I
Bukan aku tak bersyukur ketika Engkau menghembus nafas ruhku ke dalam raga ini menuju dunia semu penuh dosa
Bukan aku tak bernafas dengan alam ketika para umat ─yang mengaku─ abdi-Mu merusak kelestariannya
Bukan aku tak berserah diri ketika Engkau memintaku sujud bersimpuh di hadapan-Mu
Bukan aku tak berkabung ketika umat ─yang mengaku─ prajurit-prajurit suci-Mu tergeletak mati di arena ”jihad”
Bukan aku tak bernurani ketika melihat cobaan-Mu datang menerpa saudara-saudaraku ─tak hanya yang beragama KTP sama denganku
Bukan aku tak bersetubuh paham dalam iman-Mu ketika Engkau memanggilku di kemudian hari

II
Jika Yahudi, Kristen, dan Islam, ketiga-tiga dari agama samawi tersebut masing-masing merasa sebagai satu-satunya yang benar daripada yang lain, maka iman manakah yang benar-benar mencintai seluruh sesamanya? Yang menganggap orang-orang di luar agamanya juga sebagai saudaranya dan saling mengasihi.
Ya, barangkali benar bila ada seorang filsuf yang pernah berkata bahwa agama adalah bagian dari ideologi hidup... tak jauh-jauh dari urusan politik dan sosialita kemasyarakatan. Sesuatu yang wajar apabila agama diartikan sebagai sarana investasi iman.
Saya bukan orang bodoh yang cuma ikut-ikutan. Saya tak mau menjadi orang saklek yang mengatasnamakan Tuhan dan agama yang ia anut hanya untuk menyatakan orang lain di luar agamanya itu tak pantas mencium aroma surga. Saya tak seperti murid-murid Masjid non-prinsipil yang cuma ikut-ikutan datang mencopot alas kaki, lalu dengan tampang lugu sok ngerti dan santun duduk manis mendengar cerita murobbi atau ustadz yang biasanya banyak dibumbui dan belum pasti benar sama dengan aturan Tuhan sebenarnya dalam kitab suci.
Yang jelas, saya tahu bahwa Tuhan itu satu dan tak dapat disekutukan. Logika membuat saya berpikir demikian... nalar pula yang menjawabnya. Lalu bagaimana dengan nasib iman?
Bekasi, 12 Juni 2009
Dewobroto Adhiwignyo
3 komentar:
Hahahahahahahahah,,,
Yg lw tulis bener2 sama persis ma apa yg ada di otak guw selama 3 tahun terakhir,,,
Klo lw perhatikan, guw salah satu org yg paling bisa mentolerir perbedaan agama khan?
Soalnya guw merasa perbedaan agama bukanlah sesuatu yg membuat kita menjadi tidak bisa mengasihi org dr agama lain,,,
Guw bukan org2 saklek mawpun org2 sok suci,,, guw hanyalah bocah yg melihat dan menilai dunia dengan mata dan lodika guw sendiri,,,
Yah, guw setuju wo,,,
Tuhan itu satu, karna nalar guw bilang kaya gitu n logika meng-iy-kan,,,
*sorry kepanjangan,,, guw suka soalnya,,, :P
quran surat al kafirun
selama ini gw berpegang sm surat itu dalam hal toleransi sm agama lain. dalam hal akidah gw gak bisa tolerir, kalo waktunya shalat trus pd mau jalan yaudah ntar gw nyusul tapi kalo bukan itu gw biasa aja..
perjalanan hidup masih panjang, masih bnyk wktu untuk mendewasakan diri. soalnya gw mulai dewasa ketika menginjak dunia kuliah.
Dewo anda masih muda , sebaiknya mencari jati diri yg bener-2 dapat dipertanggung-jawabkan secara horisontal ,,,terutama menyangkut iman sebagai manifestasi dalam menjalankan agama,,,tentunya dg keyakinan anda miliki untuk agama yg dianut bener-2 dicari kebenarannya kanapa ? nanti pasti ada jawaban dr hati yg nantinya logika akan jalan bersama,,,! selamat mencari,,,
salam,
us
Posting Komentar