Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."

Rabu, 24 Juni 2009

Cinta dalam Opini

Ketika ada seorang teman yang bertanya soal urusan cinta, saya hanya bisa dan hanya mau menjawab, ”Tampaknya cinta adalah sesuatu yang tabu bagi saya dan untuk saat ini saya tidak mau kehidupan saya mempengaruhi atau dipengaruhi oleh hal-hal tabu seperti cinta.”

Terus terang, selama ini saya selalu mencoba menjauh dan menahan diri untuk tidak terjebak dalam suatu komplikasi cinta yang melibatkan hasrat dan perasaan. Meskipun harus saya akui, sebagai manusia biasa, apa lagi yang sedang berada dalam t
ahap usia remaja dan masa pubertas, kehidupan saya tidak terlepas dari permainan cinta dan perasaan. Dalam hal ini, saya membahas cinta dalam konteks cinta kepada lawan jenis.

Cinta juga biasa dianggap sebagai naluri alami manusia yang oleh kebanyakan orang diartikan sebagai bentuk implementasi kasih sayang, baik kasih say
ang orang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya, atau kasih sayang seseorang kepada lawan jenisnya. Namun, untuk poin yang ketiga tadi saya tidak terlalu yakin hal itu selalu berujung pada kebahagiaan, karena hal itu juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang.

Selama 17 tahun, saya mendapati tertarik pada beberapa teman perempuan saya, meskipun dalam beberapa rasa ketertarikan itu seringkali saya tidak sempat
atau tidak berani menyatakan perasaan saya. Pada akhirnya hubungan saya dengan mereka tadi selalu berakhir dengan suatu ketidakjelasan emosional yang disebabkan oleh banyak hal, mulai dari sekedar masalah gengsi untuk kembali berhubungan, hingga persoalan di mana ia mendapati teman laki-laki baru yang menurutnya lebih pantas ketimbang saya.

Pada usia remaja seperti sekarang ini, tidak sedikit pula teman-teman sebaya di sekitar saya yang menanggapi urusan cinta dengan sikap opurtunisme. Ya, seorang opurtunis sejati akan melakukan segala cara demi meraih mimpi dan tujuannya, termasuk dalam meraih simpatik lawan jenis yang memikat hatinya. Bisa dibilang, seorang opurtunis ialah orang yang sangat egois, tidak memiliki hati dan nurani.

Tidak! saya bukan orang seperti mereka!! Lalu mengapa mereka masih saja mau dan rela meluangkan waktunya hanya untuk membicarakan urusan cinta (anak remaja)?

Dalam klimaks suasana kejenuhan sekarang ini, saya mulai berpikir, kandungan apa saja yang terdapat dalam perasaan cinta (kepada lawan jenis)? Menga
pa saya bisa sampai menaruh hati pada seorang perempuan yang bahkan ia belum tentu mengacuhkan keberadaan saya?

Pertanyaan seputar cinta yang selama ini memenuhi benak dan memusingkan kepala ini akhirnya terjawab setelah saya menemukan suatu kesimpulan bahwa: cinta seseorang terhadap lawan jenisnya tidak ada yang murni 100% berdasarkan kasih sayang. Ya, karena pada hakikatnya kita adalah manusia yang terlahir dengan hawa nafsu, termasuk hawa nafsu dalam urusan cinta. Intinya, saya mendefinisikan cinta pada lawan jenis sebagai suatu hal yang tercipta oleh dua unsur; kasih sayang dan nafsu. Itulah alasannya, mengapa cinta orang tua kepada anaknya, atau cinta seorang kakak kepada adiknya berbeda dengan cinta seseorang kepada lawan jenisnya. Jawabannya jelas, karena cinta seseorang pada lawan jenisnya selain mengandung kasih sayang, juga mengandung unsur nafsu, baik itu nafsu yang melibatkan birahi/nafsu seks, nafsu untuk memiliki, atau nafsu-nafsu lainnya yang berada di luar konteks kasih sayang.

Suatu kali, saya pernah membaca buku di mana dalam buku tersebut ada seorang pria lajang yang berpendapat, ”Jika aku benar-benar mencintai istriku kelak sepenuhnya dengan kasih sayang, aku tidak akan rela meminta kehormatannya untuk ia berikan padaku. Paling jauh, aku hanya akan mencium dan memeluk erat-erat istriku tercinta kelak.” Sedikit orang
termasuk saya yakin bahwa itulah yang dinamakan cinta sejati.

Saya rasa, pendapat orang itu ada benarnya juga, namun pastinya akan menggelitik pikiran setiap orang yang mendengarnya, termasuk saya. Saya yakin, kebanyakan orang akan merespon pendapat itu dengan sanggahan yang kurang lebih berbunyi seperti ini: ”Bagaimana mungkin pria itu tidak rela meminta kehormatan dari istrinya? Sedangkan tujuan seseorang untuk menikah adalah untuk punya anak dan melanjutkan keturunan, memperoleh kebahagiaan, serta menikah untuk memenuhi hasrat seksual masing-masing individu, baik suami maupun istri.”

Lagi-lagi, respon sanggahan dari pendapat pria lajang itu membuat saya menarik kesimpulan yang sama dengan pendapat saya sebelumnya bahwa cinta seseorang pada lawan jenisnya tidak akan luput dari hawa nafsu. Sejalan dengan prinsip dasar dan tujuan-tujuan yang mendorong seseorang untuk menikah seperti yang terpapar di atas.

Suatu waktu, saya pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Ia berusia sekitar 2 tahun lebih tua dari saya. Saat itu, hampir di setiap akhir pekan
setiap sore saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, sekedar untuk mengobrol, juga bertemu dengan kakak-kakak dan orang tuanya. Saya juga sering mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang menurut kami berdua menarik; meskipun cuma naik kendaraan umum, karena saya tidak punya kendaraan. Sedikitpun saya tidak berani dan tidak mau untuk 'mengapa-apakan' dia, karena saya menghormati perempuan itu sebagai pacar saya. Untuk menyentuh tangannya pun saya pikir-pikir dulu, apakah benar-benar perlu atau tidak. Dari rumahnya, saya selalu pulang tidak lebih dari pukul 21.00... tidak enak dengan keluarganya kalau bertamu terlalu larut. Setiap pamit pulang, saya selalu berkata bahwa saya sangat mencintai dan menyayanginya, dan tiap kali saya mengatakan itu, saya yakin bahwa cinta yang saya berikan kepadanya ialah setulus-tulusnya cinta, begitu pula dengan perasaan dia terhadap saya.

Meskipun saya sudah cukup lama mengenal dia, hubungan saya dengan perempuan itu tidak berlangsung lama; tidak sampai enam bulan malah. Ya, semuanya berakhir dengan sia-sia belaka; tanpa ujung penyelesaian yang jelas. Ketika itu saya diliputi oleh kesedihan yang begitu mendalam. Bagaimana tidak? Di saat saya mulai mempelajari cara memahami orang lain, seolah-oleh tidak ada seorang pun yang dapat mengerti perasaan saya.

Sekarang yang tersisa dalam hati saya hanya kebencian mendalam pada perempuan itu. Sejak saat itu titik awal kekecewaan saya terhadap cinta dimulai. Hal inilah yang saya maksud pada kalimat sebelumnya, bahwa cinta juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang
membekas selamanya dan tidak akan hilang.

Kembali ke topik utama. Unsur nafsu pasti selalu ada dalam perasaan cinta. Pada akhirnya kita sampai pada satu titik temu bahwa manusia hanya bisa
dan hanya diperkenankan untuk mengatur kadar kasih sayang dan nafsu lewat cinta yang ia curahkan kepada lawan jenisnya. Cinta yang tulus ialah cinta dengan kadar kasih sayang jauh lebih besar ketimbang kadar nafsunya. Tentu saja hal ini juga berkaitan erat dengan hakikat sifat dasar manusia yang terdiri atas tiga hal; akal, budi/nurani, dan nafsu.


Bekasi, 24 Juni 2009

Dewobroto Adhiwignyo

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ini Krisna wo, males login
Wow lama juga lw nulis ini dan baru diposting sekarang

Ini yang gw cari, sebuah penulisan tentang Cinta yang tidak seperti orang kebanyakan. Gw setuju dengan kebanyakan tulisan disini.

Gw ada beberapa opini tapi gak cukup bisa disampaikan dengan memuaskan sih :p