cerita yang dibuat-buat, biarlah cerita-cerita itu menjadi bagian dari alam imajinasi saya. Saya tidak akan merasa dibodohi oleh siapapun.

Cukup sekian entri saya kali ini. Yah, karena ini misteri... jadi saya tidak banyak mengetahui fakta tentang keberadaannya. Wajarlah jika kali ini saya tidak bercerita secara panjang lebar dan mendetail... hanya bercerita santai. Pada saat menulis kalimat penutup ini pun saya masih belum yakin tulisan ini layak untuk dibaca publik atau tidak.


Bekasi, 6 Juli 2009
Dewobroto Adhiwignyo

Rabu, 24 Juni 2009

Cinta dalam Opini

Ketika ada seorang teman yang bertanya soal urusan cinta, saya hanya bisa dan hanya mau menjawab, ”Tampaknya cinta adalah sesuatu yang tabu bagi saya dan untuk saat ini saya tidak mau kehidupan saya mempengaruhi atau dipengaruhi oleh hal-hal tabu seperti cinta.”

Terus terang, selama ini saya selalu mencoba menjauh dan menahan diri untuk tidak terjebak dalam suatu komplikasi cinta yang melibatkan hasrat dan perasaan. Meskipun harus saya akui, sebagai manusia biasa, apa lagi yang sedang berada dalam t
ahap usia remaja dan masa pubertas, kehidupan saya tidak terlepas dari permainan cinta dan perasaan. Dalam hal ini, saya membahas cinta dalam konteks cinta kepada lawan jenis.

Cinta juga biasa dianggap sebagai naluri alami manusia yang oleh kebanyakan orang diartikan sebagai bentuk implementasi kasih sayang, baik kasih say
ang orang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya, atau kasih sayang seseorang kepada lawan jenisnya. Namun, untuk poin yang ketiga tadi saya tidak terlalu yakin hal itu selalu berujung pada kebahagiaan, karena hal itu juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang.

Selama 17 tahun, saya mendapati tertarik pada beberapa teman perempuan saya, meskipun dalam beberapa rasa ketertarikan itu seringkali saya tidak sempat
atau tidak berani menyatakan perasaan saya. Pada akhirnya hubungan saya dengan mereka tadi selalu berakhir dengan suatu ketidakjelasan emosional yang disebabkan oleh banyak hal, mulai dari sekedar masalah gengsi untuk kembali berhubungan, hingga persoalan di mana ia mendapati teman laki-laki baru yang menurutnya lebih pantas ketimbang saya.

Pada usia remaja seperti sekarang ini, tidak sedikit pula teman-teman sebaya di sekitar saya yang menanggapi urusan cinta dengan sikap opurtunisme. Ya, seorang opurtunis sejati akan melakukan segala cara demi meraih mimpi dan tujuannya, termasuk dalam meraih simpatik lawan jenis yang memikat hatinya. Bisa dibilang, seorang opurtunis ialah orang yang sangat egois, tidak memiliki hati dan nurani.

Tidak! saya bukan orang seperti mereka!! Lalu mengapa mereka masih saja mau dan rela meluangkan waktunya hanya untuk membicarakan urusan cinta (anak remaja)?

Dalam klimaks suasana kejenuhan sekarang ini, saya mulai berpikir, kandungan apa saja yang terdapat dalam perasaan cinta (kepada lawan jenis)? Menga
pa saya bisa sampai menaruh hati pada seorang perempuan yang bahkan ia belum tentu mengacuhkan keberadaan saya?

Pertanyaan seputar cinta yang selama ini memenuhi benak dan memusingkan kepala ini akhirnya terjawab setelah saya menemukan suatu kesimpulan bahwa: cinta seseorang terhadap lawan jenisnya tidak ada yang murni 100% berdasarkan kasih sayang. Ya, karena pada hakikatnya kita adalah manusia yang terlahir dengan hawa nafsu, termasuk hawa nafsu dalam urusan cinta. Intinya, saya mendefinisikan cinta pada lawan jenis sebagai suatu hal yang tercipta oleh dua unsur; kasih sayang dan nafsu. Itulah alasannya, mengapa cinta orang tua kepada anaknya, atau cinta seorang kakak kepada adiknya berbeda dengan cinta seseorang kepada lawan jenisnya. Jawabannya jelas, karena cinta seseorang pada lawan jenisnya selain mengandung kasih sayang, juga mengandung unsur nafsu, baik itu nafsu yang melibatkan birahi/nafsu seks, nafsu untuk memiliki, atau nafsu-nafsu lainnya yang berada di luar konteks kasih sayang.

Suatu kali, saya pernah membaca buku di mana dalam buku tersebut ada seorang pria lajang yang berpendapat, ”Jika aku benar-benar mencintai istriku kelak sepenuhnya dengan kasih sayang, aku tidak akan rela meminta kehormatannya untuk ia berikan padaku. Paling jauh, aku hanya akan mencium dan memeluk erat-erat istriku tercinta kelak.” Sedikit orang
termasuk saya yakin bahwa itulah yang dinamakan cinta sejati.

Saya rasa, pendapat orang itu ada benarnya juga, namun pastinya akan menggelitik pikiran setiap orang yang mendengarnya, termasuk saya. Saya yakin, kebanyakan orang akan merespon pendapat itu dengan sanggahan yang kurang lebih berbunyi seperti ini: ”Bagaimana mungkin pria itu tidak rela meminta kehormatan dari istrinya? Sedangkan tujuan seseorang untuk menikah adalah untuk punya anak dan melanjutkan keturunan, memperoleh kebahagiaan, serta menikah untuk memenuhi hasrat seksual masing-masing individu, baik suami maupun istri.”

Lagi-lagi, respon sanggahan dari pendapat pria lajang itu membuat saya menarik kesimpulan yang sama dengan pendapat saya sebelumnya bahwa cinta seseorang pada lawan jenisnya tidak akan luput dari hawa nafsu. Sejalan dengan prinsip dasar dan tujuan-tujuan yang mendorong seseorang untuk menikah seperti yang terpapar di atas.

Suatu waktu, saya pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Ia berusia sekitar 2 tahun lebih tua dari saya. Saat itu, hampir di setiap akhir pekan
setiap sore saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, sekedar untuk mengobrol, juga bertemu dengan kakak-kakak dan orang tuanya. Saya juga sering mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang menurut kami berdua menarik; meskipun cuma naik kendaraan umum, karena saya tidak punya kendaraan. Sedikitpun saya tidak berani dan tidak mau untuk 'mengapa-apakan' dia, karena saya menghormati perempuan itu sebagai pacar saya. Untuk menyentuh tangannya pun saya pikir-pikir dulu, apakah benar-benar perlu atau tidak. Dari rumahnya, saya selalu pulang tidak lebih dari pukul 21.00... tidak enak dengan keluarganya kalau bertamu terlalu larut. Setiap pamit pulang, saya selalu berkata bahwa saya sangat mencintai dan menyayanginya, dan tiap kali saya mengatakan itu, saya yakin bahwa cinta yang saya berikan kepadanya ialah setulus-tulusnya cinta, begitu pula dengan perasaan dia terhadap saya.

Meskipun saya sudah cukup lama mengenal dia, hubungan saya dengan perempuan itu tidak berlangsung lama; tidak sampai enam bulan malah. Ya, semuanya berakhir dengan sia-sia belaka; tanpa ujung penyelesaian yang jelas. Ketika itu saya diliputi oleh kesedihan yang begitu mendalam. Bagaimana tidak? Di saat saya mulai mempelajari cara memahami orang lain, seolah-oleh tidak ada seorang pun yang dapat mengerti perasaan saya.

Sekarang yang tersisa dalam hati saya hanya kebencian mendalam pada perempuan itu. Sejak saat itu titik awal kekecewaan saya terhadap cinta dimulai. Hal inilah yang saya maksud pada kalimat sebelumnya, bahwa cinta juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang
membekas selamanya dan tidak akan hilang.

Kembali ke topik utama. Unsur nafsu pasti selalu ada dalam perasaan cinta. Pada akhirnya kita sampai pada satu titik temu bahwa manusia hanya bisa
dan hanya diperkenankan untuk mengatur kadar kasih sayang dan nafsu lewat cinta yang ia curahkan kepada lawan jenisnya. Cinta yang tulus ialah cinta dengan kadar kasih sayang jauh lebih besar ketimbang kadar nafsunya. Tentu saja hal ini juga berkaitan erat dengan hakikat sifat dasar manusia yang terdiri atas tiga hal; akal, budi/nurani, dan nafsu.


Bekasi, 24 Juni 2009

Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Persimpangan Jati Diri

I

Bukan aku tak bersyukur ketika Engkau menghembus nafas ruhku ke dalam raga ini menuju dunia semu penuh dosa
Bukan aku tak bernafas dengan alam ketika para umat ─yang mengaku─ abdi-Mu merusak kelestariannya
Bukan aku tak berserah diri ketika Engkau memintaku sujud bersimpuh di hadapan-Mu
Bukan aku tak berkabung ketika umat ─yang mengaku─ prajurit-prajurit suci-Mu tergeletak mati di arena ”jihad”
Bukan aku tak bernurani ketika melihat cobaan-Mu datang menerpa saudara-saudaraku ─tak hanya yang beragama KTP sama denganku
Bukan aku tak bersetubuh paham dalam iman-Mu ketika Engkau memanggilku di kemudian hari


II

Jika Yahudi, Kristen, dan Islam, ketiga-tiga dari agama samawi tersebut masing-masing merasa sebagai satu-satunya yang benar daripada yang lain, maka iman manakah yang benar-benar mencintai seluruh sesamanya? Yang menganggap orang-orang di luar agamanya juga sebagai saudaranya dan saling mengasihi.

Ya, barangkali benar bila ada seorang filsuf yang pernah berkata bahwa agama adalah bagian dari ideologi hidup... tak jauh-jauh dari urusan politik dan sosialita kemasyarakatan. Sesuatu yang wajar apabila agama diartikan sebagai sarana investasi iman.

Saya bukan orang bodoh yang cuma ikut-ikutan. Saya tak mau menjadi orang saklek yang mengatasnamakan Tuhan dan agama yang ia anut hanya untuk menyatakan orang lain di luar agamanya itu tak pantas mencium aroma surga. Saya tak seperti murid-murid Masjid non-prinsipil yang cuma ikut-ikutan datang mencopot alas kaki, lalu dengan tampang lugu sok ngerti dan santun duduk manis mendengar cerita murobbi atau ustadz yang biasanya banyak dibumbui dan belum pasti benar sama dengan aturan Tuhan sebenarnya dalam kitab suci.

Yang jelas, saya tahu bahwa Tuhan itu satu dan tak dapat disekutukan. Logika membuat saya berpikir demikian... nalar pula yang menjawabnya. Lalu bagaimana dengan nasib iman?


Bekasi, 12 Juni 2009
Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 02 Januari 2009

Bosan

Aku di sini sendiri
Memugar segala asa
Belajar mengurung benci

Sendiri
Membungkam kata dusta
Tak lamat dalam hati

Paderi...
Mencuat nista?
Ataukah lagi kemanusiaan tak jadi arti?

Aku di sini sendiri
Lalu apa lagi kau lihat?

— Saban kali? —

Ah, lagi bertangkup jiwa dengan nyawa...!!


Jakarta, 20 November 2008
Dewobroto Adhiwignyo

Selama Hidup

Lihat ke sana!
Lihat ke depan!

Waktu bertampuk arogan
Tak ditanggap hidup semampai badan

Biar mulut sampai berbuih darah
Itu hari membantah-bantah...
Tahun bersimbah-simbah...
Simpai waktu melingkar patah-patah...

Begini juga adanya

Nelangsa hitam menggunung-gunung

Lihat ke sana!
Lihat ke depan!

Ketokan kayu mengabit-abit
Tambah nasib ditelan pahit-pahit
Bukan takdir harus dipasrahi
‘Lainkan hidup mesti kita uji

Pukat bentang lahir berikut api
Mirisnya umur kita bagi-bagi
Tinggal derita sesal tak berarti

Eh, durjana kubur tiba pula di alam muka...!


Jakarta, 19 November 2008
Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 19 Desember 2008

Sajak buat Clamentine

Jangan kau rongrong keladi kecil itu!
Keladi-keladi kecil
duduk bersilang badan
Atas dosa makhluk di bumi

Pernah ku damba menenggak anggur hitam
Yang sesekali tak ku paham rekahannya
Minum segelas: hingga berdansa
Minum sebotol: sampai mabuk tanpa arah

— dengan siapa? —

Clamentine;
Si gadis kecil

Sedayu ratap duka mencekam
Bikin Kumara naik pitam
Jadi seketika abu mutiara hitam
Biar binasa dalam kelam

Maaf!
Anak dara pinangan Tuan
tak mengerti soal cinta!

— Jangan paksa buat kasmaran —

Anak borjuis itu
hanya pengen belajar aljabar
Diiringi musik Mozart — “Eine Kleine Nachtmusik”
Sambil nonton tarian Waltz...


Jakarta, 27 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo

Bimbang

Malam ini begitu sendu
Tak tahu harus ku buat apa
Namun aku tenang...

Ini kantuk hilang diambil mirza
Entah ke mana ia
Tak tahu harus ku laku apa
Namun aku tentram...
Dalam temaram putih
Sesekali terbias muram

Gusar aku;
Hingga jiwa ini teriak!
Ah, raga ini pun terus bertalu...
Seakan tak mau malu
Pada cecak di dinding kamar

Oh, Tuan...
Kuncup manis itu
Memang tak tahu malu!


Jakarta, 2 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo