Quotation
Sabtu, 20 Agustus 2011
(untitled)
Sebuah Refleksi dalam Bersikap (referensi: Buku "Beyond Phenomenology" - Gavin Flood)
Metafisika ontologisme telah digantikan eksistensinya oleh sesuatu yang teramat filosofis berdasarkan subyek-subyek kesadaran. Saat ini hal tersebut telah digantikan kembali oleh filosofi secara bahasa, komunikasi, dan intersubyektivitas. Analisis fenomenologis untuk mendapat penerangan/pengertian dari sesuatu diproses melalui kegiatan percakapan serta signifikansi dengan bahasa yang digunakan.
Adanya perubahan tersebut membuktikan bahwa implikasi dari kritik-kritik bersifat filosofis dari kesadaran akan tanda-tanda, serta pemberian pendapat untuk menunjukkan pengetahuan, merupakan hal yang harus selalu diproses secara partikular berdasarkan sejarah dan konteks sosial yang melatarbelakanginya. Setelah itu semua akan dimengerti lewat jalan dialog. Bukti tersebut menunjukan bahwa segala bentuk diskusi dan klaim-klaim filosofis harus dicitrakan berdasarkan realita internal (berdasarkan sumbernya) atau diprakarsai oleh narasi dan wacana yang ada atau sedang dihadapi.
Dalam kaitan antara teori narasi dengan fenomenologi agama, harus selalu dilakukan pertimbangan dan pemikiran akan hubungan antara ‘cerita’ (doktrin-doktrin agama) dengan ‘penjelasan’ (secara filosofis). Sebab doktrin-doktrin agama bersifat subyektif —hanya berlaku di kalangannya sendiri—, sedangkan filsafat bersifat obyektif —berlaku secara universal. Di dalam agama sendiri terdapat cerita-cerita yang sejak awal kemunculan agama tersebut dipercayai sebagai ‘cerita kebenaran’, padahal dalam lingkup agama sesuatu yang fiksi dapat saja dipercayai sebagai kebenaran. Untuk itulah, sekali lagi saya menekankan bahwa perlu adanya pemikiran serta dialog-dialog kritis guna menjelaskan segala sesuatu yang bersifat doktrinisme sepihak (agama) melalui pendekatan-pendekatan secara filosofis yang bersifat obyektif. Filsafat menjelaskan segalanya melalui pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari sains, psikologi, sejarah & kebudayaan, dan sebagainya.
Narasi sebagai cerita merupakan hal utama untuk mengerti segala arti dan hakikat kemanusiaan. Keutamaan tersebut dalam kaidah tertentu dikenal melalui fenomenologi agama dalam penekanannya terhadap mitos. Namun, kaidah tertentu dan kesementaraan itu berkurang dalam aplikasinya pada dunia yang tidak berdasarkan sejarah dan pola-pola kehidupan manusia. Ranah fenomenologi menanamkan kesadaran akan titik awal permintaan penjelasan yang membimbing kita menuju masalah-masalah dalam mencari pengertian agama dan dunia sosial.
Penjelasan secara ilmiah ataupun relasi sebab-akibat dari pikiran dan kebiasaan manusia tidak berada di luar narasi dalam sebuah posisi keunggulan-keunggulan kritik. Tampaknya manusia telah memegang kuat tradisi dari sejarah, meskipun mereka sendiri sering mempertanyakan tradisi-tradisi itu. Saya setuju bahwa pandangan menyeluruh akan sejarah akan selalu ditunjukkan secara simultan di antara paham-paham lama dengan paham-paham baru. Pandangan tersebut akan selalu ditempatkan secara ‘baru’ bersama sejarah dari tradisi.
Narasi atau cerita secara obyektif diberikan dalam sejarah dan kultur/kebudayaan atau dijabarkan dalam sejarah dan kultur/kebudayaan sebagai isu sentral untuk kita pelajari. Pada satu sisi, struktur narasi melekat di dalam sejarah, kultur/kebudayaan, dan kehidupan manusia. Namun, di sisi lain biografi dan kehidupan manusia yang terbentuk melalui narasi dengan tidak terpisahkan dari sejarah, kultur/kebudayaan, dan kehidupan manusia berdasarkan faktor-faktor dari luar yang mempengaruhinya.
Bagi saya, sejarah dan kultur/kebudayaan dalam kehidupan manusia tidak akan pernah terlepas dari narasi. Narasi atau cerita —secara filososfis— tersebut dapat terimplementasikan melalui faktor-faktor yang datang dari luar sejarah dan kultur/kebudayaan kehidupan manusia, maupun dari dalam sejarah dan kultur/kebudayaan manusia itu sendiri. Cerita-cerita yang merasuk dalam doktrinisme tradisional manusia turut mempengaruhi jalan berpikir manusia dalam menghadapi segala permasalahannya, maupun keputusan/cara yang akan ia putuskan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Tentu saja segala permasalahan itu tidak akan terlepas dari doktrinisme agama dan kepercayaan yang berkembang dalam kehidupan suatu kelompok manusia —yang secara subyektif— juga turut mempengaruhi jalan berpikir kelompok manusia tersebut. Namun perlu digarisbawahi, bahwa biar bagaimanapun manusia tetap harus lebih dulu mempelajari dan mendalami filsafat —yang bersifat obyektif—, baru kemudian mempelajari cerita tradisional dan ‘cerita’ agama —yang bersifat subyektif—, agar dapat memperoleh penjelasan dan ‘pencerahan’ yang valid dan berakal sehat, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Filsafat memang merupakan suatu ilmu yang proses pembuktian akan kebenarannya tidak dapat ditunjukkan secara empiris (inderawi). Di tengah empirisme ilmu sains dan teknologi yang mempengaruhi perkembangan hidup manusia dalam berbagai aspek secara empiris melalui pengaruh-pengaruh yang dapat dilihat langsung proses dan hasilnya, filsafat muncul sebagai ilmu yang bisa dibilang ‘setengah-setengah’ eksistensinya di masa ini. Hal ini tersirat dari budaya kehidupan modern manusia yang cenderung lebih mengutamakan kemudahan-kemudahan dan kepraktisan ketimbang berpikir secara rasional-kasat yang melibatkan berbagai elemen kehidupan dan disiplin dari ilmu-ilmu lainnya, yakni berpikir secara filosofis.
Filsafat tidak bisa dicerna secara empiris dan selalu menggunakan cara berpikir analogis dan metaforis dalam menjawab segala kasusnya. Hal ini dikarenakan keterbatasan manusia itu sendiri dalam menjelaskan isi pikiran dan tindakan-tindakannya sendiri dalam kehidupan, serta jalan pikiran manusia yang terikat oleh ruang dan waktu. Salah satunya ialah pikiran akan kuasa Tuhan yang bersifat Ilahi, juga tindakan-tindakannya dalam aktivitas dan keikutsertaannya terhadap aturan-aturan dan doktrin-doktrin agama. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa tingkat pemahaman sekelompok manusia terhadap filsafat guna menemukan arti dari eksistensi kehidupannya sangat mempengaruhi tingkat kemajuan peradaban manusia tersebut. Apabila kemampuan berpikir filosofis —obyektifnya— rendah, maka tingkat kemajuan peradabannya pun juga rendah.
Teori di atas lantas diperkuat kebenaran dan validitasnya dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Mayoritas masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih suka mempelajari agamanya ―yang bersifat subyektif― masing-masing, tanpa mau mempelajari filsafat ―yang bersifat obyektif―. Akibatnya, dalam menghadapi berbagai permasalahan pun masyarakat Indonesia cenderung lebih mengutamakan pandangan subyektifnya, ketimbang menggunakan pandangan obyektifnya dalam menghadapi permasalahan tersebut. Padahal, Indonesia adalah sebuah negara dengan masyarakat multikultural dengan keberadaan berbagai agama, ras, suku, budaya, dan bahasa yang terdapat di dalamnya. Hal ini tentu menyebabkan masalah yang dihadapi tadi menjadi tidak bisa menemukan solusi yang bersifat obyektif dan universal dalam penyelesaiannya. Ditambah lagi dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang terbilang belum memiliki tingkat intelektualitas yang cukup untuk mencerna berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara, sehingga orang-orang tersebut menjadi begitu mudah dipengaruhi dan dihasut oleh suatu oknum yang memiliki kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan tertentu dengan memanfaatkan ‘keluguan’ massal orang-orang itu. Secara kuantitas, massa memang memiliki kekuatan yang sangat besar, namun apabila tidak disandingi dengan kualitas intelektual yang baik, maka pengaruh yang dihasilkan dari kekuatan massa akan menjadi tidak baik (negatif). Masyarakat Indonesia saat ini juga cenderung kurang bisa menentukan di mana dan kapan saat suatu persoalan harus diselesaikan dengan pemikiran agama (subyektif), dengan di mana dan kapan suatu saat suatu persoalan harus diselesaikan dengan pemikiran filosofis yang universal (obyektif) ―menyangkut kepentingan umum seluruh kalangan masyarakat. Inilah yang menyebabkan peradaban masyarakat di Indonesia relatif cenderung sulit berkembang. Kalaupun berkembang, hanya berkembang sedikit sekali secara kualitasnya, terutama dalam mengenali dan memenuhi hak-hak antar sesama manusia.
Secara umum, manusia adalah makhluk yang memahami segala sesuatunya secara naratif melalui cerita. Baik itu dalam hal memahami sains/teknologi, ilmu-ilmu sosial dan humaniora, atau seni sekalipun. Setiap manusia selalu memahami esensi sesuatu dari cerita yang ada di balik sesuatu tersebut, termasuk dalam hal mengenali esensi dari keberadaan dirinya sendiri sebagai manusia. Misalnya, sebelum menentukan tindakan yang tepat baginya, maka seorang manusia akan terlebih dulu bertanya, “Dari cerita atau cerita-cerita apa saya dapat menemukan bagian diri saya?”
Hal tadi juga membuktikan, bahwa manusia tidak pernah terlepas dari sejarahnya. Manusia selalu memahami dirinya sendiri dengan segala elemen pengeksistensinya dengan menelusuri untuk mengetahui sejarah yang melatarbelakangi keberadaan dirinya sendiri. Dalam ranah duniawi, proses menelusuri untuk mengetahui asal-usul tersebut dilakukan lewat cara mencari tahu asal usul keluarga dan keturunannya, mencari tahu asal muasal budaya/tradisi yang ada dan berkembang di lingkungannya. Dalam ranah batiniah, proses untuk mengetahui dan menelusuri asal-usul tersebut dilakukan lewat cara beragama, dan melakukan hubungan vertikal dengan Tuhan lewat cara berdoa dan beribadah.
Di luar ranah duniawi dan ranah batiniah, sebenarnya masih terdapat satu lagi ranah yang mendasari manusia untuk mencari asal-usul eksistensinya secara naratif sebagai makhluk yang terlahir dalam bentuk jasad dan jiwa manusia, yakni ranah filsafat. Ranah filsafat mencoba menjelaskan segala pertanyaan paling mendasar dari kehidupan manusia.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa filsafat adalah ilmu yang tidak bersifat empiris. Mengapa demikian? Karena filsafat mempertanyakan sesuatu yang juga tidak bersifat empiris, sehingga untuk menjawab segala pertanyaan tersebut digunakan metode analogi dan pemetaforaan. Pembuktian secara logis dibuktikan melalui kebijaksanaan dan keselarasan berpikir manusia dalam menelaah dan menilai segala sesuatu yang ia hadapi. Satu hal yang terpenting dari ilmu filsafat adalah bahwa ia bersifat obyektif dan universal —berlaku pada semua orang—. Oleh karena itu, sekali lagi ditekankan, bahwa inilah yang membedakan ilmu filsafat dengan ilmu teologi (agama), karena ilmu teologi (agama) bersifat subyektif dan hanya berlaku bagi kalangan tertentu —orang-orang yang meyakini agama tersebut.
Untuk mengungkapkan suatu ide pemikiran, manusia perlu memahami berbagai sesuatu yang melatarbelakangi kemauan untuk merealisasikan ide pemikiran tersebut, termasuk dengan mempelajari hal-hal yang menjadi ‘sejarah’ dan asal mula dari berbagai hal yang berpengaruh dan memungkinkan untuk menjadi elemen perealisasi ide pikiran tersebut. Keharusan inilah yang membuat manusia selalu berpikir untuk mengubah sebuah ide menjadi sebuah kenyataan dan mengubah sesuatu yang fiksi menjadi suatu tindakan atau keputusan.
Apabila dikaitkan dengan aspek-aspek religius, konsepsi dari perwujudan ide-ide dalam pikiran manusia ini ditunjukkan melalui sikap manusia yang selalu mengaitkan agama dengan realita yang ia alami. Sebagai contoh, agama menanamkan ide bahwa Tuhan menciptakan semua manusia dengan cinta dan kasih agar semuanya (manusia) memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Akan tetapi, manusia lantas mempertanyakan, jika memang benar demikian, mengapa ada manusia yang kaya dan ada yang miskin? Mengapa ada manusia yang terlahir cacat dan tidak cacat? Mengapa ada manusia yang hidup serba berkecukupan dan ada yang hidup serba berkekurangan? Mengapa ada manusia yang hidup dalam kesejahteraan dan ada yang tidak?
Maka, dari pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tidak sejalan dengan ide agama mengenai cinta kasih Tuhan terhadap manusia tersebut, timbullah konsepsi baru yang terlahir dari pemikiran filosofis manusia yang berusaha menjembatani ‘jurang’ yang terdapat di antara ide agama dengan realita yang dialami manusia itu.
Sebagai langkah awal, manusia akan memahami bahwa tidak pernah ada batasan yang jelas mengenai nilai dari eksistensi/keberadaan kesejahteraan tersebut. Dengan kata lain, selalu ada unsur perbandingan dalam menentukan suatu eksistensi/keberadaan dari kesejahteraan. Misalnya begini, seseorang tidak akan pernah dikatakan kaya apabila orang-orang tidak pernah mengetahui eksistensi/keberadaan orang miskin. Orang yang mengetahui seperti apa itu ‘kaya’ tentu juga mengetahui ‘miskin’ itu yang seperti apa. Contoh lainnya adalah seseorang tidak akan pernah dikatakan memiliki fisik yang normal dan sempurna (lengkap organ-organ tubuh dan pancainderanya) apabila tidak ada pembandingnya yakni orang-orang yang memiliki fisik tidak sempurna dan tidak lengkap, alias cacat. Orang yang mengetahui seperti apa itu ‘fisik yang normal’ tentu juga mengetahui ‘fisik yang cacat’ itu yang seperti apa. Setelah memahami akan prinsip perbandingan dua hal yang saling bertentangan tersebut, selanjutnya manusia akan sadar bahwa di dunia ini tidak mungkin ada sesuatu yang sama rata, termasuk kesamarataan kesejahteraan.
Sekedar informasi, bahwa prinsip dasar inilah yang membuat paham Sosialisme-Marxisme dianggap sebagai paham Sosialisme yang utopis. Ini dikarenakan Sosialisme ala Karl Marx yang menuntut kesederajatan seluruh masyarakat di dalam satu Negara, termasuk dalam hal kepemilikan dan kesejahteraan. Semua menjadi milik bersama dan tidak ada si kaya atau si miskin. Di sisi lain paham Sosialisme ini tetap dikepalai oleh seorang pemimpin dengan prinsip-prinsip diktatorisme yang menuntut ketegasan hukum dan penanaman nilai-nilai kemanusiaan dari kacamata Sosialisme-Marxisme. Tentu saja penanaman nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan itu saja sudah bertentangan dengan prinsip “semua milik bersama” tersebut, karena dengan prinsip itu, secara tidak langsung hak-hak asasi manusia pun akan terpangkas tidak lagi terpenuhi. Sebagai contoh, ada seseorang yang telah bekerja keras dengan susah payah mencari uang sebagai penghasilan materi untuk menafkahi diri dan keluarganya. Maka, orang itu berhak untuk menggunakan penghasilan materi (uang) yang telah ia peroleh melalui kerja kerasnya tersebut untuk melanjutkan keberlangsungan hidup diri dan keluarganya. Namun, apabila paham Sosialisme-Marxisme diterapkan dalam kasus ini, di sisi lain ada orang lain yang berhak atas penghasilan materi (uang) tersebut, meskipun ia sama sekali tidak bekerja untuk mencari uang sebagai penghasilan materi, atau tidak membantu seseorang tadi dalam pekerjaannya untuk mendapatkan uang sebagai penghasilan materi. Begitu menakutkan bukan?
Pada tahap selanjutnya, manusia lantas berpikir bahwa hidup ini layaknya sebuah film, di mana ada aktris yang berlaku sebagai pemeran utama dan ada yang hanya sebagai figuran. Akhirnya manusia pun tersadar bahwa ia tidak seharusnya mempersalahkan seandainya Tuhan menciptakan ia dengan banyak kekurangan, dsb. Yang mesti ia lakukan ialah menjalankan perannya dalam kehidupan tersebut dengan sebaik-baiknya, agar dapat menghasilkan ‘film’ yang baik pula.
Yang dapat disimpulkan adalah, bahwa bukan tinggi-rendahnya posisi kita dalam kehidupan di sekitar masyarakat, bukan tinggi-rendahnya materi yang kita punya dalam kehidupan kita sebagai manusia, dan bukan seberapa besar kebahagiaan yang dapat kita peroleh melalui pencapaian-pencapaian materi yang kita alami, melainkan adalah bagaimana cara kita untuk menjadi yang terbaik untuk diri kita dan untuk kehidupan kita, serta memberikan yang terbaik dari apa yang kita bisa berikan untuk orang lain, apapun 'karakter' yang sedang kita jalani. Sebagai analogi, dalam suatu perusahaan pun, ada yang menjadi direktur dan ada yang hanya sekedar menjadi tukang bersih-bersih (Cleaning Service/Office Boy) di kantor. Namun, tanpa adanya tukang bersih-bersih tersebut, kantor tidak akan menjadi nyaman sebagai tempat bekerja. Akibatnya kinerja para karyawan menurun, akhirnya perusahaan mengalami kerugian materi atau bahkan kebangkrutan.
Itulah makna esensial dari berbagai bentuk kehidupan manusia. Bahkan keberadaan tukang bersih-bersih yang seringkali dianggap sebagai perkerjaan remeh temeh pun di kantor juga turut mempengaruhi kelangsungan perusahaan. Hal ini tentu merupakan analogi dari kompleksitas kehidupan manusia, di mana ada yang berada ‘di bawah’ dan ada yang berada ‘di atas’… dan yang semestinya kita lakukan ialah menjalani kehidupan kita dengan sebaik-baiknya, tidak peduli setinggi apa ‘tingkatan’ kita. Kita juga harus selalu menghargai terhadap apa yang berada ‘di bawah’ kita dalam kehidupan, karena jika tidak, maka kehidupan tanpa sikap saling menghargai tidak akan berjalan dengan baik ―coba analogikan kembali dengan kehidupan di kantor. Lagipula, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah merasa puas. Jika hari ini telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi daripada hari kemarin, maka ia menginginkan tingkatan yang lebih tinggi lagi untuk keesokan harinya, begitu juga untuk lusa, minggu depan, dan seterusnya.
Jika mengutip quote Buddhisme yang berbunyi “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian, bebas dari kesakitan, dan bebas dari kesulitan”, maka catatan ini sudah semestinya sangat sesuai dengan ideologi hidup manusia. Tidak memperoleh materi dan jabatan tinggi bukan berarti tidak bisa memperoleh kebahagiaan, bahkan dalam Buddhisme sendiri kebahagiaan yang hakiki disimbolisasikan melalui kekosongan, di mana manusia yang benar-benar memperoleh kebahagiaan ialah manusia yang tidak merasakan senang dan sedih, serta tidak memiliki keinginan atau ambisi-ambisi dalam kehidupan duniawinya. Hal ini tentu tentu dimaksudkan agar manusia tersebut tidak akan mengalami kekecewaan apabila ia mengalami keadaan ‘jatuh’, kesedihan, atau adanya keinginan-keinginan yang tidak tercapai, karena pada dasarnya penyebab utama hilangnya kebahagiaan dari hidup manusia adalah karena adanya kekecewaan yang melanda manusia. Ketika perasaan kecewa melanda diri seorang manusia, maka manusia itu akan cenderung lebih fokus dalam mengingat dan berpikir soal kekecewaan tersebut, ketimbang mengingat dan berpikir soal anugerah-anugerah lain yang telah diberikan oleh Tuhan kepadanya di dalam kehidupan.
Dalam kritik filososfi fenomenologi atas kesadaran, teori dialog menjadi bagian penting dalam menunjukkan kebahasaan dan interaksi alami dari membaca cerita, maupun mempelajari etnis-etnis budaya. Dengan memberi pra-konsepsi pemikiran secara monolog, kita mempunyai suatu situasi di mana pra-konsepsi tersebut sama halnya dengan subyek yang sedang kita cari tahu. Untuk selanjutnya, pra-konsepsi tersebut akan berubah dan berkembang melalui proses dialog menjadi suatu kesimpulan.
Baik pemberian pra-konsepsi pemikiran secara monolog maupun perkembangan di saat selanjutnya pada proses dialog, keduanya tidak terlepas dari faktor sejarah dan narasi (cerita) yang melatarbelakanginya. Ya, lagi-lagi kita membicarakan sejarah dan narasi (cerita). Hal ini sangatlah wajar, karena apabila dikaitkan dengan pikiran manusia, pra-konsepsi yang dihasilkan oleh seorang manusia lewat proses monolog tentu tidak akan pernah terlepas dari pengalaman yang ia alami dan cerita-cerita yang ia dengar. Karakter pemahamannya akan suatu persoalan sangat ditentukan dari konsepsi yang ia bentuk atas pengalaman dan keyakinan-keyakinannya.
Selain karakter pemahaman dan cara berpikir dan menganalisa suatu persoalan, sejarah dan narasi (cerita) yang dialami oleh seorang manusia juga turut mempengaruhi watak individual manusia tersebut. Lewat pengaruh tersebut, faktor watak ―emosi dan perasaan― seorang manusia juga turut mempengaruhi proses berpikirnya dalam menemukan pra-konsepsi pemikirannya secara monolog, begitu juga perekembangan di saat selanjutnya pada proses dialog. Namun, perbedaan watak seorang manusia akan lebih terlihat jelas pada proses dialog, karena proses dialog melibatkan individu manusia lain sebagai lawan bicara. Manusia sebagai makhluk sosial juga ditentukan oleh watak yang melibatkan emosi dan perasaannya dalam hubungannya dengan manusia-manusia lain.
Watak seorang manusia yang mengandung emosi dan perasaannya tidak hanya terkait dengan hal-hal yang negative saja seperti kemarahan dan kesedihan, namun juga terkait dengan hal-hal positif seperti kesenangan dan kebanggaan. Seseorang yang dikatakan tidak pandai menstabilkan emosinya, selain tidak dapat mengendalikan rasa amarah dan kesedihannya, ia juga tidak dapat membendung euforianya saat merasakan suatu kesenangan dan kebanggaan. Ia bisa saja bersikap terlalu berlebihan dalam mengekspresikan kesenangan atau kebanggaan yang sedang ia rasakan.
Suatu waktu, saya pernah mendengar ada seorang pria suporter salah satu tim nasional Piala Dunia yang berlari-lari setengah telanjang melintasi sepanjang beberapa ratus meter jalan raya di negaranya dengan hanya mengenakan bendera tim nasional kebanggaannya untuk menutupi daerah di sekitar kemaluannya. Ia melakukan hal tersebut karena tidak dapat membendung euforia kesenangannya sebagai luapan emosi saat tim nasional negaranya berhasil menjadi juara di ajang Piala Dunia. Tentunya, contoh ini merupakan salah satu kasus di mana seseorang yang tidak dapat menstabilkan emosinya dapat memberi pengaruh buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya.
Kembali ke topik konsepsi pemikiran, pada prinsipnya manusia dalam kegiatan bermonolog dan berdialog harus dapat menstabilkan emosinya, agar apa yang ia pikirkan tidak bersifat subyektif dan bersifat seobyektif mungkin. Apabila ia cenderung melibatkan emosinya (keinginan-keinginan dan pendapat-pendapat dari sudut pandang pribadinya) ketimbang logika, maka ia bisa menjadi orang yang berpikir atas nama dirinya sendiri dengan tidak mengindahkan pendapat orang lain, atau bahkan realita dan kenyataan yang terjadi.
Obyektivitas berpikir sangatlah diperlukan baik dalam proses bermonolog maupun berdialog, namun obyektivitas yang terpenting haruslah diterapkan dalam proses dialog, karena dalam proses berdialog seorang manusia menjalin interaksi dengan manusia/manusia-manusia lainnya di dalam kehidupan sosial dalam mengemukakan jalan berpikirnya guna memperoleh hasil kebenaran.
Dialog yang baik dalam ranah berpikir filosofis ialah dialog yang tidak berbasiskan pada kegiatan debat, melainkan berbasiskan pada kegiatan diskusi. Menjadi demikian karena pada dasarnya berdebat dan berdiskusi adalah dua hal yang sangat berbeda. Berdebat dapat diartikan sebagai dialog antar satu manusia dengan manusia/manusia-manusia lainnya guna memperjuangkan pendapat masing-masing individu yang terlibat. Dalam berdebat, setiap manusia memperjuangkan agar pendapat dan pandangannyalah yang diakui sebagai ‘pemenang’, tidak peduli apakah pendapat dan pandangannya itu baik atau buruk, sesuai dengan kenyataan atau tidak, atau atas dasar kebenaran atau tidak. Dalam konteks debat, dialog yang dilakukan tidak didasarkan pada tujuan mencari kebenaran, namun didasarkan pada tujuan mencari alasan dan berbagai cara agar pendapat dari pandangan pribadi seorang individu manusia menjadi diakui validitas dan keberlakuannya.
Berbeda dengan kegiatan debat, berdiskusi merupakan cara yang sesuai dengan ranah berpikir filosofis. Kegiatan diskusi antar satu manusia dengan manusia/manusia-manusia lainnya tidak berlandaskan pembicaraan untuk berjuang ‘memenangkan’ pendapat dari pandangan pribadi, melainkan berlandaskan pada pembicaraan yang bertujuan untuk mencari kebenaran berdasarkan data-data yang bersifat faktual dan sesuai dengan realita, serta dapat dipertanggungjawabkan. Dalam berdiskusi yang dilakukan oleh dua atau lebih manusia, setiap individu yang terlibat ditekankan untuk berpikir dalam menganalisa setiap pendapat yang diberikan oleh orang lain dalam diskusi tersebut. Lewat pendapat-pendapat dari pandangan orang lain tersebut, setiap individu manusia berusaha untuk mengaitkan berbagai pandangan yang ada itu dengan proses diskusi dan studi kasus guna mendapatkan kebenaran obyektif yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kegiatan diskusi, manusia yang pendapatnya dianggap salah atau kurang tepat tidak perlu merasa ‘malu’ ―tidak seperti dalam kegiatan debat―, karena tujuan utama dari berdiskusi ialah menemukan suatu kebenaran universal dari berbagai persoalan yang dibicarakan/didiskusikan.
Bandung, 20 Juli 2011
Dewobroto Adhiwignyo
Selasa, 08 Februari 2011
2x1
Pendar jiwa meruak tabu-tabu
2x1
Yang katanya sempit bagi pembelot meridian,
Api jahanam rupa-rupa siksaan Tuan.
Yang luas katanya bersungai susu + jual megah,
Bagi umat pengikut setia.
Oh!
Sudahkah hari ini aku diancam siksa?
Atau bergemuruhkan ketam-ketam imbalan di kariban matiku kelak?
2x1
Shelter akhir penghentian maut
Bicara siksa ancam tiada tara,
Berikut embel-embel hadiah Mahayana.
Bait lain
Apa Tuan tuntun barik hidup berancam-seterimbalan?
Bandung, 24 Desember 2010
Dewobroto Adhiwignyo
Masa SMA-ku
Kuhabiskan selama tiga tahun
Di sekolah yang sarana dan prasarananya tidak terlalu baik memang
-Tapi tak jadi masalah buatku-
Di sana kotor
Yang jadi persoalan
bukan kotor lantainya, dindingnya, atau lingkungannya
(Jadi, apa yang kotor?)
Politiknya kotor
Sekolah SMA-ku
yang penuh dengan para Primordialis...
OSIS-nya kotor, MPK-nya kotor
Bahkan beberapa organisasi lainnya juga kotor
Di SEKOLAH NEGERI itu
yang dapat menjadi pengurus OSIS dan pengurus MPK
hanyalah mereka yang (dianggap sebagai) Muslim (yang baik).
Yang dapat menjadi Ketua OSIS dan Ketua MPK hanyalah kaum Adam.
Mereka tidak peduli dengan hak asasi
Ya
Mereka yang mengaku terpelajar dan menghormati Tuhannya.
Dan dibalik itu semua mereka masih berkoar-koar menyuarakan kebebasan berpendapat dan
nilai-nilai luhur kepemimpinan, etika, serta moral.
Yang Nasrani ada pula yang tak jauh berbeda
Seringkali kutemui
orang-orang yang bergaul dengan rekan seagama/sesukunya saja
Dibalut dengan sikap fanatik berlebih.
Tidak.
Aku tidak suka suasana kacau balau itu
Aku merasa tidak nyaman
Muak.
Memang sudah berlalu
Tapi sangat membekas. Seringkali terbesit di dalam pikiran...
Kenapa aku bisa masuk 'Kandang Primordialis' seperti itu?
Lalat saja tidak pilih-pilih sampah basah jenis apa yang mau ia jilat
Aku netral. Tidak membela siapapun.
Juga tidak terpengaruh dan dipengaruhi siapa/apapun.
Mungkin tidak bisa sepenuhnya disebut orang baik dan patuh
Tapi aku punya pendirian prinsipil
Aku tidak akan pernah merekomendasikan siapapun untuk masuk mendaftar ke sekolah itu.
Menjadi siswa di sana, berarti harus siap menerima kenyataan
Bahwa orang-orang di sana lebih mementingkan tradisi, ketimbang akal sehat dan hak asasi.
Kuakui, mereka (yang terlibat) bukanlah orang-orang bodoh
Hanya saja hati nurani mereka buram
Ya. Buram.
Ada, namun buram.
Tentang hak asasi -hak kehidupan manusia paling dasar- saja mereka berani langgar.
Dan aku yakin setiap manusia terlahir dengan hak asasi. Siapapun Tuhan mereka.
Apapun agama dan ras/suku mereka.
Menjemukan. Tamak. Egois.
Munafik.
Terkutuklah mereka yang memulai dan menjalankan sistem dalam tradisi hitam itu.
Namun, aku tahu
Di antara mereka (yang terlibat)
masih ada yang berpikiran kurang lebih sama denganku
dan sependapat dalam hal ini.
Dan di luar itu semua
Aku suka dengan masa SMA-ku
Aku rindu masa-masa itu.
Bandung, 18 November 2010
Dewobroto Adhiwignyo
Selasa, 21 Desember 2010





FARNSWORTH HOUSE
(built from 1946 to 1951)
Location: Chicago, Illinois, U.S.A.
Architect: Ludwig Mies van der Rohe
-
Maket pertama saya di bangku kuliah. :)
Kalau mengerjakan sesuatu, entah itu karya berupa maket, drawings, lukisan, musik, atau syair, saya selalu berusaha untuk se-apik mungkin... terutama untuk maket yang sangat menuntut kedetailan, kepresisian, dan kerapihan. Bahkan kalau bisa kualitas 'Made in Japan' saya jadikan sebagai acuan saya dalam hal kedetailan, kepresisian, dan kerapihan maket yang sempurna.
Nilainya cukup memuaskan, walau sebenarnya saya kurang puas karena belum sempat mengisi meubel dan furnitur dalam maket ini (akibat deadline pengumpulan).
Hanya Sepintas

"Looks beautiful like Her"
Jakarta, 8 Oktober 2008
Size: A4
Media: Pencil on Paper
-
One of my best drawings ever.
Gambar ini menyimpan banyak cerita dan kenangan bagi saya. Di tengah kesibukan ala seorang pelajar malas dengan perjuangannya yang bertekad bulat untuk bisa berkuliah di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, awalnya gambar ini saya buat sebagai hadiah ulang tahun untuk seseorang yang berada dalam gambar itu. Namun, setelah agak lama saya berpikir bahwa gambar itu adalah salah satu karya terbaik saya hingga saat ini... meskipun ketika itu (SMA kelas 3) saya hanya meniru gambar tersebut dari sebuah foto, yang notabanenya hanya mengejar kualitas realis sebuah karya drawing, dan hanya sedikit perlu untuk memikirkan konsep karya.
Gambar ini saya buat selama 3 hari 3 malam, ketika saya masih tinggal menumpang di rumah nenek saya di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saking begitu bersemangat, saya nyaris tidak tidur selama proses pembuatan gambar ini... makan pun jadi tidak teratur. Padahal ketika itu saya membuat gambar ini saat hari belajar sekolah sedang efektif. Alhasil, ketika itu saya jadi sering tertidur di kelas. Hehehe
Dan saat ini saya tidak tahu, apa gambar itu masih tersimpan dengan baik atau tidak...
Gambar ini sangat berarti bagi saya. Entah bagi "dia" berarti atau tidak.
Jumat, 03 Desember 2010
Hujan Desember
Membasahi bibir teratai
Bergerak-talu dalam gemulai.
Hujan Desember baru dimulai
Membasuh kering tali surai
Menerpa kenangan yang tersemai.
Hujan Desember baru dimulai
Mengikat setiap yang tercerai
Menyatu kalbu seputih renai.
Bandung, 1 Desember 2010
Dewobroto Adhiwignyo