Quotation
Kamis, 18 November 2010
Sebuah Puisi dari Alm. Soe Hok Gie
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, Sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu, Sayangku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
Mari sini, Sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita tak 'kan pernah kehilangan apa-apa
Selasa, 11 November 1969
Soe Hok Gie
Kamar
Semburat pejam tak lantas terang
Debu kerak sambung berabu
Mengiba lantai bersemen batu
Dinding di banyak retak
Tegak diri menyalam pundak
Ini ranjang berurat, pengap
Cumbu buta berujung lelap
Di sini lah...
Tak satu 'kan cuat kilah
Muda-mudi tak bermalu
Tua-muda jadi benalu
Bandung, 12 Agustus 2010
Dewobroto Adhiwignyo
Perempuan
Memang kau pantas jadi pelipur lara
Kau!
Perempuan!
Yang dibilang lupa kehormatan
Atau hilang tenggelam harta
Pukul rugi,
Pulang mati di sekitaran laki
Kau!
Perempuan!
Yang tak lagi aku kenal
Atau kau yang memihak lain
Mengecam duka-luka percuma
Musti raib dipingit pagi buta
Dan berpeluk kembali bukan buat janji
Cumbu di muka. Lupa
Gadis jelita. Luka
Kita yang tak pernah mesra
Yang berhutang nafsu muda
Kita yang pernah mencinta
Cuma bumi tak sudi merajut kita
Bandung, 15 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo
Rabu, 28 Juli 2010
Cerita Buat Si Perjaka Tua
Atau perjaka tua itu dapat saja main hujan-hujanan di tengah derasnya hujan sore dan bahagia merasakan masa kanak-kanaknya kembali yang dahulu terbuang sia-sia oleh kisutnya takdir Tuhan buat dirinya. Meskipun ia seorang fobia kilat dan gelegar petir, orang-orang terdekatnya lebih yakin kalau ia fobia dengan wanita ─lebih rinci lagi fobia dengan wanita cantik─, tapi ia juga bukan pecinta sesama jenis yang akan langsung kalap ketika masa lalunya diungkit-ungkit. Buat ia, wanita cantik (menurut standar Si Perjaka Tua) adalah makhluk yang dikirim Tuhan ke dunia untuk menambah beban mental dan pikiran setiap pria, serta merusak moral para pria baik-baik ─yang menurut Si Perjaka Tua, dirinya ialah sosok ideal seorang pria baik-baik─, karena berdasarkan beberapa pengalaman lalunya, wanita cantik hanya piaraan yang memporakporandakan tatanan kebahagiaan hidupnya dan hidup keluarganya, termasuk hidup mendiang ayah kandungnya. Kecantikan pula yang membuat hidup sang ibunda terseret ke dalam neraka Jugun Ianfu pada masa mudanya.
Namun sore hari ini ialah sore yang lain dari biasanya. Lain buat dirinya dan lain buat cerita hidupnya. Sore ini memang ia merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya seperti biasa. Namun kali ini ia merenung seraya melontarkan sebuah tanya buat Tuhannya. Satu Tuhan yang orang-orang sembah dengan berbagai cara, satu Tuhan yang oleh orang-orang suka dimintai doa dengan berbagai cara, dan satu Tuhan yang dipuja-puji oleh orang-orang dengan berbagai cara pula. Si Perjaka Tua bertanya, “Tuhan, kapan hujan akan turun? Di sore Desember ini, ya Tuhanku...” lalu Tuhan menjawab, “Sayang sekali, Aku tidak merancang hujan Desember atau hujan di bulan apa pun yang dapat mengelabui langit sore ini... juga langit sore selanjutnya.” Demikianlah Tuhan menjawab pertanyaan Si Perjaka Tua. Hingga setiap sore ia terus merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Rumah tua keluarganya. Sampai ia mati.
Bandung, 2 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo
Senin, 06 Juli 2009
Tiga Misteri
Well, topik yang akan saya angkat kali ini tidak terlalu berat dan serius seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya. Saya akan bercerita mengenai tiga misteri yang selama ini memenuhi benak pikiran saya.
Jika ada orang yang bertanya kepada saya tentang hal-hal yang paling menjadi misteri hidup manusia, saya akan menjawab misteri yang pertama itu adalah ”Tuhan”.
Mengapa "Tuhan"?

Di saat banyak orang lain memuja dan meminta perlindungan kepada Tuhannya ─terlepas dari agama atau sekte apapun─, saya justru dibingungkan oleh keabsahan zat yang diberi nama "Tuhan" itu sendiri. Barangkali agak terdengar angkuh, tetapi inilah saya. Paling tidak, saya masih termasuk dalam golongan manusia ”Pemercaya Tuhan”.
Sedari kecil, seringkali saya bertanya kepada orang tua dan guru agama saya, ”Apa tujuan Tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini? Toh, bila Tuhan tidak menciptakan ini semua, Ia tidak akan merugi ataupun mendapat keuntungan yang berarti. Mengapa Ia menciptakan semua ini dalam waktu tujuh hari? Bukankah akan lebih menakjubkan apabila Ia dapat menyelesaikan proyek-Nya hanya dalam waktu tiga hari atau bahkan satu hari saja?”
Bisa jadi orang-orang dewasa pada saat itu menganggap saya sebagai anak usia 6 tahun yang aneh, cerewet, dan keras kepala. Terlebih, dari sekian banyak siswa-siswi di sekolah saya pada waktu itu, hanya saya yang menanyakan hal-hal tadi yang umumnya tidak terlintas dalam pikiran anak kecil pada umumnya.
Lalu orang-orang dewasa tersebut hanya menjawab, ”Itu semua adalah rahasia Tuhan. Sesungguh-Nya Ia lebih mengetahui dari apa yang kita (manusia) ketahui.”
Ketika itu sebagai anak berusia 6 tahun, tentu saya tidak merasa puas dengan jawaban tadi. Bahkan, hingga saat ini pun, di usia saya yang telah menginjak 17 tahun, jawaban yang saya dengar dari semua orang masih tetap sama dengan jawaban yang saya dengar ketika dulu berusia 6 tahun. Saya tidak mengerti, sepertinya semua orang merasa takut untuk sekedar mereka-reka jalan pikiran Tuhan. Seolah-olah akal pikiran mereka dimatikan oleh doktrin-doktrin agama tentang kerahasiaan Tuhan yang begitu mandarah daging. Seolah-olah mereka enggan menggunakan logika dan nalar berpikirnya untuk minimal mengetahui asal usul jagad raya ini. Paling tidak, bagi mereka yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan selalu memandang segala sesuatunya secara empiris.
Perlu saudara ketahui, meskipun hal tentang Tuhan tadi masih menjadi misteri paling besar dalam hidup saya sekarang ini ─dan barangkali hingga saya mati kelak─, saya akan tetap memercayai keberadaan Tuhan.
Saya lanjutkan pada misteri yang ke-2, yaitu ”cinta”.
Bagi yang sudah membaca postingan saya di entri sebelumnya berjudul ”Cinta dalam Opini” tertanggal 24 Juni 2009, mungkin sudah sedikit tahu tentang pencitraan cinta di mata saya. Bagi yang belum membaca, karena saya tidak mau lagi capek-capek menulis panjang lebar mengenai definisi cinta, saudara bisa membaca entri ”Cinta dalam Opini” tersebut. Harap maklum, saya agak ─bahkan mungkin sangat─ pemalas. (-_-)"
Baiklah, saya akan membahas misteri ke-3, yakni mengenai makhluk luar angkasa, atau yang pada umumnya disebut alien.
Sebagian orang mungkin menganggap hal ini lucu; seorang (calon) mahasiswa berusia 17 tahun sangat penasaran memikirkan hal-hal seperti alien, UFO, dan sebagainya. Tapi tak apalah, toh ini tulisan saya, dunia pemikiran saya... peduli setan orang lain mau berkomentar apa.
Waktu SMP saya pernah membaca buku berjudul ”Misteri UFO”. Saya mendapatkan buku itu dari sebuah kios buku loakan. Tak ada alasan khusus, mengapa saat itu saya amat tertarik untuk membelinya... yang jelas, saya membeli buku itu karena harganya relatif murah, kalau tidak salah hanya Rp 10.000,00.
Buku loakan setebal 300-an halaman itu berisi tentang berbagai kisah penampakan UFO dan pengalaman-pengalaman orang yang pernah berinteraksi dengan alien, seperti Reka Ulang Roswell, Area 51, dan penampakan UFO di tengah pasukan udara Nazi Jerman saat Perang Dunia II. Entah, itu kisah nyata atau sekedar sensasi yang dibuat-buat. Jujur, hingga saat ini pun saya masih setengah percaya dengan kisah-kisah alien itu. Kalau memang itu hanya cerita yang dibuat-buat, biarlah cerita-cerita itu menjadi bagian dari alam imajinasi saya. Saya tidak akan merasa dibodohi oleh siapapun.
Cukup sekian entri saya kali ini. Yah, karena ini misteri... jadi saya tidak banyak mengetahui fakta tentang keberadaannya. Wajarlah jika kali ini saya tidak bercerita secara panjang lebar dan mendetail... hanya bercerita santai. Pada saat menulis kalimat penutup ini pun saya masih belum yakin tulisan ini layak untuk dibaca publik atau tidak.
Bekasi, 6 Juli 2009
Dewobroto Adhiwignyo
Rabu, 24 Juni 2009
Cinta dalam Opini
Ketika ada seorang teman yang bertanya soal urusan cinta, saya hanya bisa ─dan hanya mau─ menjawab, ”Tampaknya cinta adalah sesuatu yang tabu bagi saya dan untuk saat ini saya tidak mau kehidupan saya mempengaruhi atau dipengaruhi oleh hal-hal tabu seperti cinta.”
Terus terang, selama ini saya selalu mencoba menjauh dan menahan diri untuk tidak terjebak dalam suatu komplikasi cinta yang melibatkan hasrat dan perasaan. Meskipun harus saya akui, sebagai manusia biasa, apa lagi yang sedang berada dalam tahap usia remaja dan masa pubertas, kehidupan saya tidak terlepas dari permainan cinta dan perasaan. Dalam hal ini, saya membahas cinta dalam konteks cinta kepada lawan jenis.
Cinta juga biasa dianggap sebagai naluri alami manusia yang oleh kebanyakan orang diartikan sebagai bentuk implementasi kasih sayang, baik kasih sayang orang tua kepada anaknya, kakak kepada adiknya, atau kasih sayang seseorang kepada lawan jenisnya. Namun, untuk poin yang ketiga tadi saya tidak terlalu yakin hal itu selalu berujung pada kebahagiaan, karena hal itu juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang.
Selama 17 tahun, saya mendapati tertarik pada beberapa teman perempuan saya, meskipun dalam beberapa rasa ketertarikan itu seringkali saya tidak sempat ─atau tidak berani─ menyatakan perasaan saya. Pada akhirnya hubungan saya dengan mereka tadi selalu berakhir dengan suatu ketidakjelasan emosional yang disebabkan oleh banyak hal, mulai dari sekedar masalah gengsi untuk kembali berhubungan, hingga persoalan di mana ia mendapati teman laki-laki baru yang menurutnya lebih pantas ketimbang saya.
Pada usia remaja seperti sekarang ini, tidak sedikit pula teman-teman sebaya di sekitar saya yang menanggapi urusan cinta dengan sikap opurtunisme. Ya, seorang opurtunis sejati akan melakukan segala cara demi meraih mimpi dan tujuannya, termasuk dalam meraih simpatik lawan jenis yang memikat hatinya. Bisa dibilang, seorang opurtunis ialah orang yang sangat egois, tidak memiliki hati dan nurani.
Tidak! saya bukan orang seperti mereka!! Lalu mengapa mereka masih saja mau dan rela meluangkan waktunya hanya untuk membicarakan urusan cinta (anak remaja)?
Dalam klimaks suasana kejenuhan sekarang ini, saya mulai berpikir, kandungan apa saja yang terdapat dalam perasaan cinta (kepada lawan jenis)? Mengapa saya bisa sampai menaruh hati pada seorang perempuan yang bahkan ia belum tentu mengacuhkan keberadaan saya?
Pertanyaan seputar cinta yang selama ini memenuhi benak dan memusingkan kepala ini akhirnya terjawab setelah saya menemukan suatu kesimpulan bahwa: cinta seseorang terhadap lawan jenisnya tidak ada yang murni 100% berdasarkan kasih sayang. Ya, karena pada hakikatnya kita adalah manusia yang terlahir dengan hawa nafsu, termasuk hawa nafsu dalam urusan cinta. Intinya, saya mendefinisikan cinta pada lawan jenis sebagai suatu hal yang tercipta oleh dua unsur; kasih sayang dan nafsu. Itulah alasannya, mengapa cinta orang tua kepada anaknya, atau cinta seorang kakak kepada adiknya berbeda dengan cinta seseorang kepada lawan jenisnya. Jawabannya jelas, karena cinta seseorang pada lawan jenisnya selain mengandung kasih sayang, juga mengandung unsur nafsu, baik itu nafsu yang melibatkan birahi/nafsu seks, nafsu untuk memiliki, atau nafsu-nafsu lainnya yang berada di luar konteks kasih sayang.
Suatu kali, saya pernah membaca buku di mana dalam buku tersebut ada seorang pria lajang yang berpendapat, ”Jika aku benar-benar mencintai istriku kelak sepenuhnya dengan kasih sayang, aku tidak akan rela meminta kehormatannya untuk ia berikan padaku. Paling jauh, aku hanya akan mencium dan memeluk erat-erat istriku tercinta kelak.” Sedikit orang ─termasuk saya─ yakin bahwa itulah yang dinamakan cinta sejati.
Saya rasa, pendapat orang itu ada benarnya juga, namun pastinya akan menggelitik pikiran setiap orang yang mendengarnya, termasuk saya. Saya yakin, kebanyakan orang akan merespon pendapat itu dengan sanggahan yang kurang lebih berbunyi seperti ini: ”Bagaimana mungkin pria itu tidak rela meminta kehormatan dari istrinya? Sedangkan tujuan seseorang untuk menikah adalah untuk punya anak dan melanjutkan keturunan, memperoleh kebahagiaan, serta menikah untuk memenuhi hasrat seksual masing-masing individu, baik suami maupun istri.”
Lagi-lagi, respon sanggahan dari pendapat pria lajang itu membuat saya menarik kesimpulan yang sama dengan pendapat saya sebelumnya bahwa cinta seseorang pada lawan jenisnya tidak akan luput dari hawa nafsu. Sejalan dengan prinsip dasar dan tujuan-tujuan yang mendorong seseorang untuk menikah seperti yang terpapar di atas.
Suatu waktu, saya pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan. Ia berusia sekitar 2 tahun lebih tua dari saya. Saat itu, hampir di setiap akhir pekan ─setiap sore─ saya selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, sekedar untuk mengobrol, juga bertemu dengan kakak-kakak dan orang tuanya. Saya juga sering mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang menurut kami berdua menarik; meskipun cuma naik kendaraan umum, karena saya tidak punya kendaraan. Sedikitpun saya tidak berani dan tidak mau untuk 'mengapa-apakan' dia, karena saya menghormati perempuan itu sebagai pacar saya. Untuk menyentuh tangannya pun saya pikir-pikir dulu, apakah benar-benar perlu atau tidak. Dari rumahnya, saya selalu pulang tidak lebih dari pukul 21.00... tidak enak dengan keluarganya kalau bertamu terlalu larut. Setiap pamit pulang, saya selalu berkata bahwa saya sangat mencintai dan menyayanginya, dan tiap kali saya mengatakan itu, saya yakin bahwa cinta yang saya berikan kepadanya ialah setulus-tulusnya cinta, begitu pula dengan perasaan dia terhadap saya.
Meskipun saya sudah cukup lama mengenal dia, hubungan saya dengan perempuan itu tidak berlangsung lama; tidak sampai enam bulan malah. Ya, semuanya berakhir dengan sia-sia belaka; tanpa ujung penyelesaian yang jelas. Ketika itu saya diliputi oleh kesedihan yang begitu mendalam. Bagaimana tidak? Di saat saya mulai mempelajari cara memahami orang lain, seolah-oleh tidak ada seorang pun yang dapat mengerti perasaan saya.
Sekarang yang tersisa dalam hati saya hanya kebencian mendalam pada perempuan itu. Sejak saat itu titik awal kekecewaan saya terhadap cinta dimulai. Hal inilah yang saya maksud pada kalimat sebelumnya, bahwa cinta juga bisa menjadi bumerang yang dapat melukai perasaan seseorang ─membekas selamanya dan tidak akan hilang.
Kembali ke topik utama. Unsur nafsu pasti selalu ada dalam perasaan cinta. Pada akhirnya kita sampai pada satu titik temu bahwa manusia hanya bisa ─dan hanya diperkenankan─ untuk mengatur kadar kasih sayang dan nafsu lewat cinta yang ia curahkan kepada lawan jenisnya. Cinta yang tulus ialah cinta dengan kadar kasih sayang jauh lebih besar ketimbang kadar nafsunya. Tentu saja hal ini juga berkaitan erat dengan hakikat sifat dasar manusia yang terdiri atas tiga hal; akal, budi/nurani, dan nafsu.
Bekasi, 24 Juni 2009
Dewobroto Adhiwignyo
Jumat, 12 Juni 2009
Sebuah Persimpangan Jati Diri
Bukan aku tak bersyukur ketika Engkau menghembus nafas ruhku ke dalam raga ini menuju dunia semu penuh dosa

II
Jika Yahudi, Kristen, dan Islam, ketiga-tiga dari agama samawi tersebut masing-masing merasa sebagai satu-satunya yang benar daripada yang lain, maka iman manakah yang benar-benar mencintai seluruh sesamanya? Yang menganggap orang-orang di luar agamanya juga sebagai saudaranya dan saling mengasihi.
Ya, barangkali benar bila ada seorang filsuf yang pernah berkata bahwa agama adalah bagian dari ideologi hidup... tak jauh-jauh dari urusan politik dan sosialita kemasyarakatan. Sesuatu yang wajar apabila agama diartikan sebagai sarana investasi iman.
Saya bukan orang bodoh yang cuma ikut-ikutan. Saya tak mau menjadi orang saklek yang mengatasnamakan Tuhan dan agama yang ia anut hanya untuk menyatakan orang lain di luar agamanya itu tak pantas mencium aroma surga. Saya tak seperti murid-murid Masjid non-prinsipil yang cuma ikut-ikutan datang mencopot alas kaki, lalu dengan tampang lugu sok ngerti dan santun duduk manis mendengar cerita murobbi atau ustadz yang biasanya banyak dibumbui dan belum pasti benar sama dengan aturan Tuhan sebenarnya dalam kitab suci.
Yang jelas, saya tahu bahwa Tuhan itu satu dan tak dapat disekutukan. Logika membuat saya berpikir demikian... nalar pula yang menjawabnya. Lalu bagaimana dengan nasib iman?
Bekasi, 12 Juni 2009
Dewobroto Adhiwignyo