Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."

Rabu, 28 Juli 2010

Cerita Buat Si Perjaka Tua

Jika saja hujan Desember dapat mengelabui indahnya langit sore, maka perjaka tua itu tidak akan selalu merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Paling tidak ia akan masuk ke dalam kamar yang hanya berukuran 3x3 meter dan hanya satu-satunya yang terdapat di rumah peninggalan zaman Belanda itu yang dahulu dijadikan sebagai gudang kopra. Selain Si Perjaka Tua, peraduan kamar itu juga ditempati oleh ibu kandungnya yang sudah tua renta dan bekas Jugun Ianfu pada zaman Jepang dulu, serta oleh kakak-kakak dan adik-adiknya ─yang sudah beristri dan berkeluarga─ yang sesekali mengunjungi rumah mereka dan kadang-kadang menginap satu-dua malam di sana, sehingga bisa saja Si Perjaka Tua merenungi nasib dan bercerita bersama satu atau beberapa anggota keluarganya yang masih tersisa, selain ayah kandungnya yang sudah lama mati terjangkit TBC dan sipilis karena terlalu sering keluar malam dan main perempuan lacur jajanan murah Stasiun Senen.

Atau perjaka tua itu dapat saja main hujan-hujanan di tengah derasnya hujan sore dan bahagia merasakan masa kanak-kanaknya kembali yang dahulu terbuang sia-sia oleh kisutnya takdir Tuhan buat dirinya. Meskipun ia seorang fobia kilat dan gelegar petir, orang-orang terdekatnya lebih yakin kalau ia fobia dengan wanita ─lebih rinci lagi fobia dengan wanita cantik─, tapi ia juga bukan pecinta sesama jenis yang akan langsung kalap ketika masa lalunya diungkit-ungkit. Buat ia, wanita cantik (menurut standar Si Perjaka Tua) adalah makhluk yang dikirim Tuhan ke dunia untuk menambah beban mental dan pikiran setiap pria, serta merusak moral para pria baik-baik ─yang menurut Si Perjaka Tua, dirinya ialah sosok ideal seorang pria baik-baik─, karena berdasarkan beberapa pengalaman lalunya, wanita cantik hanya piaraan yang memporakporandakan tatanan kebahagiaan hidupnya dan hidup keluarganya, termasuk hidup mendiang ayah kandungnya. Kecantikan pula yang membuat hidup sang ibunda terseret ke dalam neraka
Jugun Ianfu pada masa mudanya.

Namun sore hari ini ialah sore yang lain dari biasanya. Lain buat dirinya dan lain buat cerita hidupnya. Sore ini memang ia merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya seperti biasa. Namun kali ini ia merenung seraya melontarkan sebuah tanya buat Tuhannya. Satu Tuhan yang orang-orang sembah dengan berbagai cara, satu Tuhan yang oleh orang-orang suka dimintai doa dengan berbagai cara, dan satu Tuhan yang dipuja-puji oleh orang-orang dengan berbagai cara pula. Si Perjaka Tua bertanya, “Tuhan, kapan hujan akan turun? Di sore Desember ini, ya Tuhanku...” lalu Tuhan menjawab, “Sayang sekali, Aku tidak merancang hujan Desember atau hujan di bulan apa pun yang dapat mengelabui langit sore ini... juga langit sore selanjutnya.” Demikianlah Tuhan menjawab pertanyaan Si Perjaka Tua. Hingga setiap sore ia terus merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Rumah tua keluarganya. Sampai ia mati.


Bandung, 2 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo