Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."

Selasa, 21 Desember 2010









FARNSWORTH HOUSE
(built from 1946 to 1951)

Location: Chicago, Illinois, U.S.A.
Architect: Ludwig Mies van der Rohe

-


Maket pertama saya di bangku kuliah. :)
Kalau mengerjakan sesuatu, entah itu karya berupa maket, drawings, lukisan, musik, atau syair, saya selalu berusaha untuk se-apik mungkin... terutama untuk maket yang sangat menuntut kedetailan, kepresisian, dan kerapihan. Bahkan kalau bisa kualitas 'Made in Japan' saya jadikan sebagai acuan saya dalam hal kedetailan, kepresisian, dan kerapihan maket yang sempurna.
Nilainya cukup memuaskan, walau sebenarnya saya kurang puas karena belum sempat mengisi meubel dan furnitur dalam maket ini (akibat deadline pengumpulan).

Hanya Sepintas


"Looks beautiful like Her"

Jakarta, 8 Oktober 2008

Size: A4
Media: Pencil on Paper

-

One of my best drawings ever.

Gambar ini menyimpan banyak cerita dan kenangan bagi saya. Di tengah kesibukan ala seorang pelajar malas dengan perjuangannya yang bertekad bulat untuk bisa berkuliah di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, awalnya gambar ini saya buat sebagai hadiah ulang tahun untuk seseorang yang berada dalam gambar itu. Namun, setelah agak lama saya berpikir bahwa gambar itu adalah salah satu karya terbaik saya hingga saat ini... meskipun ketika itu (SMA kelas 3) saya hanya meniru gambar tersebut dari sebuah foto, yang notabanenya hanya mengejar kualitas realis sebuah karya drawing, dan hanya sedikit perlu untuk memikirkan konsep karya.

Gambar ini saya buat selama 3 hari 3 malam, ketika saya masih tinggal menumpang di rumah nenek saya di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saking begitu bersemangat, saya nyaris tidak tidur selama proses pembuatan gambar ini... makan pun jadi tidak teratur. Padahal ketika itu saya membuat gambar ini saat hari belajar sekolah sedang efektif. Alhasil, ketika itu saya jadi sering tertidur di kelas. Hehehe

Dan saat ini saya tidak tahu, apa gambar itu masih tersimpan dengan baik atau tidak...
Gambar ini sangat berarti bagi saya. Entah bagi "dia" berarti atau tidak.

Jumat, 03 Desember 2010

Hujan Desember

Hujan Desember baru dimulai
Membasahi bibir teratai
Bergerak-talu dalam gemulai.

Hujan Desember baru dimulai
Membasuh kering tali surai
Menerpa kenangan yang tersemai.

Hujan Desember baru dimulai
Mengikat setiap yang tercerai
Menyatu kalbu seputih renai.



Bandung, 1 Desember 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Kamis, 18 November 2010

Sebuah Puisi dari Alm. Soe Hok Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, Sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang

Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu, Sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Mari sini, Sayangku

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa,

Kita tak 'kan pernah kehilangan apa-apa


Selasa, 11 November 1969
Soe Hok Gie

Kamar

Ku pandangi sudut ruang
Semburat pejam tak lantas terang

Debu kerak sambung berabu
Mengiba lantai bersemen batu

Dinding di banyak retak
Tegak diri menyalam pundak

Ini ranjang berurat, pengap
Cumbu buta berujung lelap

Di sini lah...
Tak satu 'kan cuat kilah

Muda-mudi tak bermalu
Tua-muda jadi benalu



Bandung, 12 Agustus 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Perempuan

Jangan-jangan aku benar
Memang kau pantas jadi pelipur lara

Kau!
Perempuan!

Yang dibilang lupa kehormatan
Atau hilang tenggelam harta
Pukul rugi,
Pulang mati di sekitaran laki

Kau!
Perempuan!

Yang tak lagi aku kenal
Atau kau yang memihak lain

Mengecam duka-luka percuma
Musti raib dipingit pagi buta
Dan berpeluk kembali bukan buat janji

Cumbu di muka. Lupa
Gadis jelita. Luka

Kita yang tak pernah mesra
Yang berhutang nafsu muda

Kita yang pernah mencinta

Cuma bumi tak sudi merajut kita



Bandung, 15 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Rabu, 28 Juli 2010

Cerita Buat Si Perjaka Tua

Jika saja hujan Desember dapat mengelabui indahnya langit sore, maka perjaka tua itu tidak akan selalu merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Paling tidak ia akan masuk ke dalam kamar yang hanya berukuran 3x3 meter dan hanya satu-satunya yang terdapat di rumah peninggalan zaman Belanda itu yang dahulu dijadikan sebagai gudang kopra. Selain Si Perjaka Tua, peraduan kamar itu juga ditempati oleh ibu kandungnya yang sudah tua renta dan bekas Jugun Ianfu pada zaman Jepang dulu, serta oleh kakak-kakak dan adik-adiknya ─yang sudah beristri dan berkeluarga─ yang sesekali mengunjungi rumah mereka dan kadang-kadang menginap satu-dua malam di sana, sehingga bisa saja Si Perjaka Tua merenungi nasib dan bercerita bersama satu atau beberapa anggota keluarganya yang masih tersisa, selain ayah kandungnya yang sudah lama mati terjangkit TBC dan sipilis karena terlalu sering keluar malam dan main perempuan lacur jajanan murah Stasiun Senen.

Atau perjaka tua itu dapat saja main hujan-hujanan di tengah derasnya hujan sore dan bahagia merasakan masa kanak-kanaknya kembali yang dahulu terbuang sia-sia oleh kisutnya takdir Tuhan buat dirinya. Meskipun ia seorang fobia kilat dan gelegar petir, orang-orang terdekatnya lebih yakin kalau ia fobia dengan wanita ─lebih rinci lagi fobia dengan wanita cantik─, tapi ia juga bukan pecinta sesama jenis yang akan langsung kalap ketika masa lalunya diungkit-ungkit. Buat ia, wanita cantik (menurut standar Si Perjaka Tua) adalah makhluk yang dikirim Tuhan ke dunia untuk menambah beban mental dan pikiran setiap pria, serta merusak moral para pria baik-baik ─yang menurut Si Perjaka Tua, dirinya ialah sosok ideal seorang pria baik-baik─, karena berdasarkan beberapa pengalaman lalunya, wanita cantik hanya piaraan yang memporakporandakan tatanan kebahagiaan hidupnya dan hidup keluarganya, termasuk hidup mendiang ayah kandungnya. Kecantikan pula yang membuat hidup sang ibunda terseret ke dalam neraka
Jugun Ianfu pada masa mudanya.

Namun sore hari ini ialah sore yang lain dari biasanya. Lain buat dirinya dan lain buat cerita hidupnya. Sore ini memang ia merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya seperti biasa. Namun kali ini ia merenung seraya melontarkan sebuah tanya buat Tuhannya. Satu Tuhan yang orang-orang sembah dengan berbagai cara, satu Tuhan yang oleh orang-orang suka dimintai doa dengan berbagai cara, dan satu Tuhan yang dipuja-puji oleh orang-orang dengan berbagai cara pula. Si Perjaka Tua bertanya, “Tuhan, kapan hujan akan turun? Di sore Desember ini, ya Tuhanku...” lalu Tuhan menjawab, “Sayang sekali, Aku tidak merancang hujan Desember atau hujan di bulan apa pun yang dapat mengelabui langit sore ini... juga langit sore selanjutnya.” Demikianlah Tuhan menjawab pertanyaan Si Perjaka Tua. Hingga setiap sore ia terus merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Rumah tua keluarganya. Sampai ia mati.


Bandung, 2 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo