Quotation

"Sometimes the words can be more meaningful rather than actions."

Selasa, 21 Desember 2010

Hanya Sepintas


"Looks beautiful like Her"

Jakarta, 8 Oktober 2008

Size: A4
Media: Pencil on Paper

-

One of my best drawings ever.

Gambar ini menyimpan banyak cerita dan kenangan bagi saya. Di tengah kesibukan ala seorang pelajar malas dengan perjuangannya yang bertekad bulat untuk bisa berkuliah di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB, awalnya gambar ini saya buat sebagai hadiah ulang tahun untuk seseorang yang berada dalam gambar itu. Namun, setelah agak lama saya berpikir bahwa gambar itu adalah salah satu karya terbaik saya hingga saat ini... meskipun ketika itu (SMA kelas 3) saya hanya meniru gambar tersebut dari sebuah foto, yang notabanenya hanya mengejar kualitas realis sebuah karya drawing, dan hanya sedikit perlu untuk memikirkan konsep karya.

Gambar ini saya buat selama 3 hari 3 malam, ketika saya masih tinggal menumpang di rumah nenek saya di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Saking begitu bersemangat, saya nyaris tidak tidur selama proses pembuatan gambar ini... makan pun jadi tidak teratur. Padahal ketika itu saya membuat gambar ini saat hari belajar sekolah sedang efektif. Alhasil, ketika itu saya jadi sering tertidur di kelas. Hehehe

Dan saat ini saya tidak tahu, apa gambar itu masih tersimpan dengan baik atau tidak...
Gambar ini sangat berarti bagi saya. Entah bagi "dia" berarti atau tidak.

Jumat, 03 Desember 2010

Hujan Desember

Hujan Desember baru dimulai
Membasahi bibir teratai
Bergerak-talu dalam gemulai.

Hujan Desember baru dimulai
Membasuh kering tali surai
Menerpa kenangan yang tersemai.

Hujan Desember baru dimulai
Mengikat setiap yang tercerai
Menyatu kalbu seputih renai.



Bandung, 1 Desember 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Kamis, 18 November 2010

Sebuah Puisi dari Alm. Soe Hok Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu, Sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang

Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu, Sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Mari sini, Sayangku

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
Tegakklah ke langit atau awan mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa,

Kita tak 'kan pernah kehilangan apa-apa


Selasa, 11 November 1969
Soe Hok Gie

Kamar

Ku pandangi sudut ruang
Semburat pejam tak lantas terang

Debu kerak sambung berabu
Mengiba lantai bersemen batu

Dinding di banyak retak
Tegak diri menyalam pundak

Ini ranjang berurat, pengap
Cumbu buta berujung lelap

Di sini lah...
Tak satu 'kan cuat kilah

Muda-mudi tak bermalu
Tua-muda jadi benalu



Bandung, 12 Agustus 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Perempuan

Jangan-jangan aku benar
Memang kau pantas jadi pelipur lara

Kau!
Perempuan!

Yang dibilang lupa kehormatan
Atau hilang tenggelam harta
Pukul rugi,
Pulang mati di sekitaran laki

Kau!
Perempuan!

Yang tak lagi aku kenal
Atau kau yang memihak lain

Mengecam duka-luka percuma
Musti raib dipingit pagi buta
Dan berpeluk kembali bukan buat janji

Cumbu di muka. Lupa
Gadis jelita. Luka

Kita yang tak pernah mesra
Yang berhutang nafsu muda

Kita yang pernah mencinta

Cuma bumi tak sudi merajut kita



Bandung, 15 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Rabu, 28 Juli 2010

Cerita Buat Si Perjaka Tua

Jika saja hujan Desember dapat mengelabui indahnya langit sore, maka perjaka tua itu tidak akan selalu merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Paling tidak ia akan masuk ke dalam kamar yang hanya berukuran 3x3 meter dan hanya satu-satunya yang terdapat di rumah peninggalan zaman Belanda itu yang dahulu dijadikan sebagai gudang kopra. Selain Si Perjaka Tua, peraduan kamar itu juga ditempati oleh ibu kandungnya yang sudah tua renta dan bekas Jugun Ianfu pada zaman Jepang dulu, serta oleh kakak-kakak dan adik-adiknya ─yang sudah beristri dan berkeluarga─ yang sesekali mengunjungi rumah mereka dan kadang-kadang menginap satu-dua malam di sana, sehingga bisa saja Si Perjaka Tua merenungi nasib dan bercerita bersama satu atau beberapa anggota keluarganya yang masih tersisa, selain ayah kandungnya yang sudah lama mati terjangkit TBC dan sipilis karena terlalu sering keluar malam dan main perempuan lacur jajanan murah Stasiun Senen.

Atau perjaka tua itu dapat saja main hujan-hujanan di tengah derasnya hujan sore dan bahagia merasakan masa kanak-kanaknya kembali yang dahulu terbuang sia-sia oleh kisutnya takdir Tuhan buat dirinya. Meskipun ia seorang fobia kilat dan gelegar petir, orang-orang terdekatnya lebih yakin kalau ia fobia dengan wanita ─lebih rinci lagi fobia dengan wanita cantik─, tapi ia juga bukan pecinta sesama jenis yang akan langsung kalap ketika masa lalunya diungkit-ungkit. Buat ia, wanita cantik (menurut standar Si Perjaka Tua) adalah makhluk yang dikirim Tuhan ke dunia untuk menambah beban mental dan pikiran setiap pria, serta merusak moral para pria baik-baik ─yang menurut Si Perjaka Tua, dirinya ialah sosok ideal seorang pria baik-baik─, karena berdasarkan beberapa pengalaman lalunya, wanita cantik hanya piaraan yang memporakporandakan tatanan kebahagiaan hidupnya dan hidup keluarganya, termasuk hidup mendiang ayah kandungnya. Kecantikan pula yang membuat hidup sang ibunda terseret ke dalam neraka
Jugun Ianfu pada masa mudanya.

Namun sore hari ini ialah sore yang lain dari biasanya. Lain buat dirinya dan lain buat cerita hidupnya. Sore ini memang ia merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya seperti biasa. Namun kali ini ia merenung seraya melontarkan sebuah tanya buat Tuhannya. Satu Tuhan yang orang-orang sembah dengan berbagai cara, satu Tuhan yang oleh orang-orang suka dimintai doa dengan berbagai cara, dan satu Tuhan yang dipuja-puji oleh orang-orang dengan berbagai cara pula. Si Perjaka Tua bertanya, “Tuhan, kapan hujan akan turun? Di sore Desember ini, ya Tuhanku...” lalu Tuhan menjawab, “Sayang sekali, Aku tidak merancang hujan Desember atau hujan di bulan apa pun yang dapat mengelabui langit sore ini... juga langit sore selanjutnya.” Demikianlah Tuhan menjawab pertanyaan Si Perjaka Tua. Hingga setiap sore ia terus merenungi nasib hidupnya sendirian saja sambil duduk di beranda rumahnya. Rumah tua keluarganya. Sampai ia mati.


Bandung, 2 Juli 2010
Dewobroto Adhiwignyo

Senin, 06 Juli 2009

Tiga Misteri

Entah apa yang ada dalam pikiran saya malam ini. Setelah sadar tidak merasa ngantuk lantaran tidak bisa tidur hingga dini hari, saya ingin menggambar saja. Namun karena sedang tidak ada pensil, saya putuskan untuk menyalakan komputer, lalu menulis. Ya, menulis apa saja, meskipun hingga saat mengetikkan kata-kata ini saya belum tahu topik apa yang ingin saya bahas.

Well, topik yang akan saya angkat kali ini tidak terlalu berat dan serius seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya. Saya akan bercerita mengenai tiga misteri yang selama ini memenuhi benak pikiran saya.

Jika ada orang yang bertanya kepada saya tentang hal-hal yang paling menjadi misteri hidup manusia, saya akan menjawab misteri yang pertama
itu adalah ”Tuhan”.

Mengapa "Tuhan"?


Di saat banyak orang lain memuja dan meminta perlindungan kepada Tuhannya ─terlepas dari agama atau sekte apapun─, saya justru dibingungkan oleh keabsahan zat yang diberi nama "Tuhan" itu sendiri. Barangkali agak terdengar angkuh, tetapi inilah saya. Paling tidak, saya masih termasuk dalam golongan manusia ”Pe
mercaya Tuhan”.

Sedari kecil, seringkali saya bertanya kepada orang tua dan guru agama saya, ”Apa tujuan Tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isinya ini? Toh, bila Tuhan tidak menciptakan ini semua, Ia tidak akan merugi ataupun mendapat keuntungan yang berarti. Mengapa Ia menciptakan semua ini dalam waktu tujuh
hari? Bukankah akan lebih menakjubkan apabila Ia dapat menyelesaikan proyek-Nya hanya dalam waktu tiga hari atau bahkan satu hari saja?”

Bisa jadi orang-orang dewasa pada saat itu menganggap saya sebagai anak usia 6 tahun yang aneh, cerewet, dan keras kepala. Terlebih, dari sekian banyak siswa-siswi di sekolah saya pada waktu itu, hanya saya yang menanyakan hal-ha
l tadi yang umumnya tidak terlintas dalam pikiran anak kecil pada umumnya.

Lalu orang-orang dewasa tersebut hanya menjawab, ”Itu semua adalah rahasia Tuhan. Sesungguh-Nya Ia lebih mengetahui dari apa yang
kita (manusia) ketahui.”

Ketika itu sebagai anak berusia 6 tahun, tentu saya tidak merasa puas dengan jawaban tadi. Bahkan, hingga saat ini pun, di usia saya yang telah menginjak 17 tahun, jawaban yang saya dengar dari semua orang masih tetap sama dengan jawaban yang saya dengar ketika dulu berusia 6 tahun. Saya tidak mengerti, sepertinya semua orang merasa takut untuk sekedar mereka-reka jalan pikiran Tuhan. Seolah-olah akal pikiran mereka dimatikan oleh doktrin-doktrin agama tentang kerahasiaan Tuhan yang begitu mandarah daging. Seolah-olah mereka enggan menggunakan logika dan nalar berpikirnya untuk minimal mengetahui asal usul jagad raya ini. Paling tidak, bagi mereka yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan selalu memandang seg
ala sesuatunya secara empiris.

Perlu saudara ketahui, meskipun hal tentang Tuhan tadi masih menjadi misteri paling besar dalam hidup saya sekarang ini ─dan barangkali hingga saya mati kelak─, saya akan tetap memercayai keberadaan Tuhan.

Saya lanj
utkan pada misteri yang ke-2, yaitu ”cinta”.


Bagi yang sudah membaca postingan saya di entri sebelumnya berjudul ”Cinta dalam Opini” tertanggal 24 Juni 2009, mungkin sudah sedikit tahu tentang pencitraan cinta di mata saya. Bagi yang belum membaca, karena saya tidak mau lagi capek-capek menulis panjang lebar mengenai definisi cinta, saudara bisa membaca entri ”Cinta dalam Opini” tersebut. Harap maklum, saya agak ─bahkan mungkin sangat─ pemalas. (-_-)"

Baiklah, saya akan membahas misteri ke-3, yakni mengenai makhluk luar angkasa, atau yang pada umumnya disebut alien.

Sebagian orang mungkin menganggap hal ini lucu; seorang (calon) mahasiswa berusia 17 tahun sangat penasaran memikirkan hal-hal seperti alien, UFO, dan sebagainya. Tapi tak apalah, toh ini tulisan saya, dunia pemikiran saya... peduli
setan orang lain mau berkomentar apa.

Waktu SMP saya pernah membaca buku berjudul ”Misteri UFO”. Saya mendapatkan buku itu dari sebuah kios buku loakan. Tak ada alasan khusus, mengapa saat itu saya amat tertarik untuk membelinya... yang jelas, saya membeli buku itu karena harganya relatif murah, kalau tidak salah hanya Rp 10.000,00.


Buku loakan setebal 300-an halaman itu berisi tentang berbagai kisah penampakan UFO dan pengalaman-pengalaman orang yang pernah berinteraksi dengan alien, seperti Reka Ulang Ro
swell, Area 51, dan penampakan UFO di tengah pasukan udara Nazi Jerman saat Perang Dunia II. Entah, itu kisah nyata atau sekedar sensasi yang dibuat-buat. Jujur, hingga saat ini pun saya masih setengah percaya dengan kisah-kisah alien itu. Kalau memang itu hanya cerita yang dibuat-buat, biarlah cerita-cerita itu menjadi bagian dari alam imajinasi saya. Saya tidak akan merasa dibodohi oleh siapapun.

Cukup sekian entri saya kali ini. Yah, karena ini misteri... jadi saya tidak banyak mengetahui fakta tentang keberadaannya. Wajarlah jika kali ini saya tidak bercerita secara panjang lebar dan mendetail... hanya bercerita santai. Pada saat menulis kalimat penutup ini pun saya masih belum yakin tulisan ini layak untuk dibaca publik atau tidak.


Bekasi, 6 Juli 2009
Dewobroto Adhiwignyo