Jangan kau rongrong keladi kecil itu!
Keladi-keladi kecil
duduk bersilang badan
Atas dosa makhluk di bumi
Pernah ku damba menenggak anggur hitam
Yang sesekali tak ku paham rekahannya
Minum segelas: hingga berdansa
Minum sebotol: sampai mabuk tanpa arah
— dengan siapa? —
Clamentine;
Si gadis kecil
Sedayu ratap duka mencekam
Bikin Kumara naik pitam
Jadi seketika abu mutiara hitam
Biar binasa dalam kelam
Maaf!
Anak dara pinangan Tuan
tak mengerti soal cinta!
— Jangan paksa buat kasmaran —
Anak borjuis itu
hanya pengen belajar aljabar
Diiringi musik Mozart — “Eine Kleine Nachtmusik”
Sambil nonton tarian Waltz...
Jakarta, 27 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Quotation
"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."
Jumat, 19 Desember 2008
Bimbang
Malam ini begitu sendu
Tak tahu harus ku buat apa
Namun aku tenang...
Ini kantuk hilang diambil mirza
Entah ke mana ia
Tak tahu harus ku laku apa
Namun aku tentram...
Dalam temaram putih
Sesekali terbias muram
Gusar aku;
Hingga jiwa ini teriak!
Ah, raga ini pun terus bertalu...
Seakan tak mau malu
Pada cecak di dinding kamar
Oh, Tuan...
Kuncup manis itu
Memang tak tahu malu!
Jakarta, 2 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Tak tahu harus ku buat apa
Namun aku tenang...
Ini kantuk hilang diambil mirza
Entah ke mana ia
Tak tahu harus ku laku apa
Namun aku tentram...
Dalam temaram putih
Sesekali terbias muram
Gusar aku;
Hingga jiwa ini teriak!
Ah, raga ini pun terus bertalu...
Seakan tak mau malu
Pada cecak di dinding kamar
Oh, Tuan...
Kuncup manis itu
Memang tak tahu malu!
Jakarta, 2 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Acuh
Aku belajar berbuat;
maka itu ku kenang engkau
Letih melafas ayat-ayat egomu
Tak satu acuh pun
untuk madumu
Di sini aku
belajar untuk berkenang
Mati sendiri tak jua ku menyesal
Tiada satu setan pun datang merayu
atau malaikat merajam tirani pula
Jiwa ini semakin tabu,
raga ini terus digebu
Katakan saja maumu!
Ini punyaku;
dan punyamu
bukan milikku
Ah, jangan jatuh cinta!
Aku tak peduli;
Enyah...
Engkau pergi saja!
Jakarta, 7 Agustus 2008
Dewobroto Adhiwignyo
maka itu ku kenang engkau
Letih melafas ayat-ayat egomu
Tak satu acuh pun
untuk madumu
Di sini aku
belajar untuk berkenang
Mati sendiri tak jua ku menyesal
Tiada satu setan pun datang merayu
atau malaikat merajam tirani pula
Jiwa ini semakin tabu,
raga ini terus digebu
Katakan saja maumu!
Ini punyaku;
dan punyamu
bukan milikku
Ah, jangan jatuh cinta!
Aku tak peduli;
Enyah...
Engkau pergi saja!
Jakarta, 7 Agustus 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Jumat, 05 Desember 2008
Nonsens
Dera yang ku dengar tak lagi mengganggu
Buat raga ini terus berseru
Hingga debu ketiadaan coba ‘tuk gerus imaji
Maka luapkan saja kerak-kerak amarahmu!
Kita bicara kebenaran universal
Bahwasanya tidak semua itu relatif
Peduli setan dengan gerombolan militan
Atas kaum-kaum demokrat palsu
Jangan traumatis dengan ideologi nonsens!
Karena kita adalah pemain perasaan
Yang punya pemikiran dan harapan
Sebagai insan berbudi berakal
Bila sampai nanti...
Teruslah mengejar yang pasti
Berkabunglah semua mimpi
Dan inspirasi semu
Atas nama “Kami”
Jakarta, 22 April 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Buat raga ini terus berseru
Hingga debu ketiadaan coba ‘tuk gerus imaji
Maka luapkan saja kerak-kerak amarahmu!
Kita bicara kebenaran universal
Bahwasanya tidak semua itu relatif
Peduli setan dengan gerombolan militan
Atas kaum-kaum demokrat palsu
Jangan traumatis dengan ideologi nonsens!
Karena kita adalah pemain perasaan
Yang punya pemikiran dan harapan
Sebagai insan berbudi berakal
Bila sampai nanti...
Teruslah mengejar yang pasti
Berkabunglah semua mimpi
Dan inspirasi semu
Atas nama “Kami”
Jakarta, 22 April 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Waktu Itu
Seperti ku pada waktu itu
..................................
Hari ini aku tersenyum
Walau hati ini tertutup ranum
Biarlah ia menari meski untuk sejenak
Sampai waktuku habis berdetak
Hanya dengan asa ia tinggalkan rasa
Namun bagiku tak mengapa
Berpeluh muram aku bersenandung
Acuhkan sayu tatap mata itu
Hidup ini sepi... hampa dan sendiri
Maka pandangi saja hutan-hutan malam yang sunyi
Juga hiruk pikuk pagi kicauan burung gereja
— Maka ‘kan ku temukan jalan itu —
Bekasi, 25 Oktober 2007
Dewobroto Adhiwignyo
..................................
Hari ini aku tersenyum
Walau hati ini tertutup ranum
Biarlah ia menari meski untuk sejenak
Sampai waktuku habis berdetak
Hanya dengan asa ia tinggalkan rasa
Namun bagiku tak mengapa
Berpeluh muram aku bersenandung
Acuhkan sayu tatap mata itu
Hidup ini sepi... hampa dan sendiri
Maka pandangi saja hutan-hutan malam yang sunyi
Juga hiruk pikuk pagi kicauan burung gereja
— Maka ‘kan ku temukan jalan itu —
Bekasi, 25 Oktober 2007
Dewobroto Adhiwignyo
Jumat, 28 November 2008
Sendiri
Kemarin aku tersenyum dalam kesepian
Hari ini aku tertawa dalam kesunyian
Dan esok aku bersukacita dalam kesendirian
Larut ku rasa; hening...
Jiwa-jiwa yang sepi mengitar elok pusara fajar
Lalu tanpa sadar tenggelam perlahan
Dalam ribaan cakrawala senja
Dengan budak duniawi yang begitu pekat
Angin dingin penyesalan
Bertiuplah kemari serta beribu kenangan
Sambil bertakjub menunggu kepastian
Aku terdiam bisu dalam angan
Bekasi, 23 Juli 2007
Hari ini aku tertawa dalam kesunyian
Dan esok aku bersukacita dalam kesendirian
Larut ku rasa; hening...
Jiwa-jiwa yang sepi mengitar elok pusara fajar
Lalu tanpa sadar tenggelam perlahan
Dalam ribaan cakrawala senja
Dengan budak duniawi yang begitu pekat
Angin dingin penyesalan
Bertiuplah kemari serta beribu kenangan
Sambil bertakjub menunggu kepastian
Aku terdiam bisu dalam angan
Bekasi, 23 Juli 2007
Kamis, 20 November 2008
Prasangka-Logika-Pemikiran
Aku seperti terik mentari di siang bolong
Namun bak redup rembulan kala malam menjemput
Bilamana hati tak lagi berbisik
Maka prasangka lah yang akan teriak
Aku adalah orang yang
menerobos waktu dengan pemikiran...
Melesakkan logika ke dalamnya...
Dan menebar bimbang
Ke setiap hati manusia yang berdecak
Tiba sampai di persimpangan jalan
Masih jua terbuai godaan semu keadilan
Semua tak’kan berubah!
Walau jiwa-jiwa yang tak tenang terus menentang
...................................................................
Malam pun semakin bosan...
Ufuk timur mulai bersinar...
Nampak embun pagi mulai nakal
memperlihatkan guratan-guratannya
Serupa sirna dalam keremangan
Tapi aku masih belum terjaga
— Atau tidak selamanya? —
Hingga waktu berakhir
Dan aku pun mati
Bekasi, kuartal akhir 2006
Dewobroto Adhiwignyo
Namun bak redup rembulan kala malam menjemput
Bilamana hati tak lagi berbisik
Maka prasangka lah yang akan teriak
Aku adalah orang yang
menerobos waktu dengan pemikiran...
Melesakkan logika ke dalamnya...
Dan menebar bimbang
Ke setiap hati manusia yang berdecak
Tiba sampai di persimpangan jalan
Masih jua terbuai godaan semu keadilan
Semua tak’kan berubah!
Walau jiwa-jiwa yang tak tenang terus menentang
...................................................................
Malam pun semakin bosan...
Ufuk timur mulai bersinar...
Nampak embun pagi mulai nakal
memperlihatkan guratan-guratannya
Serupa sirna dalam keremangan
Tapi aku masih belum terjaga
— Atau tidak selamanya? —
Hingga waktu berakhir
Dan aku pun mati
Bekasi, kuartal akhir 2006
Dewobroto Adhiwignyo
Rabu, 19 November 2008
Prolog
Posting dalam blog ini adalah hasil buah pemikiran saya yang sebagian besar saya tulis dalam bentuk sajak dan puisi.
Saya baru memutuskan untuk membuat blog pada saat kelas 3 SMA—di usia yang sebentar lagi akan menginjak 17 tahun—sebagai sarana publikasi agar tulisan-tulisan tersebut dapat dibaca dan diberi komentar oleh orang lain. Maka, jangan merasa sungkan untuk memberi masukan dan kritik terhadap tulisan-tulisan saya. Justru saya sangat mengharapkan testimoni dari orang lain yang tentunya akan sangat membangun, khususnya dari kalangan sesama pecinta sastra.
Saya amat menyukai seni, mulai dari menggambar, bermain musik, juga sastra. Mulai menulis sajak semenjak berada di bangku SMP, namun baru mulai serius ketika memasuki jenjang pendidikan SMA. Pada awalnya sajak-sajak yang saya buat agak terkesan picisan karena masih bertemakan seputar kehidupan remaja... tidak jauh-jauh dari urusan rindu dan patah hati... sedangkan akhir-akhir ini, saya—dan mungkin orang lain juga—sudah merasa jenuh dan bosan dengan gaya penulisan seperti itu.
Oleh karena itu, saat ini saya sedang berusaha untuk menulis sajak yang isinya bisa dibilang lebih berbobot, serta mengusung tema seputar kehidupan manusia secara umum dan menyeluruh. Tidak melulu puisi cinta yang bernuansa melankolis, sehingga terkesan monoton. Bagi saya, kehidupan satu individu manusia memiliki aspek multi-dimensional yang sangat menarik untuk kita pelajari. Bayangkan bila kita dapat menelusuri lebih jauh aspek-aspek tersebut secara mendalam... meliputi banyak individu yang terlahir dari berbagai strata/golongan manusia: tua-muda, kaya-miskin, dll., tentunya akan sangat menarik.
Saya baru memutuskan untuk membuat blog pada saat kelas 3 SMA—di usia yang sebentar lagi akan menginjak 17 tahun—sebagai sarana publikasi agar tulisan-tulisan tersebut dapat dibaca dan diberi komentar oleh orang lain. Maka, jangan merasa sungkan untuk memberi masukan dan kritik terhadap tulisan-tulisan saya. Justru saya sangat mengharapkan testimoni dari orang lain yang tentunya akan sangat membangun, khususnya dari kalangan sesama pecinta sastra.
Saya amat menyukai seni, mulai dari menggambar, bermain musik, juga sastra. Mulai menulis sajak semenjak berada di bangku SMP, namun baru mulai serius ketika memasuki jenjang pendidikan SMA. Pada awalnya sajak-sajak yang saya buat agak terkesan picisan karena masih bertemakan seputar kehidupan remaja... tidak jauh-jauh dari urusan rindu dan patah hati... sedangkan akhir-akhir ini, saya—dan mungkin orang lain juga—sudah merasa jenuh dan bosan dengan gaya penulisan seperti itu.
Oleh karena itu, saat ini saya sedang berusaha untuk menulis sajak yang isinya bisa dibilang lebih berbobot, serta mengusung tema seputar kehidupan manusia secara umum dan menyeluruh. Tidak melulu puisi cinta yang bernuansa melankolis, sehingga terkesan monoton. Bagi saya, kehidupan satu individu manusia memiliki aspek multi-dimensional yang sangat menarik untuk kita pelajari. Bayangkan bila kita dapat menelusuri lebih jauh aspek-aspek tersebut secara mendalam... meliputi banyak individu yang terlahir dari berbagai strata/golongan manusia: tua-muda, kaya-miskin, dll., tentunya akan sangat menarik.
Sebagian orang yang suka membaca karya sastra—terutama sajak-sajak saduran lokal—barangkali akan berkomentar, bahwa tulisan-tulisan saya sangat terpengaruh dari gaya bahasa penulisan sajak-sajak Chairil Anwar. Mengenai siapa itu Chairil Anwar, saya rasa tidak perlu dijelaskan lebih jauh... semua orang yang pernah mengenyam bangku pendidikan formal pastilah tahu siapa itu Chairil. Paling tidak, semua pernah membaca satu-dua sajaknya yang hampir selalu ada dalam setiap buku kurikulum pendidikan Bahasa Indonesia.
Saya tidak memungkiri bahwa apa yang mereka katakan memang benar adanya. Saya pribadi sangat senang membaca karya-karya Chairil. Maka, saya tidak merasa keberatan apabila disebut sebagai penggemar sang penyair "Binatang Jalang" tersebut. Namun, bukan berarti saya 100% mengikuti gaya penulisan Chairil. Tidak. Masing-masing penulis pasti punya indikasi dan ciri khas tersendiri dalam menulis setiap sajaknya.
Akhir kata, saya harap blog ini dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan suatu perubahan yang berarti dalam kehidupan dan sajak-sajak gubahan saya.
Langganan:
Postingan (Atom)
