Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."

Selasa, 08 Februari 2011

Masa SMA-ku

Masa SMA-ku

Kuhabiskan selama tiga tahun
Di sekolah yang sarana dan prasarananya tidak terlalu baik memang

-Tapi tak jadi masalah buatku-

Di sana kotor

Yang jadi persoalan
bukan kotor lantainya, dindingnya, atau lingkungannya

(Jadi, apa yang kotor?)

Politiknya kotor
Sekolah SMA-ku
yang penuh dengan para Primordialis...

OSIS-nya kotor, MPK-nya kotor
Bahkan beberapa organisasi lainnya juga kotor
Di SEKOLAH NEGERI itu
yang dapat menjadi pengurus OSIS dan pengurus MPK
hanyalah mereka yang (dianggap sebagai) Muslim (yang baik).
Yang dapat menjadi Ketua OSIS dan Ketua MPK hanyalah kaum Adam.
Mereka tidak peduli dengan hak asasi

Ya
Mereka yang mengaku terpelajar dan menghormati Tuhannya.
Dan dibalik itu semua mereka masih berkoar-koar menyuarakan kebebasan berpendapat dan
nilai-nilai luhur kepemimpinan, etika, serta moral.

Yang Nasrani ada pula yang tak jauh berbeda
Seringkali kutemui
orang-orang yang bergaul dengan rekan seagama/sesukunya saja
Dibalut dengan sikap fanatik berlebih.

Tidak.
Aku tidak suka suasana kacau balau itu
Aku merasa tidak nyaman
Muak.

Memang sudah berlalu
Tapi sangat membekas. Seringkali terbesit di dalam pikiran...
Kenapa aku bisa masuk 'Kandang Primordialis' seperti itu?

Lalat saja tidak pilih-pilih sampah basah jenis apa yang mau ia jilat

Aku netral. Tidak membela siapapun.
Juga tidak terpengaruh dan dipengaruhi siapa/apapun.
Mungkin tidak bisa sepenuhnya disebut orang baik dan patuh
Tapi aku punya pendirian prinsipil

Aku tidak akan pernah merekomendasikan siapapun untuk masuk mendaftar ke sekolah itu.
Menjadi siswa di sana, berarti harus siap menerima kenyataan
Bahwa orang-orang di sana lebih mementingkan tradisi, ketimbang akal sehat dan hak asasi.

Kuakui, mereka (yang terlibat) bukanlah orang-orang bodoh
Hanya saja hati nurani mereka buram
Ya. Buram.
Ada, namun buram.
Tentang hak asasi -hak kehidupan manusia paling dasar- saja mereka berani langgar.

Dan aku yakin setiap manusia terlahir dengan hak asasi. Siapapun Tuhan mereka.
Apapun agama dan ras/suku mereka.

Menjemukan. Tamak. Egois.
Munafik.
Terkutuklah mereka yang memulai dan menjalankan sistem dalam tradisi hitam itu.

Namun, aku tahu
Di antara mereka (yang terlibat)
masih ada yang berpikiran kurang lebih sama denganku
dan sependapat dalam hal ini.

Dan di luar itu semua
Aku suka dengan masa SMA-ku
Aku rindu masa-masa itu.



Bandung, 18 November 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Selasa, 21 Desember 2010









FARNSWORTH HOUSE
(built from 1946 to 1951)

Location: Chicago, Illinois, U.S.A.
Architect: Ludwig Mies van der Rohe

-


Maket pertama saya di bangku kuliah. :)
Kalau mengerjakan sesuatu, entah itu karya berupa maket, drawings, lukisan, musik, atau syair, saya selalu berusaha untuk se-apik mungkin... terutama untuk maket yang sangat menuntut kedetailan, kepresisian, dan kerapihan. Bahkan kalau bisa kualitas 'Made in Japan' saya jadikan sebagai acuan saya dalam hal kedetailan, kepresisian, dan kerapihan maket yang sempurna.
Nilainya cukup memuaskan, walau sebenarnya saya kurang puas karena belum sempat mengisi meubel dan furnitur dalam maket ini (akibat deadline pengumpulan).

Hanya Sepintas


"Looks beautiful like Her"

Jakarta, 8 Oktober 2008

Size: A4
Media: Pencil on Paper

-

One of my best drawings ever.

Gambar ini menyimpan banyak cerita dan kenangan bagi saya. Di tengah kesibukan ala seorang pelajar malas dengan perjuangannya yang bertekad bulat untuk bisa berkuliah di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, awalnya gambar ini saya buat sebagai hadiah ulang tahun untuk seseorang yang berada dalam gambar itu. Namun, setelah agak lama saya berpikir bahwa gambar itu adalah salah satu karya terbaik saya hingga saat ini... meskipun ketika itu (SMA kelas 3) saya hanya meniru gambar tersebut dari sebuah foto, yang notabanenya hanya mengejar kualitas realis sebuah karya drawing, dan hanya sedikit perlu untuk memikirkan konsep karya.

Gambar ini saya buat selama 3 hari 3 malam, ketika saya masih tinggal menumpang di rumah nenek saya di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saking begitu bersemangat, saya nyaris tidak tidur selama proses pembuatan gambar ini... makan pun jadi tidak teratur. Padahal ketika itu saya membuat gambar ini saat hari belajar sekolah sedang efektif. Alhasil, ketika itu saya jadi sering tertidur di kelas. Hehehe

Dan saat ini saya tidak tahu, apa gambar itu masih tersimpan dengan baik atau tidak...
Gambar ini sangat berarti bagi saya. Entah bagi "dia" berarti atau tidak.

Jumat, 03 Desember 2010

Hujan Desember

Hujan Desember baru dimulai
Membasahi bibir teratai
Bergerak-talu dalam gemulai.

Hujan Desember baru dimulai
Membasuh kering tali surai
Menerpa kenangan yang tersemai.

Hujan Desember baru dimulai
Mengikat setiap yang tercerai
Menyatu kalbu seputih renai.



Bandung, 1 Desember 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Kamis, 18 November 2010

Sebuah Puisi dari Alm. Soe Hok Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, Sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang

Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu, Sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Mari sini, Sayangku

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa,

Kita tak 'kan pernah kehilangan apa-apa


Selasa, 11 November 1969
Soe Hok Gie

Kamar

Ku pandangi sudut ruang
Semburat pejam tak lantas terang

Debu kerak sambung berabu
Mengiba lantai bersemen batu

Dinding di banyak retak
Tegak diri menyalam pundak

Ini ranjang berurat, pengap
Cumbu buta berujung lelap

Di sini lah...
Tak satu 'kan cuat kilah

Muda-mudi tak bermalu
Tua-muda jadi benalu



Bandung, 12 Agustus 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Perempuan

Jangan-jangan aku benar
Memang kau pantas jadi pelipur lara

Kau!
Perempuan!

Yang dibilang lupa kehormatan
Atau hilang tenggelam harta
Pukul rugi,
Pulang mati di sekitaran laki

Kau!
Perempuan!

Yang tak lagi aku kenal
Atau kau yang memihak lain

Mengecam duka-luka percuma
Musti raib dipingit pagi buta
Dan berpeluk kembali bukan buat janji

Cumbu di muka. Lupa
Gadis jelita. Luka

Kita yang tak pernah mesra
Yang berhutang nafsu muda

Kita yang pernah mencinta

Cuma bumi tak sudi merajut kita



Bandung, 15 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo