Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2011

Percakapan Seorang Manusia dengan Oknum Penjinak Prasangka

Seorang manusia (D) sedang mengalami frustasi dan depresi tinggi karena berbagai masalah yang ia hadapi. Lalu manusia tersebut mencoba berkonsultasi dengan Oknum Penjinak Prasangka (N) di kantor Badan Penjinak Prasangka.


D : “Apakah kami (manusia) patut takut pada kematian?”

N : (sambil menuang air putih dari teko ke dalam sebuah gelas kaca) “Kematian adalah sesuatu yang bersifat netral… tidak perlu ditakuti atau disyukuri, dibenci atau dikehendaki.”

D : “Lalu bagaimana dengan kehidupan?”

N : “Nilai kehidupan sama berharganya dengan nilai kematian, karena setiap yang merasakan hidup, pasti akan merasakan mati.”

D : “Lebih kurangnya… manusia dilahirkan untuk mati? Mengapa Tuhan berlaku seperti demikian?”

N : “Begini, kau anggap saja Dia, yang kau sebut Tuhan, Yahweh, Allah, Bapa, El, dan lain sebagainya itu, tengah mengerjakan soal aljabar kehidupan, di mana untuk menyelesaikan soal tersebut Ia harus mengeliminasi siapapun/apapun guna menyederhanakan setiap variabel dalam soal tersebut. Tujuannya agar dapat menemukan hasil/definisi dari x, y,dan z untuk kemudian disubstitusikan ke dalam soal yang sejenak lalu Ia ‘obrak-abrik’ tatanannya melalui proses eliminasi. Dengan demikian, soal tersebut terjawab sudah.Tidak ada lagi kebingungan dalam x, y, dan z yang tidak terdefinisikan.”

D : “Jadi… apakah saat ini soal aljabar itu sudah terjawab?”

N : “Tentu saja belum.”

D : “Indikatornya?”

N : “Yang sejak tadi kau lakukan… masih bertanya-tanya dalam kesengsaraan pikiranmu.”

D : “Lalu kapan saat itu tiba?”

N : “Suatu hari, di mana kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa… tidak ada lagi resah dan mesra yang kau kecup… kau merasa kosong, damai, dan tentram dalam ketiadaan dan keberadaanmu.”

D : “Kapan persisnya?”

N : “Aku tidak tahu.”

D : “Bicara tentang konsep aljabar yang baru saja kau paparkan, apakah hanya sesederhana itu? Mengapa hanya terdiri dari 3 kunci… x, y, dan z?

N : “Ya, untuk ukuran manusia sepetimu dengan segala keterbatasannya. Kau bisa anggap x, y, dan z sebagai pemetaforaan dari nilai akal, budi/nurani, dan nafsu."

D : “Ah, rasanya tiga nilai itu sangat familiar di telingaku.”

N : “Bukan hanya di telingamu, namun juga di seluruh panca inderamu, seluruh organ tubuhmu, sel-sel penyusunmu, DNA dalam rantai genetikamu, seluruh bagian/elemen kehidupanmu, bahkan ruh dan jiwamu.”

D : “Tapi, aku masih belum puas dengan jawaban darimu mengenai konsep aljabar kehidupan tadi. Adakah yang lain?”

N : “Ah, kau ini… diberikan konsep yang sederhana, malah mengaku belum puas. Nanti kuberikan konsep yang rumit, otakmu kejang-kejang karena tak sanggup menerimanya.”

D : “So, is there any concept?”

N : “Baiklah, karena kau keras kepala… kau pernah lihat mobil sport dengan velg racing?”

D : “Tentu saja, bahkan aku punya satu di garasi rumahku. Merah darah warnanya, dengan plat nomorcustom ‘A 12 CH’. Produk keluaran Jerman, dengan akselerasi 0-100 km/jam hanya dalam waktu 3,8 detik! Hebat sekali bukan?

N : “Aku tidak akan membahas mobil sport punyamu, atau plat nomor aneh itu. Ada berapa jenis velg racing yang kau ketahui berdasarkan banyak palangnya/jari-jarinya?

D : “Hmm… mengapa kau justru bertanya soal velgnya?”

N : “Sudah, tidak usah banyak bertanya! Kau jawab saja pertanyaanku. Lagipula aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia otomotif.”

D : “Yang saat ini sering kulihat, velg racing untuk mobil ada yang berpalang lima, enam, tujuh, dela…”

N : “Nah, kau tahu ada velg berpalang tujuh!”

D : “Ya, lalu kenapa?”

N : “Coba kau pikir dengan logikamu sebagai manusia dan kau analisis secara matematis. Sebelumnya, aku ingin meyakinkan diriku terlebih dahulu… kau sudah tamat Sekolah Dasar kan?"

D : “Tentu saja! Kau menghinaku ya!??

N : “Tidak menghina, namun sekedar memastikan. Coba kau hitung berapa derajat besar sudut yang terdapat di antara masing-masing jari velg berpalang tujuh. Ingat, hitung dengan logikamu secara matematis!”

D : “Hmm… jika satu lingkaran itu besarnya 360 derajat, dan velg itu berpalang tujuh, maka 360 dibagi 7, hasilnya sama dengan 51,428… Ah, pokoknya hasilnya berupa angka yang tidak bisa bulat!”

N : “Jika hasilnya bukan angka bulat, bagaimana bisa setiap sudut di antara masing-masing palang tersebut bisa sama besarnya? Bagaimana membuat ketujuh sudut antar palang dalam velg berbentuk lingkaran tersebut bisa sama besar sudutnya?”

D : (terdiam)

N : “Hei, bagaimana? Kenapa kau diam saja dengan wajah seperti sedang menahan buang air besar?”

D : “Menurutmu bagaimana?”

N : “Ah, kau ini. Benar juga perkataanku tadi, kuberikan konsep yang rumit, otakmu kejang-kejang karena tak sanggup menerimanya.”

D : “Jadi bagaimana?!”

N : “Terkadang di dalam duniamu terdapat hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu dipikirkan secara logis, matematis, dan terstruktur. Layaknya membagi lingkaran dengan tujuh sudut yang berukuran sama besar, kau tahu hal itu amatlah sederhana… namun jika kau memikirkannya secara logis dan matematis, kau justru kebingungan sendiri dalam menemukan jawabannya, karena dari ketujuh sudut tersebut pasti terdapat satu sudut yang menjadi ‘tumbal’ karena berukuran tidak sama dengan keenam sudut lainnya yang sama besar. Yang jelas kau yakin dan mengerti bahwa sebuah lingkaran dapat dibagi jari-jarinya dengan tujuh sudut yang berukuran sama besar.”

D : (terdiam)

N : “Bagaimana?”

D : “Tadi kau berkata bahwa yang jelas aku yakin dan mengerti bahwa sebuah lingkaran dapat dibagi jari-jarinya dengan tujuh sudut yang berukuran sama besar. Apa kau yakin dengan pernyataanmu barusan, bahwa aku yakin dan mengerti?”

N : “Ya. Terpancar dari aura tubuh dan ekspresi di wajahmu, khususnya di pancaran matamu.”

D : (terdiam sejenak) “Perlu kugarisbawahi dua kata dalam pernyataanmu tadi, yakni kata ‘yakin’ dan ‘mengerti’. Kebanyakan orang yang kutemui, hanya bermodalkan kata ‘yakin’ dalam setiap perbuatannya yang berkaitan dengan kuasa Ilahi, namun mereka cenderung tidak acuh pada kata ‘mengerti’ dalam konsep berpikirnya. Jadi, mana yang lebih penting, yakin atau mengerti?”

N : “Keduanya sama penting.”

D : “Runutannya? Dapatkah kau jelaskan secara terperinci?”

N : “Apakah kau yakin dirimu adalah manusia?”

D : “Tentu saja.”

N : “Bagaimana kau bisa yakin bahwa dirimu adalah manusia? Apa hanya karena dirimu sebagai individu itu memiliki ciri fisiologi yang sama seperti 6 milyar penduduk bumi lain yang juga mengakui dirinya sebagai manusia?”

D : “Lebih dari itu, aku mengerti bagaimana konsep/cara memanusiakan manusia. Sebab itu aku yakin bahwa diriku adalah manusia. Orang dengan kekurangan fisiologis seperti cacat atau menderita kelainan pun harus kuperlakukan sebagai manusia, tentunya dengan rasa kasih dan pengertian lebih ketimbang manusia normal, karena manusia-manusia seperti itu memiliki kebutuhan khusus.”

N : “Jangan bertele-tele. Jadi, apa yang membuat kau yakin bahwa dirimu layak disebut sebagai manusia?”

D : “Maaf, maaf… tadi sudah kujawab pertanyaanmu itu… adalah karena aku mengerti bagaimana konsep/cara memanusiakan manusia.”

N : “Mari kita sedikit membahas tentang sejarah. Kau tahu orang-orang seperti Adolf Hitler sang diktator Jerman atau Kaisar Nero dari Romawi?”

D : “Ya. Bagiku mereka manusia-manusia yang tidak pantas disebut sebagai manusia.”

N : “Mengapa?”

D : “Karena mereka meyakini keberadaan dirinya sebagai manusia dan yakin dengan eksistensi manusia di bumi ini, namun tidak mengerti konsep/cara memanusiakan manusia.”

N : “Nah, jadi bagaimana mungkin kau yakin akan keberadaan dan eksistensi Tuhan tanpa mengerti konsep/cara Menuhankan Tuhan?”

D : (terdiam)

N : “Orang yang hanya berpedoman pada kata ‘yakin’ tanpa mengindahkan kata 'mengerti' dalam Menuhankan Tuhan hanya berpegang pada keabsolutan semu dari Tuhan itu sendiri. Mereka hanya menggunakan perasaannya sebagai manusia dalam meyakini keberadaan Tuhan, tanpa mau menggunakan otaknya untuk mengerti mengapa mereka harus berlaku seperti demikian. Padahal, Tuhan menganugerahkan akal/pikiran kepada manusia, agar manusia selalu memiliki dasar dan prinsip dalam menentukan segala tindakan dan perbuatan, serta langkah yang akan diambilnya, termasuk untuk meyakini keberadaan dan eksistensi-Nya sendiri.”

D : “Apa kau punya contoh yang relevan mengenai kebobrokan orang-orang yang hanya berpegang pada kata ‘yakin’ namun tidak mau mencoba berpikir untuk mengerti?”

N : “Lihat saja berbagai konflik yang terjadi di negaramu itu. Tidak ada habis-habisnya konflik yang terjadi hanya karena sekelompok orang ‘yakin’ mengatasnamakan dirinya berada di jalan Tuhan sebagai satu-satunya kelompok manusia yang ‘benar’. Lihat konflik yang terjadi di Ambon, Flores, atau pembakaran tempat-tempat ibadah yang beberapa tahun lalu marak terjadi saat menjelang perayaan Hari Raya… ah, aku lupa… kau (manusia) sebut apa itu…?"

D : (terdiam sejenak) “Maksudmu… agama?”

N : “Nah, itu maksudku… Hari Raya Keagamaan. Kau juga bisa mencari tahu literatur mengenai sejarah terjadinya Perang Salib di abad ke-11.”

D : “Well….” (lalu terdiam)

N : (mengakhiri percakapan dengan meminum segelas air putih)



Dewobroto Adhiwignyo – ‘In My Opinion’

Bandung, 21 Juni 2011

Sebuah Refleksi dalam Bersikap (referensi: Buku "Beyond Phenomenology" - Gavin Flood)

Metafisika ontologisme telah digantikan eksistensinya oleh sesuatu yang teramat filosofis berdasarkan subyek-subyek kesadaran. Saat ini hal tersebut telah digantikan kembali oleh filosofi secara bahasa, komunikasi, dan intersubyektivitas. Analisis fenomenologis untuk mendapat penerangan/pengertian dari sesuatu diproses melalui kegiatan percakapan serta signifikansi dengan bahasa yang digunakan.

Adanya perubahan tersebut membuktikan bahwa implikasi dari kritik-kritik bersifat filosofis dari kesadaran akan tanda-tanda, serta pemberian pendapat untuk menunjukkan pengetahuan, merupakan hal yang harus selalu diproses secara partikular berdasarkan sejarah dan konteks sosial yang melatarbelakanginya. Setelah itu semua akan dimengerti lewat jalan dialog. Bukti tersebut menunjukan bahwa segala bentuk diskusi dan klaim-klaim filosofis harus dicitrakan berdasarkan realita internal (berdasarkan sumbernya) atau diprakarsai oleh narasi dan wacana yang ada atau sedang dihadapi.

Dalam kaitan antara teori narasi dengan fenomenologi agama, harus selalu dilakukan pertimbangan dan pemikiran akan hubungan antara ‘cerita’ (doktrin-doktrin agama) dengan ‘penjelasan’ (secara filosofis). Sebab doktrin-doktrin agama bersifat subyektif —hanya berlaku di kalangannya sendiri—, sedangkan filsafat bersifat obyektif —berlaku secara universal. Di dalam agama sendiri terdapat cerita-cerita yang sejak awal kemunculan agama tersebut dipercayai sebagai ‘cerita kebenaran’, padahal dalam lingkup agama sesuatu yang fiksi dapat saja dipercayai sebagai kebenaran. Untuk itulah, sekali lagi saya menekankan bahwa perlu adanya pemikiran serta dialog-dialog kritis guna menjelaskan segala sesuatu yang bersifat doktrinisme sepihak (agama) melalui pendekatan-pendekatan secara filosofis yang bersifat obyektif. Filsafat menjelaskan segalanya melalui pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sains, psikologi, sejarah & kebudayaan, dan sebagainya.

Narasi sebagai cerita merupakan hal utama untuk mengerti segala arti dan hakikat kemanusiaan. Keutamaan tersebut dalam kaidah tertentu dikenal melalui fenomenologi agama dalam penekanannya terhadap mitos. Namun, kaidah tertentu dan kesementaraan itu berkurang dalam aplikasinya pada dunia yang tidak berdasarkan sejarah dan pola-pola kehidupan manusia. Ranah fenomenologi menanamkan kesadaran akan titik awal permintaan penjelasan yang membimbing kita menuju masalah-masalah dalam mencari pengertian agama dan dunia sosial.

Penjelasan secara ilmiah ataupun relasi sebab-akibat dari pikiran dan kebiasaan manusia tidak berada di luar narasi dalam sebuah posisi keunggulan-keunggulan kritik. Tampaknya manusia telah memegang kuat tradisi dari sejarah, meskipun mereka sendiri sering mempertanyakan tradisi-tradisi itu. Saya setuju bahwa pandangan menyeluruh akan sejarah akan selalu ditunjukkan secara simultan di antara paham-paham lama dengan paham-paham baru. Pandangan tersebut akan selalu ditempatkan secara ‘baru’ bersama sejarah dari tradisi.

Narasi atau cerita secara obyektif diberikan dalam sejarah dan kultur/kebudayaan atau dijabarkan dalam sejarah dan kultur/kebudayaan sebagai isu sentral untuk kita pelajari. Pada satu sisi, struktur narasi melekat di dalam sejarah, kultur/kebudayaan, dan kehidupan manusia. Namun, di sisi lain biografi dan kehidupan manusia yang terbentuk melalui narasi dengan tidak terpisahkan dari sejarah, kultur/kebudayaan, dan kehidupan manusia berdasarkan faktor-faktor dari luar yang mempengaruhinya.

Bagi saya, sejarah dan kultur/kebudayaan dalam kehidupan manusia tidak akan pernah terlepas dari narasi. Narasi atau cerita —secara filososfis— tersebut dapat terimplementasikan melalui faktor-faktor yang datang dari luar sejarah dan kultur/kebudayaan kehidupan manusia, maupun dari dalam sejarah dan kultur/kebudayaan manusia itu sendiri. Cerita-cerita yang merasuk dalam doktrinisme tradisional manusia turut mempengaruhi jalan berpikir manusia dalam menghadapi segala permasalahannya, maupun keputusan/cara yang akan ia putuskan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tentu saja segala permasalahan itu tidak akan terlepas dari doktrinisme agama dan kepercayaan yang berkembang dalam kehidupan suatu kelompok manusia —yang secara subyektif— juga turut mempengaruhi jalan berpikir kelompok manusia tersebut. Namun perlu digarisbawahi, bahwa biar bagaimanapun manusia tetap harus lebih dulu mempelajari dan mendalami filsafat —yang bersifat obyektif—, baru kemudian mempelajari cerita tradisional dan ‘cerita’ agama —yang bersifat subyektif—, agar dapat memperoleh penjelasan dan ‘pencerahan’ yang valid dan berakal sehat, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Filsafat memang merupakan suatu ilmu yang proses pembuktian akan kebenarannya tidak dapat ditunjukkan secara empiris (inderawi). Di tengah empirisme ilmu sains dan teknologi yang mempengaruhi perkembangan hidup manusia dalam berbagai aspek secara empiris melalui pengaruh-pengaruh yang dapat dilihat langsung proses dan hasilnya, filsafat muncul sebagai ilmu yang bisa dibilang ‘setengah-setengah’ eksistensinya di masa ini. Hal ini tersirat dari budaya kehidupan modern manusia yang cenderung lebih mengutamakan kemudahan-kemudahan dan kepraktisan ketimbang berpikir secara rasional-kasat yang melibatkan berbagai elemen kehidupan dan disiplin dari ilmu-ilmu lainnya, yakni berpikir secara filosofis.

Filsafat tidak bisa dicerna secara empiris dan selalu menggunakan cara berpikir analogis dan metaforis dalam menjawab segala kasusnya. Hal ini dikarenakan keterbatasan manusia itu sendiri dalam menjelaskan isi pikiran dan tindakan-tindakannya sendiri dalam kehidupan, serta jalan pikiran manusia yang terikat oleh ruang dan waktu. Salah satunya ialah pikiran akan kuasa Tuhan yang bersifat Ilahi, juga tindakan-tindakannya dalam aktivitas dan keikutsertaannya terhadap aturan-aturan dan doktrin-doktrin agama. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa tingkat pemahaman sekelompok manusia terhadap filsafat guna menemukan arti dari eksistensi kehidupannya sangat mempengaruhi tingkat kemajuan peradaban manusia tersebut. Apabila kemampuan berpikir filosofis —obyektifnya— rendah, maka tingkat kemajuan peradabannya pun juga rendah.

Teori di atas lantas diperkuat kebenaran dan validitasnya dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Mayoritas masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih suka mempelajari agamanya ―yang bersifat subyektif― masing-masing, tanpa mau mempelajari filsafat ―yang bersifat obyektif―. Akibatnya, dalam menghadapi berbagai permasalahan pun masyarakat Indonesia cenderung lebih mengutamakan pandangan subyektifnya, ketimbang menggunakan pandangan obyektifnya dalam menghadapi permasalahan tersebut. Padahal, Indonesia adalah sebuah negara dengan masyarakat multikultural dengan keberadaan berbagai agama, ras, suku, budaya, dan bahasa yang terdapat di dalamnya. Hal ini tentu menyebabkan masalah yang dihadapi tadi menjadi tidak bisa menemukan solusi yang bersifat obyektif dan universal dalam penyelesaiannya. Ditambah lagi dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang terbilang belum memiliki tingkat intelektualitas yang cukup untuk mencerna berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara, sehingga orang-orang tersebut menjadi begitu mudah dipengaruhi dan dihasut oleh suatu oknum yang memiliki kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan tertentu dengan memanfaatkan ‘keluguan’ massal orang-orang itu. Secara kuantitas, massa memang memiliki kekuatan yang sangat besar, namun apabila tidak disandingi dengan kualitas intelektual yang baik, maka pengaruh yang dihasilkan dari kekuatan massa akan menjadi tidak baik (negatif). Masyarakat Indonesia saat ini juga cenderung kurang bisa menentukan di mana dan kapan saat suatu persoalan harus diselesaikan dengan pemikiran agama (subyektif), dengan di mana dan kapan suatu saat suatu persoalan harus diselesaikan dengan pemikiran filosofis yang universal (obyektif) ―menyangkut kepentingan umum seluruh kalangan masyarakat. Inilah yang menyebabkan peradaban masyarakat di Indonesia relatif cenderung sulit berkembang. Kalaupun berkembang, hanya berkembang sedikit sekali secara kualitasnya, terutama dalam mengenali dan memenuhi hak-hak antar sesama manusia.

Secara umum, manusia adalah makhluk yang memahami segala sesuatunya secara naratif melalui cerita. Baik itu dalam hal memahami sains/teknologi, ilmu-ilmu sosial dan humaniora, atau seni sekalipun. Setiap manusia selalu memahami esensi sesuatu dari cerita yang ada di balik sesuatu tersebut, termasuk dalam hal mengenali esensi dari keberadaan dirinya sendiri sebagai manusia. Misalnya, sebelum menentukan tindakan yang tepat baginya, maka seorang manusia akan terlebih dulu bertanya, “Dari cerita atau cerita-cerita apa saya dapat menemukan bagian diri saya?”

Hal tadi juga membuktikan, bahwa manusia tidak pernah terlepas dari sejarahnya. Manusia selalu memahami dirinya sendiri dengan segala elemen pengeksistensinya dengan menelusuri untuk mengetahui sejarah yang melatarbelakangi keberadaan dirinya sendiri. Dalam ranah duniawi, proses menelusuri untuk mengetahui asal-usul tersebut dilakukan lewat cara mencari tahu asal usul keluarga dan keturunannya, mencari tahu asal muasal budaya/tradisi yang ada dan berkembang di lingkungannya. Dalam ranah batiniah, proses untuk mengetahui dan menelusuri asal-usul tersebut dilakukan lewat cara beragama, dan melakukan hubungan vertikal dengan Tuhan lewat cara berdoa dan beribadah.

Di luar ranah duniawi dan ranah batiniah, sebenarnya masih terdapat satu lagi ranah yang mendasari manusia untuk mencari asal-usul eksistensinya secara naratif sebagai makhluk yang terlahir dalam bentuk jasad dan jiwa manusia, yakni ranah filsafat. Ranah filsafat mencoba menjelaskan segala pertanyaan paling mendasar dari kehidupan manusia.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa filsafat adalah ilmu yang tidak bersifat empiris. Mengapa demikian? Karena filsafat mempertanyakan sesuatu yang juga tidak bersifat empiris, sehingga untuk menjawab segala pertanyaan tersebut digunakan metode analogi dan pemetaforaan. Pembuktian secara logis dibuktikan melalui kebijaksanaan dan keselarasan berpikir manusia dalam menelaah dan menilai segala sesuatu yang ia hadapi. Satu hal yang terpenting dari ilmu filsafat adalah bahwa ia bersifat obyektif dan universal —berlaku pada semua orang—. Oleh karena itu, sekali lagi ditekankan, bahwa inilah yang membedakan ilmu filsafat dengan ilmu teologi (agama), karena ilmu teologi (agama) bersifat subyektif dan hanya berlaku bagi kalangan tertentu —orang-orang yang meyakini agama tersebut.

Untuk mengungkapkan suatu ide pemikiran, manusia perlu memahami berbagai sesuatu yang melatarbelakangi kemauan untuk merealisasikan ide pemikiran tersebut, termasuk dengan mempelajari hal-hal yang menjadi ‘sejarah’ dan asal mula dari berbagai hal yang berpengaruh dan memungkinkan untuk menjadi elemen perealisasi ide pikiran tersebut. Keharusan inilah yang membuat manusia selalu berpikir untuk mengubah sebuah ide menjadi sebuah kenyataan dan mengubah sesuatu yang fiksi menjadi suatu tindakan atau keputusan.

Apabila dikaitkan dengan aspek-aspek religius, konsepsi dari perwujudan ide-ide dalam pikiran manusia ini ditunjukkan melalui sikap manusia yang selalu mengaitkan agama dengan realita yang ia alami. Sebagai contoh, agama menanamkan ide bahwa Tuhan menciptakan semua manusia dengan cinta dan kasih agar semuanya (manusia) memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Akan tetapi, manusia lantas mempertanyakan, jika memang benar demikian, mengapa ada manusia yang kaya dan ada yang miskin? Mengapa ada manusia yang terlahir cacat dan tidak cacat? Mengapa ada manusia yang hidup serba berkecukupan dan ada yang hidup serba berkekurangan? Mengapa ada manusia yang hidup dalam kesejahteraan dan ada yang tidak?

Maka, dari pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tidak sejalan dengan ide agama mengenai cinta kasih Tuhan terhadap manusia tersebut, timbullah konsepsi baru yang terlahir dari pemikiran filosofis manusia yang berusaha menjembatani ‘jurang’ yang terdapat di antara ide agama dengan realita yang dialami manusia itu.

Sebagai langkah awal, manusia akan memahami bahwa tidak pernah ada batasan yang jelas mengenai nilai dari eksistensi/keberadaan kesejahteraan tersebut. Dengan kata lain, selalu ada unsur perbandingan dalam menentukan suatu eksistensi/keberadaan dari kesejahteraan. Misalnya begini, seseorang tidak akan pernah dikatakan kaya apabila orang-orang tidak pernah mengetahui eksistensi/keberadaan orang miskin. Orang yang mengetahui seperti apa itu ‘kaya’ tentu juga mengetahui ‘miskin’ itu yang seperti apa. Contoh lainnya adalah seseorang tidak akan pernah dikatakan memiliki fisik yang normal dan sempurna (lengkap organ-organ tubuh dan pancainderanya) apabila tidak ada pembandingnya yakni orang-orang yang memiliki fisik tidak sempurna dan tidak lengkap, alias cacat. Orang yang mengetahui seperti apa itu ‘fisik yang normal’ tentu juga mengetahui ‘fisik yang cacat’ itu yang seperti apa. Setelah memahami akan prinsip perbandingan dua hal yang saling bertentangan tersebut, selanjutnya manusia akan sadar bahwa di dunia ini tidak mungkin ada sesuatu yang sama rata, termasuk kesamarataan kesejahteraan.

Sekedar informasi, bahwa prinsip dasar inilah yang membuat paham Sosialisme-Marxisme dianggap sebagai paham Sosialisme yang utopis. Ini dikarenakan Sosialisme ala Karl Marx yang menuntut kesederajatan seluruh masyarakat di dalam satu Negara, termasuk dalam hal kepemilikan dan kesejahteraan. Semua menjadi milik bersama dan tidak ada si kaya atau si miskin. Di sisi lain paham Sosialisme ini tetap dikepalai oleh seorang pemimpin dengan prinsip-prinsip diktatorisme yang menuntut ketegasan hukum dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan dari kacamata Sosialisme-Marxisme. Tentu saja penanaman nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan itu saja sudah bertentangan dengan prinsip “semua milik bersama” tersebut, karena dengan prinsip itu, secara tidak langsung hak-hak asasi manusia pun akan terpangkas tidak lagi terpenuhi. Sebagai contoh, ada seseorang yang telah bekerja keras dengan susah payah mencari uang sebagai penghasilan materi untuk menafkahi diri dan keluarganya. Maka, orang itu berhak untuk menggunakan penghasilan materi (uang) yang telah ia peroleh melalui kerja kerasnya tersebut untuk melanjutkan keberlangsungan hidup diri dan keluarganya. Namun, apabila paham Sosialisme-Marxisme diterapkan dalam kasus ini, di sisi lain ada orang lain yang berhak atas penghasilan materi (uang) tersebut, meskipun ia sama sekali tidak bekerja untuk mencari uang sebagai penghasilan materi, atau tidak membantu seseorang tadi dalam pekerjaannya untuk mendapatkan uang sebagai penghasilan materi. Begitu menakutkan bukan?

Pada tahap selanjutnya, manusia lantas berpikir bahwa hidup ini layaknya sebuah film, di mana ada aktris yang berlaku sebagai pemeran utama dan ada yang hanya sebagai figuran. Akhirnya manusia pun tersadar bahwa ia tidak seharusnya mempersalahkan seandainya Tuhan menciptakan ia dengan banyak kekurangan, dsb. Yang mesti ia lakukan ialah menjalankan perannya dalam kehidupan tersebut dengan sebaik-baiknya, agar dapat menghasilkan ‘film’ yang baik pula.

Yang dapat disimpulkan adalah, bahwa bukan tinggi-rendahnya posisi kita dalam kehidupan di sekitar masyarakat, bukan tinggi-rendahnya materi yang kita punya dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan bukan seberapa besar kebahagiaan yang dapat kita peroleh melalui pencapaian-pencapaian materi yang kita alami, melainkan adalah bagaimana cara kita untuk menjadi yang terbaik untuk diri kita dan untuk kehidupan kita, serta memberikan yang terbaik dari apa yang kita bisa berikan untuk orang lain, apapun 'karakter' yang sedang kita jalani. Sebagai analogi, dalam suatu perusahaan pun, ada yang menjadi direktur dan ada yang hanya sekedar menjadi tukang bersih-bersih (Cleaning Service/Office Boy) di kantor. Namun, tanpa adanya tukang bersih-bersih tersebut, kantor tidak akan menjadi nyaman sebagai tempat bekerja. Akibatnya kinerja para karyawan menurun, akhirnya perusahaan mengalami kerugian materi atau bahkan kebangkrutan.

Itulah makna esensial dari berbagai bentuk kehidupan manusia. Bahkan keberadaan tukang bersih-bersih yang seringkali dianggap sebagai perkerjaan remeh temeh pun di kantor juga turut mempengaruhi kelangsungan perusahaan. Hal ini tentu merupakan analogi dari kompleksitas kehidupan manusia, di mana ada yang berada ‘di bawah’ dan ada yang berada ‘di atas’… dan yang semestinya kita lakukan ialah menjalani kehidupan kita dengan sebaik-baiknya, tidak peduli setinggi apa ‘tingkatan’ kita. Kita juga harus selalu menghargai terhadap apa yang berada ‘di bawah’ kita dalam kehidupan, karena jika tidak, maka kehidupan tanpa sikap saling menghargai tidak akan berjalan dengan baik ―coba analogikan kembali dengan kehidupan di kantor. Lagipula, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas. Jika hari ini telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi daripada hari kemarin, maka ia menginginkan tingkatan yang lebih tinggi lagi untuk keesokan harinya, begitu juga untuk lusa, minggu depan, dan seterusnya.

Jika mengutip quote Buddhisme yang berbunyi “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian, bebas dari kesakitan, dan bebas dari kesulitan”, maka catatan ini sudah semestinya sangat sesuai dengan ideologi hidup manusia. Tidak memperoleh materi dan jabatan tinggi bukan berarti tidak bisa memperoleh kebahagiaan, bahkan dalam Buddhisme sendiri kebahagiaan yang hakiki disimbolisasikan melalui kekosongan, di mana manusia yang benar-benar memperoleh kebahagiaan ialah manusia yang tidak merasakan senang dan sedih, serta tidak memiliki keinginan atau ambisi-ambisi dalam kehidupan duniawinya. Hal ini tentu tentu dimaksudkan agar manusia tersebut tidak akan mengalami kekecewaan apabila ia mengalami keadaan ‘jatuh’, kesedihan, atau adanya keinginan-keinginan yang tidak tercapai, karena pada dasarnya penyebab utama hilangnya kebahagiaan dari hidup manusia adalah karena adanya kekecewaan yang melanda manusia. Ketika perasaan kecewa melanda diri seorang manusia, maka manusia itu akan cenderung lebih fokus dalam mengingat dan berpikir soal kekecewaan tersebut, ketimbang mengingat dan berpikir soal anugerah-anugerah lain yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya di dalam kehidupan.

Dalam kritik filososfi fenomenologi atas kesadaran, teori dialog menjadi bagian penting dalam menunjukkan kebahasaan dan interaksi alami dari membaca cerita, maupun mempelajari etnis-etnis budaya. Dengan memberi pra-konsepsi pemikiran secara monolog, kita mempunyai suatu situasi di mana pra-konsepsi tersebut sama halnya dengan subyek yang sedang kita cari tahu. Untuk selanjutnya, pra-konsepsi tersebut akan berubah dan berkembang melalui proses dialog menjadi suatu kesimpulan.

Baik pemberian pra-konsepsi pemikiran secara monolog maupun perkembangan di saat selanjutnya pada proses dialog, keduanya tidak terlepas dari faktor sejarah dan narasi (cerita) yang melatarbelakanginya. Ya, lagi-lagi kita membicarakan sejarah dan narasi (cerita). Hal ini sangatlah wajar, karena apabila dikaitkan dengan pikiran manusia, pra-konsepsi yang dihasilkan oleh seorang manusia lewat proses monolog tentu tidak akan pernah terlepas dari pengalaman yang ia alami dan cerita-cerita yang ia dengar. Karakter pemahamannya akan suatu persoalan sangat ditentukan dari konsepsi yang ia bentuk atas pengalaman dan keyakinan-keyakinannya.

Selain karakter pemahaman dan cara berpikir dan menganalisa suatu persoalan, sejarah dan narasi (cerita) yang dialami oleh seorang manusia juga turut mempengaruhi watak individual manusia tersebut. Lewat pengaruh tersebut, faktor watak ―emosi dan perasaan― seorang manusia juga turut mempengaruhi proses berpikirnya dalam menemukan pra-konsepsi pemikirannya secara monolog, begitu juga perekembangan di saat selanjutnya pada proses dialog. Namun, perbedaan watak seorang manusia akan lebih terlihat jelas pada proses dialog, karena proses dialog melibatkan individu manusia lain sebagai lawan bicara. Manusia sebagai makhluk sosial juga ditentukan oleh watak yang melibatkan emosi dan perasaannya dalam hubungannya dengan manusia-manusia lain.

Watak seorang manusia yang mengandung emosi dan perasaannya tidak hanya terkait dengan hal-hal yang negative saja seperti kemarahan dan kesedihan, namun juga terkait dengan hal-hal positif seperti kesenangan dan kebanggaan. Seseorang yang dikatakan tidak pandai menstabilkan emosinya, selain tidak dapat mengendalikan rasa amarah dan kesedihannya, ia juga tidak dapat membendung euforianya saat merasakan suatu kesenangan dan kebanggaan. Ia bisa saja bersikap terlalu berlebihan dalam mengekspresikan kesenangan atau kebanggaan yang sedang ia rasakan.

Suatu waktu, saya pernah mendengar ada seorang pria suporter salah satu tim nasional Piala Dunia yang berlari-lari setengah telanjang melintasi sepanjang beberapa ratus meter jalan raya di negaranya dengan hanya mengenakan bendera tim nasional kebanggaannya untuk menutupi daerah di sekitar kemaluannya. Ia melakukan hal tersebut karena tidak dapat membendung euforia kesenangannya sebagai luapan emosi saat tim nasional negaranya berhasil menjadi juara di ajang Piala Dunia. Tentunya, contoh ini merupakan salah satu kasus di mana seseorang yang tidak dapat menstabilkan emosinya dapat memberi pengaruh buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.

Kembali ke topik konsepsi pemikiran, pada prinsipnya manusia dalam kegiatan bermonolog dan berdialog harus dapat menstabilkan emosinya, agar apa yang ia pikirkan tidak bersifat subyektif dan bersifat seobyektif mungkin. Apabila ia cenderung melibatkan emosinya (keinginan-keinginan dan pendapat-pendapat dari sudut pandang pribadinya) ketimbang logika, maka ia bisa menjadi orang yang berpikir atas nama dirinya sendiri dengan tidak mengindahkan pendapat orang lain, atau bahkan realita dan kenyataan yang terjadi.

Obyektivitas berpikir sangatlah diperlukan baik dalam proses bermonolog maupun berdialog, namun obyektivitas yang terpenting haruslah diterapkan dalam proses dialog, karena dalam proses berdialog seorang manusia menjalin interaksi dengan manusia/manusia-manusia lainnya di dalam kehidupan sosial dalam mengemukakan jalan berpikirnya guna memperoleh hasil kebenaran.

Dialog yang baik dalam ranah berpikir filosofis ialah dialog yang tidak berbasiskan pada kegiatan debat, melainkan berbasiskan pada kegiatan diskusi. Menjadi demikian karena pada dasarnya berdebat dan berdiskusi adalah dua hal yang sangat berbeda. Berdebat dapat diartikan sebagai dialog antar satu manusia dengan manusia/manusia-manusia lainnya guna memperjuangkan pendapat masing-masing individu yang terlibat. Dalam berdebat, setiap manusia memperjuangkan agar pendapat dan pandangannyalah yang diakui sebagai ‘pemenang’, tidak peduli apakah pendapat dan pandangannya itu baik atau buruk, sesuai dengan kenyataan atau tidak, atau atas dasar kebenaran atau tidak. Dalam konteks debat, dialog yang dilakukan tidak didasarkan pada tujuan mencari kebenaran, namun didasarkan pada tujuan mencari alasan dan berbagai cara agar pendapat dari pandangan pribadi seorang individu manusia menjadi diakui validitas dan keberlakuannya.

Berbeda dengan kegiatan debat, berdiskusi merupakan cara yang sesuai dengan ranah berpikir filosofis. Kegiatan diskusi antar satu manusia dengan manusia/manusia-manusia lainnya tidak berlandaskan pembicaraan untuk berjuang ‘memenangkan’ pendapat dari pandangan pribadi, melainkan berlandaskan pada pembicaraan yang bertujuan untuk mencari kebenaran berdasarkan data-data yang bersifat faktual dan sesuai dengan realita, serta dapat dipertanggungjawabkan. Dalam berdiskusi yang dilakukan oleh dua atau lebih manusia, setiap individu yang terlibat ditekankan untuk berpikir dalam menganalisa setiap pendapat yang diberikan oleh orang lain dalam diskusi tersebut. Lewat pendapat-pendapat dari pandangan orang lain tersebut, setiap individu manusia berusaha untuk mengaitkan berbagai pandangan yang ada itu dengan proses diskusi dan studi kasus guna mendapatkan kebenaran obyektif yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kegiatan diskusi, manusia yang pendapatnya dianggap salah atau kurang tepat tidak perlu merasa ‘malu’ ―tidak seperti dalam kegiatan debat―, karena tujuan utama dari berdiskusi ialah menemukan suatu kebenaran universal dari berbagai persoalan yang dibicarakan/didiskusikan.



Bandung, 20 Juli 2011

Dewobroto Adhiwignyo

Selasa, 08 Februari 2011

Masa SMA-ku

Masa SMA-ku

Kuhabiskan selama tiga tahun
Di sekolah yang sarana dan prasarananya tidak terlalu baik memang

-Tapi tak jadi masalah buatku-

Di sana kotor

Yang jadi persoalan
bukan kotor lantainya, dindingnya, atau lingkungannya

(Jadi, apa yang kotor?)

Politiknya kotor
Sekolah SMA-ku
yang penuh dengan para Primordialis...

OSIS-nya kotor, MPK-nya kotor
Bahkan beberapa organisasi lainnya juga kotor
Di SEKOLAH NEGERI itu
yang dapat menjadi pengurus OSIS dan pengurus MPK
hanyalah mereka yang (dianggap sebagai) Muslim (yang baik).
Yang dapat menjadi Ketua OSIS dan Ketua MPK hanyalah kaum Adam.
Mereka tidak peduli dengan hak asasi

Ya
Mereka yang mengaku terpelajar dan menghormati Tuhannya.
Dan dibalik itu semua mereka masih berkoar-koar menyuarakan kebebasan berpendapat dan
nilai-nilai luhur kepemimpinan, etika, serta moral.

Yang Nasrani ada pula yang tak jauh berbeda
Seringkali kutemui
orang-orang yang bergaul dengan rekan seagama/sesukunya saja
Dibalut dengan sikap fanatik berlebih.

Tidak.
Aku tidak suka suasana kacau balau itu
Aku merasa tidak nyaman
Muak.

Memang sudah berlalu
Tapi sangat membekas. Seringkali terbesit di dalam pikiran...
Kenapa aku bisa masuk 'Kandang Primordialis' seperti itu?

Lalat saja tidak pilih-pilih sampah basah jenis apa yang mau ia jilat

Aku netral. Tidak membela siapapun.
Juga tidak terpengaruh dan dipengaruhi siapa/apapun.
Mungkin tidak bisa sepenuhnya disebut orang baik dan patuh
Tapi aku punya pendirian prinsipil

Aku tidak akan pernah merekomendasikan siapapun untuk masuk mendaftar ke sekolah itu.
Menjadi siswa di sana, berarti harus siap menerima kenyataan
Bahwa orang-orang di sana lebih mementingkan tradisi, ketimbang akal sehat dan hak asasi.

Kuakui, mereka (yang terlibat) bukanlah orang-orang bodoh
Hanya saja hati nurani mereka buram
Ya. Buram.
Ada, namun buram.
Tentang hak asasi -hak kehidupan manusia paling dasar- saja mereka berani langgar.

Dan aku yakin setiap manusia terlahir dengan hak asasi. Siapapun Tuhan mereka.
Apapun agama dan ras/suku mereka.

Menjemukan. Tamak. Egois.
Munafik.
Terkutuklah mereka yang memulai dan menjalankan sistem dalam tradisi hitam itu.

Namun, aku tahu
Di antara mereka (yang terlibat)
masih ada yang berpikiran kurang lebih sama denganku
dan sependapat dalam hal ini.

Dan di luar itu semua
Aku suka dengan masa SMA-ku
Aku rindu masa-masa itu.



Bandung, 18 November 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Senin, 06 Juli 2009

Tiga Misteri

Entah apa yang ada dalam pikiran saya malam ini. Setelah sadar tidak merasa ngantuk lantaran tidak bisa tidur hingga dini hari, saya ingin menggambar saja. Namun karena sedang tidak ada pensil, saya putuskan untuk menyalakan komputer, lalu menulis. Ya, menulis apa saja, meskipun hingga saat mengetikkan kata-kata ini saya belum tahu topik apa yang ingin saya bahas.

Well, topik yang akan saya angkat kali ini tidak terlalu berat dan serius seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya. Saya akan bercerita mengenai tiga misteri yang selama ini memenuhi benak pikiran saya.

Jika ada orang yang bertanya kepada saya tentang hal-hal yang paling menjadi misteri hidup manusia, saya akan menjawab misteri yang pertama
itu adalah ”Tuhan”.

Mengapa "Tuhan"?


Di saat banyak orang lain memuja dan meminta perlindungan kepada Tuhannya ─terlepas dari agama atau sekte apapun─, saya justru dibingungkan oleh keabsahan zat yang diberi nama "Tuhan" itu sendiri. Barangkali agak terdengar angkuh, tetapi inilah saya. Paling tidak, saya masih termasuk dalam golongan manusia ”Pe
mercaya Tuhan”.

Sedari kecil, seringkali saya bertanya kepada orang tua dan guru agama saya, ”Apa tujuan Tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini? Toh, bila Tuhan tidak menciptakan ini semua, Ia tidak akan merugi ataupun mendapat keuntungan yang berarti. Mengapa Ia menciptakan semua ini dalam waktu tujuh
hari? Bukankah akan lebih menakjubkan apabila Ia dapat menyelesaikan proyek-Nya hanya dalam waktu tiga hari atau bahkan satu hari saja?”

Bisa jadi orang-orang dewasa pada saat itu menganggap saya sebagai anak usia 6 tahun yang aneh, cerewet, dan keras kepala. Terlebih, dari sekian banyak siswa-siswi di sekolah saya pada waktu itu, hanya saya yang menanyakan hal-ha
l tadi yang umumnya tidak terlintas dalam pikiran anak kecil pada umumnya.

Lalu orang-orang dewasa tersebut hanya menjawab, ”Itu semua adalah rahasia Tuhan. Sesungguh-Nya Ia lebih mengetahui dari apa yang
kita (manusia) ketahui.”

Ketika itu sebagai anak berusia 6 tahun, tentu saya tidak merasa puas dengan jawaban tadi. Bahkan, hingga saat ini pun, di usia saya yang telah menginjak 17 tahun, jawaban yang saya dengar dari semua orang masih tetap sama dengan jawaban yang saya dengar ketika dulu berusia 6 tahun. Saya tidak mengerti, sepertinya semua orang merasa takut untuk sekedar mereka-reka jalan pikiran Tuhan. Seolah-olah akal pikiran mereka dimatikan oleh doktrin-doktrin agama tentang kerahasiaan Tuhan yang begitu mandarah daging. Seolah-olah mereka enggan menggunakan logika dan nalar berpikirnya untuk minimal mengetahui asal usul jagad raya ini. Paling tidak, bagi mereka yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan selalu memandang seg
ala sesuatunya secara empiris.

Perlu saudara ketahui, meskipun hal tentang Tuhan tadi masih menjadi misteri paling besar dalam hidup saya sekarang ini ─dan barangkali hingga saya mati kelak─, saya akan tetap memercayai keberadaan Tuhan.

Saya lanj
utkan pada misteri yang ke-2, yaitu ”cinta”.


Bagi yang sudah membaca postingan saya di entri sebelumnya berjudul ”Cinta dalam Opini” tertanggal 24 Juni 2009, mungkin sudah sedikit tahu tentang pencitraan cinta di mata saya. Bagi yang belum membaca, karena saya tidak mau lagi capek-capek menulis panjang lebar mengenai definisi cinta, saudara bisa membaca entri ”Cinta dalam Opini” tersebut. Harap maklum, saya agak ─bahkan mungkin sangat─ pemalas. (-_-)"

Baiklah, saya akan membahas misteri ke-3, yakni mengenai makhluk luar angkasa, atau yang pada umumnya disebut alien.

Sebagian orang mungkin menganggap hal ini lucu; seorang (calon) mahasiswa berusia 17 tahun sangat penasaran memikirkan hal-hal seperti alien, UFO, dan sebagainya. Tapi tak apalah, toh ini tulisan saya, dunia pemikiran saya... peduli
setan orang lain mau berkomentar apa.

Waktu SMP saya pernah membaca buku berjudul ”Misteri UFO”. Saya mendapatkan buku itu dari sebuah kios buku loakan. Tak ada alasan khusus, mengapa saat itu saya amat tertarik untuk membelinya... yang jelas, saya membeli buku itu karena harganya relatif murah, kalau tidak salah hanya Rp 10.000,00.


Buku loakan setebal 300-an halaman itu berisi tentang berbagai kisah penampakan UFO dan pengalaman-pengalaman orang yang pernah berinteraksi dengan alien, seperti Reka Ulang Ro
swell, Area 51, dan penampakan UFO di tengah pasukan udara Nazi Jerman saat Perang Dunia II. Entah, itu kisah nyata atau sekedar sensasi yang dibuat-buat. Jujur, hingga saat ini pun saya masih setengah percaya dengan kisah-kisah alien itu. Kalau memang itu hanya cerita yang dibuat-buat, biarlah cerita-cerita itu menjadi bagian dari alam imajinasi saya. Saya tidak akan merasa dibodohi oleh siapapun.

Cukup sekian entri saya kali ini. Yah, karena ini misteri... jadi saya tidak banyak mengetahui fakta tentang keberadaannya. Wajarlah jika kali ini saya tidak bercerita secara panjang lebar dan mendetail... hanya bercerita santai. Pada saat menulis kalimat penutup ini pun saya masih belum yakin tulisan ini layak untuk dibaca publik atau tidak.


Bekasi, 6 Juli 2009
Dewobroto Adhiwignyo

Rabu, 24 Juni 2009

Cinta dalam Opini

Ketika ada seorang teman yang bertanya soal urusan cinta, saya hanya bisa dan hanya mau menjawab, ”Tampaknya cinta adalah sesuatu yang tabu bagi saya dan untuk saat ini saya tidak mau kehidupan saya mempengaruhi atau dipengaruhi oleh hal-hal tabu seperti cinta.”

Terus terang, selama ini saya selalu mencoba menjauh dan menahan diri untuk tidak terjebak dalam suatu komplikasi cinta yang melibatkan hasrat dan perasaan. Meskipun harus saya akui, sebagai manusia biasa, apa lagi yang sedang berada dalam t
ahap usia remaja dan masa pubertas, kehidupan saya tidak terlepas dari permainan cinta dan perasaan. Dalam hal ini, saya membahas cinta dalam konteks cinta kepada lawan jenis.

Cinta juga biasa dianggap sebagai naluri alami manusia yang oleh kebanyakan orang diartikan sebagai bentuk implementasi kasih sayang, baik kasih say
ang orang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya, atau kasih sayang seseorang kepada lawan jenisnya. Namun, untuk poin yang ketiga tadi saya tidak terlalu yakin hal itu selalu berujung pada kebahagiaan, karena hal itu juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang.

Selama 17 tahun, saya mendapati tertarik pada beberapa teman perempuan saya, meskipun dalam beberapa rasa ketertarikan itu seringkali saya tidak sempat
atau tidak berani menyatakan perasaan saya. Pada akhirnya hubungan saya dengan mereka tadi selalu berakhir dengan suatu ketidakjelasan emosional yang disebabkan oleh banyak hal, mulai dari sekedar masalah gengsi untuk kembali berhubungan, hingga persoalan di mana ia mendapati teman laki-laki baru yang menurutnya lebih pantas ketimbang saya.

Pada usia remaja seperti sekarang ini, tidak sedikit pula teman-teman sebaya di sekitar saya yang menanggapi urusan cinta dengan sikap opurtunisme. Ya, seorang opurtunis sejati akan melakukan segala cara demi meraih mimpi dan tujuannya, termasuk dalam meraih simpatik lawan jenis yang memikat hatinya. Bisa dibilang, seorang opurtunis ialah orang yang sangat egois, tidak memiliki hati dan nurani.

Tidak! saya bukan orang seperti mereka!! Lalu mengapa mereka masih saja mau dan rela meluangkan waktunya hanya untuk membicarakan urusan cinta (anak remaja)?

Dalam klimaks suasana kejenuhan sekarang ini, saya mulai berpikir, kandungan apa saja yang terdapat dalam perasaan cinta (kepada lawan jenis)? Menga
pa saya bisa sampai menaruh hati pada seorang perempuan yang bahkan ia belum tentu mengacuhkan keberadaan saya?

Pertanyaan seputar cinta yang selama ini memenuhi benak dan memusingkan kepala ini akhirnya terjawab setelah saya menemukan suatu kesimpulan bahwa: cinta seseorang terhadap lawan jenisnya tidak ada yang murni 100% berdasarkan kasih sayang. Ya, karena pada hakikatnya kita adalah manusia yang terlahir dengan hawa nafsu, termasuk hawa nafsu dalam urusan cinta. Intinya, saya mendefinisikan cinta pada lawan jenis sebagai suatu hal yang tercipta oleh dua unsur; kasih sayang dan nafsu. Itulah alasannya, mengapa cinta orang tua kepada anaknya, atau cinta seorang kakak kepada adiknya berbeda dengan cinta seseorang kepada lawan jenisnya. Jawabannya jelas, karena cinta seseorang pada lawan jenisnya selain mengandung kasih sayang, juga mengandung unsur nafsu, baik itu nafsu yang melibatkan birahi/nafsu seks, nafsu untuk memiliki, atau nafsu-nafsu lainnya yang berada di luar konteks kasih sayang.

Suatu kali, saya pernah membaca buku di mana dalam buku tersebut ada seorang pria lajang yang berpendapat, ”Jika aku benar-benar mencintai istriku kelak sepenuhnya dengan kasih sayang, aku tidak akan rela meminta kehormatannya untuk ia berikan padaku. Paling jauh, aku hanya akan mencium dan memeluk erat-erat istriku tercinta kelak.” Sedikit orang
termasuk saya yakin bahwa itulah yang dinamakan cinta sejati.

Saya rasa, pendapat orang itu ada benarnya juga, namun pastinya akan menggelitik pikiran setiap orang yang mendengarnya, termasuk saya. Saya yakin, kebanyakan orang akan merespon pendapat itu dengan sanggahan yang kurang lebih berbunyi seperti ini: ”Bagaimana mungkin pria itu tidak rela meminta kehormatan dari istrinya? Sedangkan tujuan seseorang untuk menikah adalah untuk punya anak dan melanjutkan keturunan, memperoleh kebahagiaan, serta menikah untuk memenuhi hasrat seksual masing-masing individu, baik suami maupun istri.”

Lagi-lagi, respon sanggahan dari pendapat pria lajang itu membuat saya menarik kesimpulan yang sama dengan pendapat saya sebelumnya bahwa cinta seseorang pada lawan jenisnya tidak akan luput dari hawa nafsu. Sejalan dengan prinsip dasar dan tujuan-tujuan yang mendorong seseorang untuk menikah seperti yang terpapar di atas.

Suatu waktu, saya pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Ia berusia sekitar 2 tahun lebih tua dari saya. Saat itu, hampir di setiap akhir pekan
setiap sore saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, sekedar untuk mengobrol, juga bertemu dengan kakak-kakak dan orang tuanya. Saya juga sering mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang menurut kami berdua menarik; meskipun cuma naik kendaraan umum, karena saya tidak punya kendaraan. Sedikitpun saya tidak berani dan tidak mau untuk 'mengapa-apakan' dia, karena saya menghormati perempuan itu sebagai pacar saya. Untuk menyentuh tangannya pun saya pikir-pikir dulu, apakah benar-benar perlu atau tidak. Dari rumahnya, saya selalu pulang tidak lebih dari pukul 21.00... tidak enak dengan keluarganya kalau bertamu terlalu larut. Setiap pamit pulang, saya selalu berkata bahwa saya sangat mencintai dan menyayanginya, dan tiap kali saya mengatakan itu, saya yakin bahwa cinta yang saya berikan kepadanya ialah setulus-tulusnya cinta, begitu pula dengan perasaan dia terhadap saya.

Meskipun saya sudah cukup lama mengenal dia, hubungan saya dengan perempuan itu tidak berlangsung lama; tidak sampai enam bulan malah. Ya, semuanya berakhir dengan sia-sia belaka; tanpa ujung penyelesaian yang jelas. Ketika itu saya diliputi oleh kesedihan yang begitu mendalam. Bagaimana tidak? Di saat saya mulai mempelajari cara memahami orang lain, seolah-oleh tidak ada seorang pun yang dapat mengerti perasaan saya.

Sekarang yang tersisa dalam hati saya hanya kebencian mendalam pada perempuan itu. Sejak saat itu titik awal kekecewaan saya terhadap cinta dimulai. Hal inilah yang saya maksud pada kalimat sebelumnya, bahwa cinta juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang
membekas selamanya dan tidak akan hilang.

Kembali ke topik utama. Unsur nafsu pasti selalu ada dalam perasaan cinta. Pada akhirnya kita sampai pada satu titik temu bahwa manusia hanya bisa
dan hanya diperkenankan untuk mengatur kadar kasih sayang dan nafsu lewat cinta yang ia curahkan kepada lawan jenisnya. Cinta yang tulus ialah cinta dengan kadar kasih sayang jauh lebih besar ketimbang kadar nafsunya. Tentu saja hal ini juga berkaitan erat dengan hakikat sifat dasar manusia yang terdiri atas tiga hal; akal, budi/nurani, dan nafsu.


Bekasi, 24 Juni 2009

Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Persimpangan Jati Diri

I

Bukan aku tak bersyukur ketika Engkau menghembus nafas ruhku ke dalam raga ini menuju dunia semu penuh dosa
Bukan aku tak bernafas dengan alam ketika para umat ─yang mengaku─ abdi-Mu merusak kelestariannya
Bukan aku tak berserah diri ketika Engkau memintaku sujud bersimpuh di hadapan-Mu
Bukan aku tak berkabung ketika umat ─yang mengaku─ prajurit-prajurit suci-Mu tergeletak mati di arena ”jihad”
Bukan aku tak bernurani ketika melihat cobaan-Mu datang menerpa saudara-saudaraku ─tak hanya yang beragama KTP sama denganku
Bukan aku tak bersetubuh paham dalam iman-Mu ketika Engkau memanggilku di kemudian hari


II

Jika Yahudi, Kristen, dan Islam, ketiga-tiga dari agama samawi tersebut masing-masing merasa sebagai satu-satunya yang benar daripada yang lain, maka iman manakah yang benar-benar mencintai seluruh sesamanya? Yang menganggap orang-orang di luar agamanya juga sebagai saudaranya dan saling mengasihi.

Ya, barangkali benar bila ada seorang filsuf yang pernah berkata bahwa agama adalah bagian dari ideologi hidup... tak jauh-jauh dari urusan politik dan sosialita kemasyarakatan. Sesuatu yang wajar apabila agama diartikan sebagai sarana investasi iman.

Saya bukan orang bodoh yang cuma ikut-ikutan. Saya tak mau menjadi orang saklek yang mengatasnamakan Tuhan dan agama yang ia anut hanya untuk menyatakan orang lain di luar agamanya itu tak pantas mencium aroma surga. Saya tak seperti murid-murid Masjid non-prinsipil yang cuma ikut-ikutan datang mencopot alas kaki, lalu dengan tampang lugu sok ngerti dan santun duduk manis mendengar cerita murobbi atau ustadz yang biasanya banyak dibumbui dan belum pasti benar sama dengan aturan Tuhan sebenarnya dalam kitab suci.

Yang jelas, saya tahu bahwa Tuhan itu satu dan tak dapat disekutukan. Logika membuat saya berpikir demikian... nalar pula yang menjawabnya. Lalu bagaimana dengan nasib iman?


Bekasi, 12 Juni 2009
Dewobroto Adhiwignyo