Seorang manusia (D) sedang mengalami frustasi dan depresi tinggi karena berbagai masalah yang ia hadapi. Lalu manusia tersebut mencoba berkonsultasi dengan Oknum Penjinak Prasangka (N) di kantor Badan Penjinak Prasangka.
D : “Apakah kami (manusia) patut takut pada kematian?”
N : (sambil menuang air putih dari teko ke dalam sebuah gelas kaca) “Kematian adalah sesuatu yang bersifat netral… tidak perlu ditakuti atau disyukuri, dibenci atau dikehendaki.”
D : “Lalu bagaimana dengan kehidupan?”
N : “Nilai kehidupan sama berharganya dengan nilai kematian, karena setiap yang merasakan hidup, pasti akan merasakan mati.”
D : “Lebih kurangnya… manusia dilahirkan untuk mati? Mengapa Tuhan berlaku seperti demikian?”
N : “Begini, kau anggap saja Dia, yang kau sebut Tuhan, Yahweh, Allah, Bapa, El, dan lain sebagainya itu, tengah mengerjakan soal aljabar kehidupan, di mana untuk menyelesaikan soal tersebut Ia harus mengeliminasi siapapun/apapun guna menyederhanakan setiap variabel dalam soal tersebut. Tujuannya agar dapat menemukan hasil/definisi dari x, y,dan z untuk kemudian disubstitusikan ke dalam soal yang sejenak lalu Ia ‘obrak-abrik’ tatanannya melalui proses eliminasi. Dengan demikian, soal tersebut terjawab sudah.Tidak ada lagi kebingungan dalam x, y, dan z yang tidak terdefinisikan.”
D : “Jadi… apakah saat ini soal aljabar itu sudah terjawab?”
N : “Tentu saja belum.”
D : “Indikatornya?”
N : “Yang sejak tadi kau lakukan… masih bertanya-tanya dalam kesengsaraan pikiranmu.”
D : “Lalu kapan saat itu tiba?”
N : “Suatu hari, di mana kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa… tidak ada lagi resah dan mesra yang kau kecup… kau merasa kosong, damai, dan tentram dalam ketiadaan dan keberadaanmu.”
D : “Kapan persisnya?”
N : “Aku tidak tahu.”
D : “Bicara tentang konsep aljabar yang baru saja kau paparkan, apakah hanya sesederhana itu? Mengapa hanya terdiri dari 3 kunci… x, y, dan z?
N : “Ya, untuk ukuran manusia sepetimu dengan segala keterbatasannya. Kau bisa anggap x, y, dan z sebagai pemetaforaan dari nilai akal, budi/nurani, dan nafsu."
D : “Ah, rasanya tiga nilai itu sangat familiar di telingaku.”
N : “Bukan hanya di telingamu, namun juga di seluruh panca inderamu, seluruh organ tubuhmu, sel-sel penyusunmu, DNA dalam rantai genetikamu, seluruh bagian/elemen kehidupanmu, bahkan ruh dan jiwamu.”
D : “Tapi, aku masih belum puas dengan jawaban darimu mengenai konsep aljabar kehidupan tadi. Adakah yang lain?”
N : “Ah, kau ini… diberikan konsep yang sederhana, malah mengaku belum puas. Nanti kuberikan konsep yang rumit, otakmu kejang-kejang karena tak sanggup menerimanya.”
D : “So, is there any concept?”
N : “Baiklah, karena kau keras kepala… kau pernah lihat mobil sport dengan velg racing?”
D : “Tentu saja, bahkan aku punya satu di garasi rumahku. Merah darah warnanya, dengan plat nomorcustom ‘A 12 CH’. Produk keluaran Jerman, dengan akselerasi 0-100 km/jam hanya dalam waktu 3,8 detik! Hebat sekali bukan?
N : “Aku tidak akan membahas mobil sport punyamu, atau plat nomor aneh itu. Ada berapa jenis velg racing yang kau ketahui berdasarkan banyak palangnya/jari-jarinya?
D : “Hmm… mengapa kau justru bertanya soal velgnya?”
N : “Sudah, tidak usah banyak bertanya! Kau jawab saja pertanyaanku. Lagipula aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia otomotif.”
D : “Yang saat ini sering kulihat, velg racing untuk mobil ada yang berpalang lima, enam, tujuh, dela…”
N : “Nah, kau tahu ada velg berpalang tujuh!”
D : “Ya, lalu kenapa?”
N : “Coba kau pikir dengan logikamu sebagai manusia dan kau analisis secara matematis. Sebelumnya, aku ingin meyakinkan diriku terlebih dahulu… kau sudah tamat Sekolah Dasar kan?"
D : “Tentu saja! Kau menghinaku ya!??
N : “Tidak menghina, namun sekedar memastikan. Coba kau hitung berapa derajat besar sudut yang terdapat di antara masing-masing jari velg berpalang tujuh. Ingat, hitung dengan logikamu secara matematis!”
D : “Hmm… jika satu lingkaran itu besarnya 360 derajat, dan velg itu berpalang tujuh, maka 360 dibagi 7, hasilnya sama dengan 51,428… Ah, pokoknya hasilnya berupa angka yang tidak bisa bulat!”
N : “Jika hasilnya bukan angka bulat, bagaimana bisa setiap sudut di antara masing-masing palang tersebut bisa sama besarnya? Bagaimana membuat ketujuh sudut antar palang dalam velg berbentuk lingkaran tersebut bisa sama besar sudutnya?”
D : (terdiam)
N : “Hei, bagaimana? Kenapa kau diam saja dengan wajah seperti sedang menahan buang air besar?”
D : “Menurutmu bagaimana?”
N : “Ah, kau ini. Benar juga perkataanku tadi, kuberikan konsep yang rumit, otakmu kejang-kejang karena tak sanggup menerimanya.”
D : “Jadi bagaimana?!”
N : “Terkadang di dalam duniamu terdapat hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu dipikirkan secara logis, matematis, dan terstruktur. Layaknya membagi lingkaran dengan tujuh sudut yang berukuran sama besar, kau tahu hal itu amatlah sederhana… namun jika kau memikirkannya secara logis dan matematis, kau justru kebingungan sendiri dalam menemukan jawabannya, karena dari ketujuh sudut tersebut pasti terdapat satu sudut yang menjadi ‘tumbal’ karena berukuran tidak sama dengan keenam sudut lainnya yang sama besar. Yang jelas kau yakin dan mengerti bahwa sebuah lingkaran dapat dibagi jari-jarinya dengan tujuh sudut yang berukuran sama besar.”
D : (terdiam)
N : “Bagaimana?”
D : “Tadi kau berkata bahwa yang jelas aku yakin dan mengerti bahwa sebuah lingkaran dapat dibagi jari-jarinya dengan tujuh sudut yang berukuran sama besar. Apa kau yakin dengan pernyataanmu barusan, bahwa aku yakin dan mengerti?”
N : “Ya. Terpancar dari aura tubuh dan ekspresi di wajahmu, khususnya di pancaran matamu.”
D : (terdiam sejenak) “Perlu kugarisbawahi dua kata dalam pernyataanmu tadi, yakni kata ‘yakin’ dan ‘mengerti’. Kebanyakan orang yang kutemui, hanya bermodalkan kata ‘yakin’ dalam setiap perbuatannya yang berkaitan dengan kuasa Ilahi, namun mereka cenderung tidak acuh pada kata ‘mengerti’ dalam konsep berpikirnya. Jadi, mana yang lebih penting, yakin atau mengerti?”
N : “Keduanya sama penting.”
D : “Runutannya? Dapatkah kau jelaskan secara terperinci?”
N : “Apakah kau yakin dirimu adalah manusia?”
D : “Tentu saja.”
N : “Bagaimana kau bisa yakin bahwa dirimu adalah manusia? Apa hanya karena dirimu sebagai individu itu memiliki ciri fisiologi yang sama seperti 6 milyar penduduk bumi lain yang juga mengakui dirinya sebagai manusia?”
D : “Lebih dari itu, aku mengerti bagaimana konsep/cara memanusiakan manusia. Sebab itu aku yakin bahwa diriku adalah manusia. Orang dengan kekurangan fisiologis seperti cacat atau menderita kelainan pun harus kuperlakukan sebagai manusia, tentunya dengan rasa kasih dan pengertian lebih ketimbang manusia normal, karena manusia-manusia seperti itu memiliki kebutuhan khusus.”
N : “Jangan bertele-tele. Jadi, apa yang membuat kau yakin bahwa dirimu layak disebut sebagai manusia?”
D : “Maaf, maaf… tadi sudah kujawab pertanyaanmu itu… adalah karena aku mengerti bagaimana konsep/cara memanusiakan manusia.”
N : “Mari kita sedikit membahas tentang sejarah. Kau tahu orang-orang seperti Adolf Hitler sang diktator Jerman atau Kaisar Nero dari Romawi?”
D : “Ya. Bagiku mereka manusia-manusia yang tidak pantas disebut sebagai manusia.”
N : “Mengapa?”
D : “Karena mereka meyakini keberadaan dirinya sebagai manusia dan yakin dengan eksistensi manusia di bumi ini, namun tidak mengerti konsep/cara memanusiakan manusia.”
N : “Nah, jadi bagaimana mungkin kau yakin akan keberadaan dan eksistensi Tuhan tanpa mengerti konsep/cara Menuhankan Tuhan?”
D : (terdiam)
N : “Orang yang hanya berpedoman pada kata ‘yakin’ tanpa mengindahkan kata 'mengerti' dalam Menuhankan Tuhan hanya berpegang pada keabsolutan semu dari Tuhan itu sendiri. Mereka hanya menggunakan perasaannya sebagai manusia dalam meyakini keberadaan Tuhan, tanpa mau menggunakan otaknya untuk mengerti mengapa mereka harus berlaku seperti demikian. Padahal, Tuhan menganugerahkan akal/pikiran kepada manusia, agar manusia selalu memiliki dasar dan prinsip dalam menentukan segala tindakan dan perbuatan, serta langkah yang akan diambilnya, termasuk untuk meyakini keberadaan dan eksistensi-Nya sendiri.”
D : “Apa kau punya contoh yang relevan mengenai kebobrokan orang-orang yang hanya berpegang pada kata ‘yakin’ namun tidak mau mencoba berpikir untuk mengerti?”
N : “Lihat saja berbagai konflik yang terjadi di negaramu itu. Tidak ada habis-habisnya konflik yang terjadi hanya karena sekelompok orang ‘yakin’ mengatasnamakan dirinya berada di jalan Tuhan sebagai satu-satunya kelompok manusia yang ‘benar’. Lihat konflik yang terjadi di Ambon, Flores, atau pembakaran tempat-tempat ibadah yang beberapa tahun lalu marak terjadi saat menjelang perayaan Hari Raya… ah, aku lupa… kau (manusia) sebut apa itu…?"
D : (terdiam sejenak) “Maksudmu… agama?”
N : “Nah, itu maksudku… Hari Raya Keagamaan. Kau juga bisa mencari tahu literatur mengenai sejarah terjadinya Perang Salib di abad ke-11.”
D : “Well….” (lalu terdiam)
N : (mengakhiri percakapan dengan meminum segelas air putih)
Dewobroto Adhiwignyo – ‘In My Opinion’
Bandung, 21 Juni 2011