Aku di sini sendiri
Memugar segala asa
Belajar mengurung benci
Sendiri
Membungkam kata dusta
Tak lamat dalam hati
Paderi...
Mencuat nista?
Ataukah lagi kemanusiaan tak jadi arti?
Aku di sini sendiri
Lalu apa lagi kau lihat?
— Saban kali? —
Ah, lagi bertangkup jiwa dengan nyawa...!!
Jakarta, 20 November 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Quotation
"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."
Jumat, 02 Januari 2009
Selama Hidup
Lihat ke sana!
Lihat ke depan!
Waktu bertampuk arogan
Tak ditanggap hidup semampai badan
Biar mulut sampai berbuih darah
Itu hari membantah-bantah...
Tahun bersimbah-simbah...
Simpai waktu melingkar patah-patah...
Begini juga adanya
Nelangsa hitam menggunung-gunung
Lihat ke sana!
Lihat ke depan!
Ketokan kayu mengabit-abit
Tambah nasib ditelan pahit-pahit
Bukan takdir harus dipasrahi
‘Lainkan hidup mesti kita uji
Pukat bentang lahir berikut api
Mirisnya umur kita bagi-bagi
Tinggal derita sesal tak berarti
Eh, durjana kubur tiba pula di alam muka...!
Jakarta, 19 November 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Lihat ke depan!
Waktu bertampuk arogan
Tak ditanggap hidup semampai badan
Biar mulut sampai berbuih darah
Itu hari membantah-bantah...
Tahun bersimbah-simbah...
Simpai waktu melingkar patah-patah...
Begini juga adanya
Nelangsa hitam menggunung-gunung
Lihat ke sana!
Lihat ke depan!
Ketokan kayu mengabit-abit
Tambah nasib ditelan pahit-pahit
Bukan takdir harus dipasrahi
‘Lainkan hidup mesti kita uji
Pukat bentang lahir berikut api
Mirisnya umur kita bagi-bagi
Tinggal derita sesal tak berarti
Eh, durjana kubur tiba pula di alam muka...!
Jakarta, 19 November 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Jumat, 19 Desember 2008
Sajak buat Clamentine
Jangan kau rongrong keladi kecil itu!
Keladi-keladi kecil
duduk bersilang badan
Atas dosa makhluk di bumi
Pernah ku damba menenggak anggur hitam
Yang sesekali tak ku paham rekahannya
Minum segelas: hingga berdansa
Minum sebotol: sampai mabuk tanpa arah
— dengan siapa? —
Clamentine;
Si gadis kecil
Sedayu ratap duka mencekam
Bikin Kumara naik pitam
Jadi seketika abu mutiara hitam
Biar binasa dalam kelam
Maaf!
Anak dara pinangan Tuan
tak mengerti soal cinta!
— Jangan paksa buat kasmaran —
Anak borjuis itu
hanya pengen belajar aljabar
Diiringi musik Mozart — “Eine Kleine Nachtmusik”
Sambil nonton tarian Waltz...
Jakarta, 27 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Keladi-keladi kecil
duduk bersilang badan
Atas dosa makhluk di bumi
Pernah ku damba menenggak anggur hitam
Yang sesekali tak ku paham rekahannya
Minum segelas: hingga berdansa
Minum sebotol: sampai mabuk tanpa arah
— dengan siapa? —
Clamentine;
Si gadis kecil
Sedayu ratap duka mencekam
Bikin Kumara naik pitam
Jadi seketika abu mutiara hitam
Biar binasa dalam kelam
Maaf!
Anak dara pinangan Tuan
tak mengerti soal cinta!
— Jangan paksa buat kasmaran —
Anak borjuis itu
hanya pengen belajar aljabar
Diiringi musik Mozart — “Eine Kleine Nachtmusik”
Sambil nonton tarian Waltz...
Jakarta, 27 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Bimbang
Malam ini begitu sendu
Tak tahu harus ku buat apa
Namun aku tenang...
Ini kantuk hilang diambil mirza
Entah ke mana ia
Tak tahu harus ku laku apa
Namun aku tentram...
Dalam temaram putih
Sesekali terbias muram
Gusar aku;
Hingga jiwa ini teriak!
Ah, raga ini pun terus bertalu...
Seakan tak mau malu
Pada cecak di dinding kamar
Oh, Tuan...
Kuncup manis itu
Memang tak tahu malu!
Jakarta, 2 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Tak tahu harus ku buat apa
Namun aku tenang...
Ini kantuk hilang diambil mirza
Entah ke mana ia
Tak tahu harus ku laku apa
Namun aku tentram...
Dalam temaram putih
Sesekali terbias muram
Gusar aku;
Hingga jiwa ini teriak!
Ah, raga ini pun terus bertalu...
Seakan tak mau malu
Pada cecak di dinding kamar
Oh, Tuan...
Kuncup manis itu
Memang tak tahu malu!
Jakarta, 2 September 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Acuh
Aku belajar berbuat;
maka itu ku kenang engkau
Letih melafas ayat-ayat egomu
Tak satu acuh pun
untuk madumu
Di sini aku
belajar untuk berkenang
Mati sendiri tak jua ku menyesal
Tiada satu setan pun datang merayu
atau malaikat merajam tirani pula
Jiwa ini semakin tabu,
raga ini terus digebu
Katakan saja maumu!
Ini punyaku;
dan punyamu
bukan milikku
Ah, jangan jatuh cinta!
Aku tak peduli;
Enyah...
Engkau pergi saja!
Jakarta, 7 Agustus 2008
Dewobroto Adhiwignyo
maka itu ku kenang engkau
Letih melafas ayat-ayat egomu
Tak satu acuh pun
untuk madumu
Di sini aku
belajar untuk berkenang
Mati sendiri tak jua ku menyesal
Tiada satu setan pun datang merayu
atau malaikat merajam tirani pula
Jiwa ini semakin tabu,
raga ini terus digebu
Katakan saja maumu!
Ini punyaku;
dan punyamu
bukan milikku
Ah, jangan jatuh cinta!
Aku tak peduli;
Enyah...
Engkau pergi saja!
Jakarta, 7 Agustus 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Jumat, 05 Desember 2008
Nonsens
Dera yang ku dengar tak lagi mengganggu
Buat raga ini terus berseru
Hingga debu ketiadaan coba ‘tuk gerus imaji
Maka luapkan saja kerak-kerak amarahmu!
Kita bicara kebenaran universal
Bahwasanya tidak semua itu relatif
Peduli setan dengan gerombolan militan
Atas kaum-kaum demokrat palsu
Jangan traumatis dengan ideologi nonsens!
Karena kita adalah pemain perasaan
Yang punya pemikiran dan harapan
Sebagai insan berbudi berakal
Bila sampai nanti...
Teruslah mengejar yang pasti
Berkabunglah semua mimpi
Dan inspirasi semu
Atas nama “Kami”
Jakarta, 22 April 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Buat raga ini terus berseru
Hingga debu ketiadaan coba ‘tuk gerus imaji
Maka luapkan saja kerak-kerak amarahmu!
Kita bicara kebenaran universal
Bahwasanya tidak semua itu relatif
Peduli setan dengan gerombolan militan
Atas kaum-kaum demokrat palsu
Jangan traumatis dengan ideologi nonsens!
Karena kita adalah pemain perasaan
Yang punya pemikiran dan harapan
Sebagai insan berbudi berakal
Bila sampai nanti...
Teruslah mengejar yang pasti
Berkabunglah semua mimpi
Dan inspirasi semu
Atas nama “Kami”
Jakarta, 22 April 2008
Dewobroto Adhiwignyo
Waktu Itu
Seperti ku pada waktu itu
..................................
Hari ini aku tersenyum
Walau hati ini tertutup ranum
Biarlah ia menari meski untuk sejenak
Sampai waktuku habis berdetak
Hanya dengan asa ia tinggalkan rasa
Namun bagiku tak mengapa
Berpeluh muram aku bersenandung
Acuhkan sayu tatap mata itu
Hidup ini sepi... hampa dan sendiri
Maka pandangi saja hutan-hutan malam yang sunyi
Juga hiruk pikuk pagi kicauan burung gereja
— Maka ‘kan ku temukan jalan itu —
Bekasi, 25 Oktober 2007
Dewobroto Adhiwignyo
..................................
Hari ini aku tersenyum
Walau hati ini tertutup ranum
Biarlah ia menari meski untuk sejenak
Sampai waktuku habis berdetak
Hanya dengan asa ia tinggalkan rasa
Namun bagiku tak mengapa
Berpeluh muram aku bersenandung
Acuhkan sayu tatap mata itu
Hidup ini sepi... hampa dan sendiri
Maka pandangi saja hutan-hutan malam yang sunyi
Juga hiruk pikuk pagi kicauan burung gereja
— Maka ‘kan ku temukan jalan itu —
Bekasi, 25 Oktober 2007
Dewobroto Adhiwignyo
Langganan:
Postingan (Atom)