Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."
Tampilkan postingan dengan label Sajak dan Literatur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak dan Literatur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

2x1

Waktu hidup hilangan cakar ruah
Pendar jiwa meruak tabu-tabu

2x1
Yang katanya sempit bagi pembelot meridian,
Api jahanam rupa-rupa siksaan Tuan.
Yang luas katanya bersungai susu + jual megah,
Bagi umat pengikut setia.

Oh!
Sudahkah hari ini aku diancam siksa?
Atau bergemuruhkan ketam-ketam imbalan di kariban matiku kelak?

2x1
Shelter akhir penghentian maut
Bicara siksa ancam tiada tara,
Berikut embel-embel hadiah Mahayana.

Bait lain
Apa Tuan tuntun barik hidup berancam-seterimbalan?



Bandung, 24 Desember 2010
Dewobroto Adhiwignyo


Masa SMA-ku

Masa SMA-ku

Kuhabiskan selama tiga tahun
Di sekolah yang sarana dan prasarananya tidak terlalu baik memang

-Tapi tak jadi masalah buatku-

Di sana kotor

Yang jadi persoalan
bukan kotor lantainya, dindingnya, atau lingkungannya

(Jadi, apa yang kotor?)

Politiknya kotor
Sekolah SMA-ku
yang penuh dengan para Primordialis...

OSIS-nya kotor, MPK-nya kotor
Bahkan beberapa organisasi lainnya juga kotor
Di SEKOLAH NEGERI itu
yang dapat menjadi pengurus OSIS dan pengurus MPK
hanyalah mereka yang (dianggap sebagai) Muslim (yang baik).
Yang dapat menjadi Ketua OSIS dan Ketua MPK hanyalah kaum Adam.
Mereka tidak peduli dengan hak asasi

Ya
Mereka yang mengaku terpelajar dan menghormati Tuhannya.
Dan dibalik itu semua mereka masih berkoar-koar menyuarakan kebebasan berpendapat dan
nilai-nilai luhur kepemimpinan, etika, serta moral.

Yang Nasrani ada pula yang tak jauh berbeda
Seringkali kutemui
orang-orang yang bergaul dengan rekan seagama/sesukunya saja
Dibalut dengan sikap fanatik berlebih.

Tidak.
Aku tidak suka suasana kacau balau itu
Aku merasa tidak nyaman
Muak.

Memang sudah berlalu
Tapi sangat membekas. Seringkali terbesit di dalam pikiran...
Kenapa aku bisa masuk 'Kandang Primordialis' seperti itu?

Lalat saja tidak pilih-pilih sampah basah jenis apa yang mau ia jilat

Aku netral. Tidak membela siapapun.
Juga tidak terpengaruh dan dipengaruhi siapa/apapun.
Mungkin tidak bisa sepenuhnya disebut orang baik dan patuh
Tapi aku punya pendirian prinsipil

Aku tidak akan pernah merekomendasikan siapapun untuk masuk mendaftar ke sekolah itu.
Menjadi siswa di sana, berarti harus siap menerima kenyataan
Bahwa orang-orang di sana lebih mementingkan tradisi, ketimbang akal sehat dan hak asasi.

Kuakui, mereka (yang terlibat) bukanlah orang-orang bodoh
Hanya saja hati nurani mereka buram
Ya. Buram.
Ada, namun buram.
Tentang hak asasi -hak kehidupan manusia paling dasar- saja mereka berani langgar.

Dan aku yakin setiap manusia terlahir dengan hak asasi. Siapapun Tuhan mereka.
Apapun agama dan ras/suku mereka.

Menjemukan. Tamak. Egois.
Munafik.
Terkutuklah mereka yang memulai dan menjalankan sistem dalam tradisi hitam itu.

Namun, aku tahu
Di antara mereka (yang terlibat)
masih ada yang berpikiran kurang lebih sama denganku
dan sependapat dalam hal ini.

Dan di luar itu semua
Aku suka dengan masa SMA-ku
Aku rindu masa-masa itu.



Bandung, 18 November 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 03 Desember 2010

Hujan Desember

Hujan Desember baru dimulai
Membasahi bibir teratai
Bergerak-talu dalam gemulai.

Hujan Desember baru dimulai
Membasuh kering tali surai
Menerpa kenangan yang tersemai.

Hujan Desember baru dimulai
Mengikat setiap yang tercerai
Menyatu kalbu seputih renai.



Bandung, 1 Desember 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Kamis, 18 November 2010

Kamar

Ku pandangi sudut ruang
Semburat pejam tak lantas terang

Debu kerak sambung berabu
Mengiba lantai bersemen batu

Dinding di banyak retak
Tegak diri menyalam pundak

Ini ranjang berurat, pengap
Cumbu buta berujung lelap

Di sini lah...
Tak satu 'kan cuat kilah

Muda-mudi tak bermalu
Tua-muda jadi benalu



Bandung, 12 Agustus 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Perempuan

Jangan-jangan aku benar
Memang kau pantas jadi pelipur lara

Kau!
Perempuan!

Yang dibilang lupa kehormatan
Atau hilang tenggelam harta
Pukul rugi,
Pulang mati di sekitaran laki

Kau!
Perempuan!

Yang tak lagi aku kenal
Atau kau yang memihak lain

Mengecam duka-luka percuma
Musti raib dipingit pagi buta
Dan berpeluk kembali bukan buat janji

Cumbu di muka. Lupa
Gadis jelita. Luka

Kita yang tak pernah mesra
Yang berhutang nafsu muda

Kita yang pernah mencinta

Cuma bumi tak sudi merajut kita



Bandung, 15 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Rabu, 28 Juli 2010

Cerita Buat Si Perjaka Tua

Jika saja hujan Desember dapat mengelabui indahnya langit sore, maka perjaka tua itu tidak akan selalu merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Paling tidak ia akan masuk ke dalam kamar yang hanya berukuran 3x3 meter dan hanya satu-satunya yang terdapat di rumah peninggalan zaman Belanda itu yang dahulu dijadikan sebagai gudang kopra. Selain Si Perjaka Tua, peraduan kamar itu juga ditempati oleh ibu kandungnya yang sudah tua renta dan bekas Jugun Ianfu pada zaman Jepang dulu, serta oleh kakak-kakak dan adik-adiknya ─yang sudah beristri dan berkeluarga─ yang sesekali mengunjungi rumah mereka dan kadang-kadang menginap satu-dua malam di sana, sehingga bisa saja Si Perjaka Tua merenungi nasib dan bercerita bersama satu atau beberapa anggota keluarganya yang masih tersisa, selain ayah kandungnya yang sudah lama mati terjangkit TBC dan sipilis karena terlalu sering keluar malam dan main perempuan lacur jajanan murah Stasiun Senen.

Atau perjaka tua itu dapat saja main hujan-hujanan di tengah derasnya hujan sore dan bahagia merasakan masa kanak-kanaknya kembali yang dahulu terbuang sia-sia oleh kisutnya takdir Tuhan buat dirinya. Meskipun ia seorang fobia kilat dan gelegar petir, orang-orang terdekatnya lebih yakin kalau ia fobia dengan wanita ─lebih rinci lagi fobia dengan wanita cantik─, tapi ia juga bukan pecinta sesama jenis yang akan langsung kalap ketika masa lalunya diungkit-ungkit. Buat ia, wanita cantik (menurut standar Si Perjaka Tua) adalah makhluk yang dikirim Tuhan ke dunia untuk menambah beban mental dan pikiran setiap pria, serta merusak moral para pria baik-baik ─yang menurut Si Perjaka Tua, dirinya ialah sosok ideal seorang pria baik-baik─, karena berdasarkan beberapa pengalaman lalunya, wanita cantik hanya piaraan yang memporakporandakan tatanan kebahagiaan hidupnya dan hidup keluarganya, termasuk hidup mendiang ayah kandungnya. Kecantikan pula yang membuat hidup sang ibunda terseret ke dalam neraka
Jugun Ianfu pada masa mudanya.

Namun sore hari ini ialah sore yang lain dari biasanya. Lain buat dirinya dan lain buat cerita hidupnya. Sore ini memang ia merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya seperti biasa. Namun kali ini ia merenung seraya melontarkan sebuah tanya buat Tuhannya. Satu Tuhan yang orang-orang sembah dengan berbagai cara, satu Tuhan yang oleh orang-orang suka dimintai doa dengan berbagai cara, dan satu Tuhan yang dipuja-puji oleh orang-orang dengan berbagai cara pula. Si Perjaka Tua bertanya, “Tuhan, kapan hujan akan turun? Di sore Desember ini, ya Tuhanku...” lalu Tuhan menjawab, “Sayang sekali, Aku tidak merancang hujan Desember atau hujan di bulan apa pun yang dapat mengelabui langit sore ini... juga langit sore selanjutnya.” Demikianlah Tuhan menjawab pertanyaan Si Perjaka Tua. Hingga setiap sore ia terus merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Rumah tua keluarganya. Sampai ia mati.


Bandung, 2 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 02 Januari 2009

Bosan

Aku di sini sendiri
Memugar segala asa
Belajar mengurung benci

Sendiri
Membungkam kata dusta
Tak lamat dalam hati

Paderi...
Mencuat nista?
Ataukah lagi kemanusiaan tak jadi arti?

Aku di sini sendiri
Lalu apa lagi kau lihat?

— Saban kali? —

Ah, lagi bertangkup jiwa dengan nyawa...!!


Jakarta, 20 November 2008
Dewobroto Adhiwignyo

Selama Hidup

Lihat ke sana!
Lihat ke depan!

Waktu bertampuk arogan
Tak ditanggap hidup semampai badan

Biar mulut sampai berbuih darah
Itu hari membantah-bantah...
Tahun bersimbah-simbah...
Simpai waktu melingkar patah-patah...

Begini juga adanya

Nelangsa hitam menggunung-gunung

Lihat ke sana!
Lihat ke depan!

Ketokan kayu mengabit-abit
Tambah nasib ditelan pahit-pahit
Bukan takdir harus dipasrahi
‘Lainkan hidup mesti kita uji

Pukat bentang lahir berikut api
Mirisnya umur kita bagi-bagi
Tinggal derita sesal tak berarti

Eh, durjana kubur tiba pula di alam muka...!


Jakarta, 19 November 2008
Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 19 Desember 2008

Sajak buat Clamentine

Jangan kau rongrong keladi kecil itu!
Keladi-keladi kecil
duduk bersilang badan
Atas dosa makhluk di bumi

Pernah ku damba menenggak anggur hitam
Yang sesekali tak ku paham rekahannya
Minum segelas: hingga berdansa
Minum sebotol: sampai mabuk tanpa arah

— dengan siapa? —

Clamentine;
Si gadis kecil

Sedayu ratap duka mencekam
Bikin Kumara naik pitam
Jadi seketika abu mutiara hitam
Biar binasa dalam kelam

Maaf!
Anak dara pinangan Tuan
tak mengerti soal cinta!

— Jangan paksa buat kasmaran —

Anak borjuis itu
hanya pengen belajar aljabar
Diiringi musik Mozart — “Eine Kleine Nachtmusik”
Sambil nonton tarian Waltz...


Jakarta, 27 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo

Bimbang

Malam ini begitu sendu
Tak tahu harus ku buat apa
Namun aku tenang...

Ini kantuk hilang diambil mirza
Entah ke mana ia
Tak tahu harus ku laku apa
Namun aku tentram...
Dalam temaram putih
Sesekali terbias muram

Gusar aku;
Hingga jiwa ini teriak!
Ah, raga ini pun terus bertalu...
Seakan tak mau malu
Pada cecak di dinding kamar

Oh, Tuan...
Kuncup manis itu
Memang tak tahu malu!


Jakarta, 2 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo

Acuh

Aku belajar berbuat;
maka itu ku kenang engkau


Letih melafas ayat-ayat egomu


Tak satu acuh pun

untuk madumu


Di sini aku

belajar untuk berkenang


Mati sendiri tak jua ku menyesal

Tiada satu setan pun datang merayu

atau malaikat merajam tirani pula


Jiwa ini semakin tabu,

raga ini terus digebu

Katakan saja maumu!


Ini punyaku;

dan punyamu

bukan milikku


Ah, jangan jatuh cinta!

Aku tak peduli;

Enyah...

Engkau pergi saja!



Jakarta, 7 Agustus 2008

Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 05 Desember 2008

Nonsens

Dera yang ku dengar tak lagi mengganggu
Buat raga ini terus berseru
Hingga debu ketiadaan coba ‘tuk gerus imaji
Maka luapkan saja kerak-kerak amarahmu!

Kita bicara kebenaran universal
Bahwasanya tidak semua itu relatif
Peduli setan dengan gerombolan militan
Atas kaum-kaum demokrat palsu

Jangan traumatis dengan ideologi nonsens!
Karena kita adalah pemain perasaan
Yang punya pemikiran dan harapan
Sebagai insan berbudi berakal

Bila sampai nanti...
Teruslah mengejar yang pasti
Berkabunglah semua mimpi
Dan inspirasi semu

Atas nama “Kami”


Jakarta, 22 April 2008

Dewobroto Adhiwignyo

Waktu Itu

Seperti ku pada waktu itu
..................................
Hari ini aku tersenyum
Walau hati ini tertutup ranum

Biarlah ia menari meski untuk sejenak
Sampai waktuku habis berdetak
Hanya dengan asa ia tinggalkan rasa
Namun bagiku tak mengapa

Berpeluh muram aku bersenandung
Acuhkan sayu tatap mata itu

Hidup ini sepi... hampa dan sendiri
Maka pandangi saja hutan-hutan malam yang sunyi
Juga hiruk pikuk pagi kicauan burung gereja

— Maka ‘kan ku temukan jalan itu —


Bekasi, 25 Oktober 2007

Dewobroto Adhiwignyo

Jumat, 28 November 2008

Sendiri

Kemarin aku tersenyum dalam kesepian
Hari ini aku tertawa dalam kesunyian
Dan esok aku bersukacita dalam kesendirian
Larut ku rasa; hening...

Jiwa-jiwa yang sepi mengitar elok pusara fajar
Lalu tanpa sadar tenggelam perlahan
Dalam ribaan cakrawala senja
Dengan budak duniawi yang begitu pekat

Angin dingin penyesalan
Bertiuplah kemari serta beribu kenangan
Sambil bertakjub menunggu kepastian
Aku terdiam bisu dalam angan


Bekasi, 23 Juli 2007

Kamis, 20 November 2008

Prasangka-Logika-Pemikiran

Aku seperti terik mentari di siang bolong
Namun bak redup rembulan kala malam menjemput
Bilamana hati tak lagi berbisik
Maka prasangka lah yang akan teriak

Aku adalah orang yang
menerobos waktu dengan pemikiran...
Melesakkan logika ke dalamnya...
Dan menebar bimbang
Ke setiap hati manusia yang berdecak

Tiba sampai di persimpangan jalan
Masih jua terbuai godaan semu keadilan

Semua tak’kan berubah!
Walau jiwa-jiwa yang tak tenang terus menentang
...................................................................
Malam pun semakin bosan...
Ufuk timur mulai bersinar...
Nampak embun pagi mulai nakal
memperlihatkan guratan-guratannya

Serupa sirna dalam keremangan

Tapi aku masih belum terjaga
— Atau tidak selamanya? —
Hingga waktu berakhir
Dan aku pun mati


Bekasi, kuartal akhir 2006

Dewobroto Adhiwignyo